
Setelah menyelesaikan makan siang, Alceena meninggalkan Dariush begitu saja. Dia masuk ke dalam kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dan Dariush hanya bisa menghela napas agar tetap menjaga kesabaran menghadapi kekasihnya. “Aku harus tahan menghadapi ini, semua yang terjadi adalah akibat dari ulahku sendiri.”
Sebelum menyusul, Dariush membersihkan meja makan terlebih dahulu. Setelah itu, tak lupa minum air mineral sebanyak mungkin karena tenggorokannya terasa sangat sakit.
“Sepertinya aku harus segera ke dokter, sebelum lambung dan tenggorokanku bermasalah karena makan masakan Alceena,” gumam Dariush sangat lirih seraya mengusap leher. Dia hanya berani berbicara seperti itu ketika tak ada tersangka yaitu koki amatir si mantan primadona.
Walaupun sudah minum banyak, tetap saja tak merubah apa pun. Dariush tetap masih tidak nyaman. Tapi pria itu berusaha untuk mengabaikan terlebih dahulu. Dia harus berhasil membujuk sang kekasih.
Anak Tuan Dominique mengayunkan kaki menuju kamar, menyusul Alceena. Dia langsung bisa menangkap sang kekasih yang sedang tidur dalam posisi miring, serta tengah bermain ponsel.
Dariush menutup pintu perlahan dan langsung memposisikan diri di balik punggung Alceena. Memeluk wanita itu dari belakang seraya mengusap perut sang kekasih hingga anak-anaknya membalas dengan sebuah tendangan.
“Sayang, apa kau tak merasakan kalau anak-anak kita memberontak? Mereka sepertinya ingin Mommy berbicara dengan Daddy.” Dariush memaksa satu tangan Alceena untuk ikut memegang perut dan merasakan gerakan yang diberikan dari bayi di dalam kandungan wanita itu. “Coba kau rasakan, tendangan mereka sangat kuat.”
Alceena menarik tangannya begitu saja. Tetap tidak mau mengeluarkan suara apa pun.
Dan hal tersebut sungguh membuat Dariush frustasi serta rasanya kehabisan akal untuk membujuk dengan cara apa lagi. Dia diabaikan, justru sang kekasih memilih untuk asyik bersama ponsel.
“Mungkin kau butuh waktu sendiri karena terlalu terkejut setelah mendengar kenyataan yang sebenarnya.” Dariush menarik laci nakas yang ada di samping ranjang, mengambil ponsel yang sengaja dimatikan. Niatnya datang ke Swiss Alps ingin liburan tanpa gangguan, tapi ternyata justru didiamkan dan dia tak bisa melakukan apa pun. Maka, lebih baik menghidupkan ponselnya lagi saja.
Dariush mengayunkan kaki menuju pintu, dan Alceena hanya melirik pria itu. Namun, saat anak Tuan Dominique itu berbalik, si rambut singa segera memfokuskan pandangan pada ponsel lagi.
“Aku akan memberikan kau waktu untuk sendiri, silahkan pikirkan lagi bagaimana hubungan kita ke depan. Apa kau ingin mengakhiri ini atau terus lanjut. Semua ku serahkan pada keputusanmu,” ucap Dariush sebelum benar-benar meninggalkan Alceena.
“Tapi ada yang harus kau pertimbangkan. Anak-anak kita butuh sosok orang tua. Walaupun aku tahu kalau kau bisa merawat mereka sendiri, namun tetap saja butuh figur seorang Daddy.” Setelah mengucapkan itu, Dariush sungguh keluar dan menutup kembali pintu.
Alceena hanya menyaksikan punggung sang kekasih yang sudah tak bisa dilihat lagi. “Menyebalkan sekali!” gerutunya. Entah apa maksud dari ucapan tersebut, hanya dia yang tahu.
Sementara itu, Dariush bukan pergi meninggalkan Alceena untuk kembali ke Helsinki, tapi hanya berpindah duduk di sofa. “Sepertinya aku harus meminta bantuan pada Daddy, untuk membantu mencari cara agar membuat kekasihku berhenti marah.”
...*****...
...Daddy Davis ni buka aja jasa untuk memikirkan ide licik, kayanya bakalan laku deh wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...