
Setelah kepergian Gerald, Dariush kembali lagi duduk bergabung dengan saudara yang lain. “Sudah ku bilang, pasti dia tak akan mau datang ke pesta seperti itu.” Bibir itu langsung memberi tahu hasil membujuk sepupunya yang kini berubah menjadi orang yang dingin.
“Kau pasti menyinggung masalah masa lalunya, ‘kan?” tebak Geraldine yang paling tahu dengan kebiasaan kembarannya saat memilih pergi begitu saja.
Dariush menyengir tanpa menunjukkan gigi, diiringi kedua alis yang disentakkan ke atas secara bersamaan. “Ku ajak baik-baik dia tolak, ku singgung malah kabur.”
Delavar dan Geraldine yang duduk di dekat Dariush pun otomatis menoyor kepala Dariush. “Pantas saja dia pergi.” Kedua orang itu mengomel secara bersamaan.
Dariush hanya mengangkat tangan yang membentuk isyarat peace. “Coba kalian yang membujuk Gerald, aku sudah menyerah.”
“Ikatan batin Geraldine lebih kuat dengan Gerald, mereka dari dalam rahim sampai besar pun hidup bersama. Kau pasti tahu cara mengajak dia agar datang ke pesta lajang,” ucap Marvel seraya menunjuk adiknya menggunakan dagu.
Seluruh anggota keluarga Dominique dan Giorgio memang merasa kasian dengan Gerald yang kini lebih senang menyendiri, dingin, dan jarang bersosialisasi. Sebisa mungkin, mereka akan mengusahakan agar Gerald bisa kembali seperti dahulu lagi. Tapi memang cukup sulit, karena pria itu lebih menutup diri.
“Nanti aku pikirkan caranya,” balas Geraldine.
Mereka pun melanjutkan perbincangan tentang acara minggu depan, setelah event organizer yang sejak tadi ditunggu itu sudah datang di mansion Danesh.
...........
Enam hari telah dilewati, Dariush dan Alceena kembali tinggal bersama setelah mereka tidur secara terpisah selama satu malam pada saat menyelesaikan urusan bersama keluarga masing-masing.
Setidaknya Dariush dan Alceena masih tetap bisa bermesraan. Menurut mereka, kadar keromantisan sebuah hubungan bukan terletak pada seberapa sering menyatukan tubuh yang menghasilkan suara khas. Namun, dinilai dari intensitas komunikasi, saling pengertian, dan keterbukaan. Walapun poin terakhir belum bisa keduanya penuhi karena masing-masing masih menyembunyikan sebuah rahasia, dan menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan.
Setidaknya, komunikasi dan saling pengertian sepasang kekasih itu masih terus berjalan sampai sekarang. Seperti pagi ini, Dariush tahu jika Alceena tak bisa memasak, maka dia yang akan menyiapkan makanan dan tak memaksa sang kekasih untuk belajar.
Sedangkan Alceena baru saja selesai mandi, dia masih menutup tubuh polos menggunakan handuk kimono. Wanita itu mengulas senyum saat memandang punggung kekar Dariush yang tak ditutup sehelai kain, dan tengah berkutat di dapur.
Insting Alceena membawa sepasang kakinya mendekat ke arah sang kekasih. Dia langsung memeluk Dariush dari belakang dan mencium punggung yang selalu harum. “Pagi, Sayang.” Sapaan itu mengalun dengan suara yang terdengar bahagia.
Dariush sudah biasa mendapatkan pelukan seperti itu, jadi tak terkejut lagi. Dia membalas ucapan selamat pagi seraya mengelus punggung tangan Alceena yang melingkar di tubuhnya. “Duduk dulu, makanannya belum matang,” pintanya agar sang kekasih tak lelah berdiri.
“Tidak mau, aku ingin menempel padamu seperti ini.” Namun wanita itu menolak. Alceena justru mengintip ke arah kompor. “Kau tak mau sekali-kali ku masakkan?” tanyanya kemudian.
...*****...
...Kontrakan di Pluto atau Mars berapa sih? Kalo mereka berdua gamau pergi, biar aku aja yang cabut deh. Lelah hayati liat kebucinan ini. Tolonggggg somasi mereka juga dong Farhat Abbas, biar sekalian....
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...