My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 84


“Nanti saja waktu makan siang akan ku beri tahu,” ucap Cathleen. Dia tak ingin saat mengobrol serius dengan Alceena, akan berakhir terjeda seperti tadi lagi. Ditambah suara dari sound yang cukup keras juga membuat daya serap telinga pastinya kurang fokus pada apa yang akan dia sampaikan.


“Oke.” Alceena tak memaksa. Dia juga tahu jika sebentar lagi Cathleen harus pemaparan projek.


Waktu pun terus bergulir. Pemandu acara sudah menjeda kegiatan karena saatnya jam makan siang. Alceena menagih pada Cathleen untuk melanjutkan perbincangan. “Kita mengobrol di restoran saja, Cath. Aku ingin makan di sana,” ajaknya seraya melingkarkan tangan pada lengan keturunan terakhir keluarga Pattinson.


“Tunggu Madhiaz, karena aku ingin berbicara sangat penting.” Cathleen mencegah kembarannya yang ingin mengajaknya keluar dari ballroom.


Alceena mengedarkan pandangan untuk mencari Madhiaz, ternyata masih duduk. “Dia saja sedang mengobrol dengan orang lain, pasti akan lama.”


“Sabar sebentar, Ceen.” Cathleen mengelus lengan yang mulus milik wanita di sampingnya.


Alceena menghela napas, perutnya sudah lapar. “Kita panggil saja dia. Kalau menunggu selesai, bisa jadi sampai anakku berdemo meminta makan.”


Anak kedua Tuan Pattinson pun melepaskan rangkulan tangannya, memilih mengayunkan kaki untuk mendekati Madhiaz.


“Maaf mengganggu pembicaraan kalian yang terlihat serius. Bolehkah aku membawa Madhiaz sebentar? Ada urusan penting yang ingin ku sampaikan.” Alceena meminta izin terlebih dahulu kepada lawan bicara kembarannya. Dia tak langsung menarik kakaknya, sebab itu tak sopan dan pasti akan meruntuhkan citranya karena bisa saja dianggap arogan.


“Oh, silahkan.”


Setelah diberikan izin, barulah Alceena meraih tangan Madhiaz untuk dituntun menuju Cathleen yang sudah menunggu di dekat pintu keluar ballroom.


“Ada apa kau mengajak keluar?” tanya Madhiaz karena tak biasanya Alceena seperti ini.


Alceena mengedikkan bahu. “Cathleen ingin berbicara serius, katanya penting.”


Ketiga anak kembar keluarga Pattinson pun jalan beriringan menuju restoran. Mereka memesan makanan terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan.


Madhiaz dan Alceena menatap ke arah Cathleen. “Jadi, apa yang ingin kau sampaikan?” tanya keduanya bersamaan.


Cathleen memasang wajah serius. “Kalian pasti terkejut mendengar fakta ini.”


“Ya.”


Alceena yang tak mendapatkan pesan sendiri pun melongo. “Sepertinya aku ketinggalan berita.”


“Oke, Ceena, kau harus siap mendengarkan ini,” peringat Cathleen.


Alceena mengangguk. “Sedari tadi pun aku sudah siap mendengarkan, tapi kau tak kunjung berbicara pada intinya.”


Cathleen mengedarkan pandangan ke penjuru restoran, mencondongkan badan ke depan dan meminta dua kembarannya kian mendekat untuk mendengarkan suaranya yang berbisik.


“Selena hamil anak Brandon Brooks,” ungkap Cathleen dengan sorot mata yang masih terkunci pada Alceena.


“Lalu kenapa jika dia hamil dengan mantan calon suamiku? Toh aku sudah tak memiliki hubungan apa pun dengan pecundang itu.” Alceena masih menanggapi dengan santai.


Madhiaz yang gemas karena adiknya itu menjeda ucapan Cathleen pun mencubit bibir Alceena. “Biarkan dia menyelesaikan informasinya, kau diam dulu.”


Alceena mengangguk dan sungguh diam tak mengeluarkan suara.


“Lanjut,” titah Madhiaz pada Cathleen.


“Masalah kedua adalah usia kehamilannya sudah hampir tiga bulan, artinya saat dia dan Aldrich ada pekerjaan di Munich. Kita tarik kesimpulan, berarti Selena dan Brandon melakukan hubungan intim saat kau—” Cathleen berhenti berbicara karena menunjuk Alceena. “Dan Brandon Brooks sudah merencanakan pernikahan,” imbuhnya kemudian.


...*****...


...Jeng jeng jeng nah loh, Alceena kira-kira bakalan ngamuk ga ya?...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...