My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 127


Alceena keluar dari bangunan utama mansion Pattinson. Dia mencari supir pribadinya yang sejak masa kehamilan akan mengantarkan kemanapun.


“Sir, ayo kita pergi,” ucap Alceena pada seorang pria berusia empat puluh tahun, sedang duduk bersama supir lainnya di dekat deretan mobil yang berjajar rapi.


Supir pribadi Alceena segera berdiri. “Siap, Nona.” Dia membukakan pintu belakang untuk majikannya masuk. Barulah dia berani duduk di balik kursi kemudi setelah memasukkan koper ke bagasi. “Anda ingin diantar ke mana, Nona?” tanyanya seraya melihat dari spion depan, menampilkan sosok orang yang memberikan gaji padanya.


“Jalan saja dulu, nanti ku beri tahu jika sudah ada tujuan,” jawab Alceena seraya memainkan ponsel. Dia sedang mencari informasi beberapa apartemen yang dijual untuk menjadi pilihan tempat tinggalnya.


Sudah dua jam kendaraan roda empat itu bergerak di atas jalan raya, tapi Alceena tak kunjung memberitahukan tujuan.


Sebagai orang yang hanya menuruti kemauan majikannya pun supir itu tak menegur Nona Alceena. Dia justru membawa mobil untuk memutari seluruh Kota Helsinki.


Hingga akhirnya kendaraan milik Alceena itu tiba-tiba berhenti di jalan, untung saja tepat saat di lampu merah serta berada di tepi.


Alceena yang masih fokus ke ponsel, tak menyadari jika ada yang tidak beres dengan kendaraannya.


“Nona, maaf, mobilnya mati,” beri tahu supir itu.


Sampai pada saat sang supir memberi informasi tersebut, barulah Alceena menghentikan aktivitas pencarian apartemen di internet. “Bagaimana bisa? Ini mobil baru, tidak mungkin rusak.”


Supir itu nampak menundukkan kepala karena merasa bersalah. “Maaf, Nona. Selama Anda ke Munich, saya tidak mengisi daya listrik mobil ini.”


Alceena menghembuskan napas. Ingin marah, tapi supirnya sudah memperlihatkan rasa bersalah. “Di mana tempat isi daya listrik mobil yang terdekat?”


“Ada kurang lebih satu kilometer lagi dari sini.”


“Oke, kita ke sana!” titah Alceena dengan tegas.


“Mobil ini sudah tak bisa melaju lagi, Nona.”


“Baik, Nona.” Supir itu pun turun dan meminta bantuan kendaraan roda empat yang sedang berhenti di lampu merah itu juga. Tak lama kemudian, kembali lagi.


“Maaf, Nona, mereka tak ada yang mau membantu.”


“Ck! Pelit sekali jadi manusia,” gerutu Alceena.


“Saya akan telepon penderek.” Supir itu menghubungi nomor beberapa penyedia jasa untuk derek mobil. Namun, lagi-lagi dia memasang wajah bersalah. “Semua sedang sibuk, Nona. Tidak ada penderek yang bisa membantu,” beritahunya.


Alceena menghembuskan napas dan menyandarkan tubuh. “Apakah ini akibat dari aku yang bersikukuh keluar mansion saat Mama tak mengizinkan?” gumamnya, dan tak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut.


“Hidupkan lampu hazard, aku akan berpikir mencari jalan keluar!” titah Alceena. Dia memejamkan mata sejenak agar pikiran jernih dan ide-ide bermunculan.


Tak ada ide yang terlintas untuk memecahkan masalahnya itu. Hanya satu nama saja yang terus teringat dalam pikiran Alceena. “Dariush? Apa dia mau membantuku?” gumamnya.


Alceena menggelengkan kepala. “Bisa-bisa dia berpikir jika aku hanya menghubunginya saat butuh saja.” Dia menampik karena tak enak jika dipandang buruk oleh Dariush, kalau datang saat membutuhkan saja.


Namun, hanya nama Dariush yang terpikirkan oleh Alceena. Dia kembali menggenggam ponsel, membuka whatsapp dan mengetik nama pria itu. “Semoga kau mau membantuku.”


Akhirnya, Alceena pun menggigit bibir bawah saat nada sambung mulai terdengar.


“Halo, Sayang. Ada apa? Kau sudah mulai merindukanku?” Dariush langsung menyapa dengan suara berat penuh percaya diri.


...*****...


...Aku yang kangen Dar, bukan Ceena. Alceena mah hubungin karna butuh aja wkwkwk...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...