
“Tidak, aku baik-baik saja dengan Cathleen.” Alceena menjawab pertanyaan Madhiaz. Dia memang tidak bertengkar dengan kembarannya, tapi sepertinya Cathleen kecewa dengan Alceena.
“Kau yakin?” Papa Danzel mempertegas lagi. Dia tidak senang jika anak-anaknya memiliki hubungan yang tak baik.
Alceena mengangguk kecil. “Aku coba ke atas untuk bertanya dengan Cathleen kenapa pulang dengan wajah yang bersedih,” pamitnya.
Alceena pun meninggalkan anggota keluarganya, menaiki anak tangga dan berhenti di depan pintu kamar Cathleen. Kepalan tangan itu mengetuk kayu dengan cat berwarna putih. “Cath? Boleh aku masuk?”
Tak ada tanggapan, Alceena kembali mengulangi ketukan pintu dan memanggil Cathleen.
“Aku masuk, ya?” Alceena hendak membuka pintu, tapi ternyata dikunci dari dalam.
Tangan Alceena mengacak-acak rambut. “Aku tidak senang dengan situasi seperti ini,” gumamnya merutuki kecerobohan hari ini.
Alceena memikirkan cara agar bisa bertemu dan menjelaskan dengan Cathleen. “Lewat balkon,” celetuknya saat memingat bahwa balkon mereka saling terhubung.
Alceena masuk ke dalam kamarnya, menuju balkon, dan kini dia berdiri di depan pintu kaca yang tertutup gorden. “Sial! Sama saja dikunci,” gerutunya.
“Sepertinya Cathleen sungguh marah denganku.” Alceena lagi-lagi berbicara dengan dirinya sendiri.
Alceena tidak bisa berdiam di tempat. Terus saja memikirkan agar bisa berkomunikasi dengan Cathleen. Dan akhirnya, mata pun mendapatkan ide brilliant. Jendela kamar kembarannya sedang terbuka.
Alceena segera menuju ke arah jendela yang berukuran besar. Menyibakkan gorden dan kini mata pun bisa melihat Cathleen yang sedang tidur dengan posisi menelungkup, serta bahu terlihat naik turun seperti orang yang sedang menangis.
Alceena tak bisa masuk ke dalam kamar Cathleen karena jendela memiliki tralis besi yang kuat. Sehingga dia akan berkomunikasi dari luar saja. Setidaknya Cathleen masih bisa mendengar.
Kali ini Alceena sungguh merasa tak enak hati. “Cath, maafkan aku jika sudah membuatmu bersedih.” Dia yakin betul kalau suara itu bisa terdengar di telinga Cathleen.
Masih tak ada tanggapan, Alceena bersuara lagi. “Please, jangan menangis sendiri, buka pintunya.” Wanita itu meminta dengan suara yang terdengar sangat memohon.
Alceena ingin memeluk Cathleen jika sedang seperti ini.
“Pergilah, Ceena. Aku sedang ingin sendirian, tolong jangan ganggu aku.” Dengan suara terisak, Cathleen mengusir Alceena.
“Tidak, Cath. Kau harus mendengarkan penjelasanku dulu,” tolak Alceena yang ingin segera menuntaskan kesalahpahaman itu.
“Apa lagi yang ingin kau jelaskan? Aku sudah melihatmu jalan berdua dengan Dariush. Kau mengingkari janjimu sendiri.” Cathleen berbicara masih dengan posisinya yang menelungkup beserta derai air mata yang membasahi spreinya.
“Look at me, please,” pinta Alceena. Berkomunikasi dengan jarak yang tidak dekat, ditambah posisi Cathleen yang menelungkup, membuatnya kurang bisa mendengar dengan jelas.
Cathleen merubah posisi menjadi duduk. Memeluk kedua kaki dan menatap Alceena yang berada di luar jendela. Tatapannya terlihat nanar dan penuh kesedihan. “Kita memang selalu berakhir seperti ini, Ceena. Aku akan selalu kalah denganmu jika masalah pria. Sudah biasa juga sakit hati karena mereka lebih memilih kau.” Dia memukul dada dengan kuat. “Jika bisa memilih hidup, aku tak ingin terlahir menjadi anak kembar jika berakhir seperti ini terus. Menjadi bayang-bayangmu disaat kau adalah pusat perhatian seluruh orang.”
Alceena yang mendengar ungkapan Cathleen pun ikut menitikan air mata. Merasakan bagaimana kesedihan kembarannya.
...*****...
...I feel you Cath. Sedih banget pasti di posisi dia. Please jangan hujat Cathleen. Dia pasti orang baik yang gak mungkin ngejatohin nama baik sodaranya sendiri. Yang ngeselin biar si Fenny titisan Sadako Yamamura aja wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...