
“Apa yang ingin kalian sampaikan?” tanya Papa Danzel. Matanya terus mengamati satu persatu anaknya. Nampak tegang semua, tak ada yang santai. Hawa tidak enak sungguh terpancar di sana.
Alceena menghela napas, dia ingin menceritakan masalah yang baru saja diketahui saat di Munich. Tapi, ada yang lebih cocok untuk mengungkap pada orang tuanya. “Selena, tolong kau beri tahu Mama dan Papa,” pintanya seraya menatap sang kakak.
Papa Danzel dan Mama Gwen pun mengalihkan pandangan pada anak tertua mereka. Alis keduanya sama-sama terangkat karena Selena terlihat sedih.
“Are you ok, Selena?” tanya Mama Gwen. Walaupun di matanya bisa melihat jika anaknya sedang tak baik-baik saja.
Selena menggigit bibir bawah. Hatinya sedang berbedar karena takut membuat orang tuanya kecewa dengan perbuatannya yang sudah hamil dengan mantan calon suami adiknya sendiri.
“Ceritakan semua, ini sudah waktunya, jangan ditutupi terus,” bisik Aldrich yang duduk di samping sang kakak.
“Ma, Pa.” Selena menatap orang tuanya terlebih dahulu. “Maafkan aku,” ucapnya dengan bibir yang bergetar dan air mata menetes melewati pipi begitu saja.
“Kenapa? Apa kau membuat kesalahan?” Mama Gwen bertanya dengan pikiran yang bingung.
Selena menganggukkan kepala. “Aku hamil,” ungkapnya seraya mengelus perut.
Mama Gwen dan Papa Danzel terlihat biasa saja saat mendengar berita itu. Karena merasa hamil adalah sebuah anugerah, bukan musibah.
“Bagus, dong. Kenapa kau harus bersedih dengan kehamilanmu? Apa kau dilecehkan oleh orang lain? Atau tak menginginkan janinmu?” tanya Papa Danzel. Untuk saat ini matanya hanya fokus pada anak tirinya yang saat kecil sangat manis, penurut, dan menggemaskan, serta dia rawat selama lebih dari dua puluh tahun.
Selena menjawab dengan anggukan, lalu berubah menjadi gelengan kepala. Dia memang dilecehkan dan dipaksa pada malam itu, tapi dirinya menginginkan janin itu.
Jawaban Selena tentu saja membuat Mama Gwen dan Papa Danzel bingung.
“Aku menginginkan janin ini, Pa,” jawab Selena dengan wajah sendu diiringi mengelus perut.
“Ya sudah, besarkan jika kau memang menerima kehamilanmu,” tutur Mama Gwen. “Lalu, di mana letak masalahnya? Kenapa sejak tadi wajahmu terlihat muram?”
“Apa pria itu tak mau bertanggung jawab padamu?” timpal Papa Danzel mencoba menebak sebelum anaknya menjawab.
Selena menggelengkan kepala, tapi belum mengeluarkan suara.
Alceena gemas sekali dengan Selena yang tak langsung menjelaskan pada intinya. Dia meniup udara ke atas karena terlalu bosan mendengarkan sang kakak yang lemah lembut seperti Mamanya. “Maaf, aku menyela. Kita tak akan cepat selesai jika terus seperti ini.”
Alceena yang sejak tadi duduk santai bersandar pada sofa, akhirnya berubah menjadi tegak. Menatap kedua orang tuanya dengan wajah tegas.
“Selena hamil anak Brandon Brooks, mantan calon suamiku. Dan kejadian mereka terjadi saat Selena dan Aldrich ada pekerjaan di Munich, tiga minggu sebelum aku menikah.” Pada Akhirnya, Alceena juga yang menjelaskan. Padahal dia ingin memberikan ruang pada sang kakak untuk jujur pada orang tua mereka, tapi sejak tadi tak kunjung diungkap oleh Selena.
Mama Gwen dan Papa Danzel otomatis membulatkan mata. Bingung sudah pasti. Terkejut apa lagi. Kecewa tentu saja.
“Kenapa kau melakukan itu pada adikmu? Mama tak pernah mengajarkan kalian untuk saling menikam dari belakang,” tanya Mama Gwen.
...*****...
...Khilaf Mama. Maap, soalnya keenakan wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...