
Sembari mengunyah makanan yang disuapi oleh Dariush, Alceena mengabadikan pemandangan di sepanjang perjalanan yang dilewati oleh kereta api tersebut.
“Sudah, aku kenyang,” tolak Alceena saat Dariush tak henti-hentinya menyodorkan makan ke mulutnya terus.
“Satu kali lagi,” bujuk Dariush dengan sedikit memaksa.
Mau tak mau, Alceena yang masih menikmati pemandangan di luar pun membuka mulut dan menerima suapan. Tapi, lagi-lagi Dariush menyodorkan garpu berisi spaghetti. Seketika itu juga mata wanita tersebut melirik ke arah sang kekasih.
“Perasaan sejak tadi aku makan terus, tapi kenapa tak habis-habis?” gerutu Alceena yang sudah tak kuat lagi menampung makanan.
“Karena ini.” Dengan santai dan tak merasa bersalah, Dariush menunjuk meja yang ada di hadapannya.
Alceena langsung melotot setelah menghitung jumlah alat makan kotor yang ada di sana. “Apa aku yang menghabiskan semua makanan itu?”
“Benar.” Dariush mengangguk tak berdosa.
“Ha? Kau memberiku makan tujuh hidangan sekaligus? Pantas saja perutku sekarang terasa begah,” gerutu Alceena seraya mencubit lengan Dariush karena pria itu tak kira-kira saat memesankan makanan.
“Lagi pula kau makan banyak juga tak membuatmu gemuk. Hanya perut saja yang semakin buncit,” tinpal Dariush tak mau disalahkan. Sembari tangannya mengelus perut Alceena.
“Tapi jangan terlalu banyak juga. Aku ingin melahirkan secara normal, nanti kalau anak-anakku ukurannya terlalu besar, pasti dokter akan menyarankan dengan jalan operasi. Dan aku tak mau itu,” beri tahu Alceena tentang rencana proses persalinannya yang mungkin akan berlangsung tiga bulan lagi.
“Mau normal ataupun operasi, keduanya sama-sama akan menjadi Mommy.” Masih saja Dariush bisa membalas ibu hamil satu itu.
“Ya memang, tapi proses penyembuhan setelah melahirkan yang aku pikirkan. Kalau normal, akan cepat pulih. Sedangkan operasi bisa sampai hitungan bulan atau tahun. Apa lagi bekasnya tak mudah hilang.”
“Iya, lain kali akan ku kurangi porsinya.” Akhirnya Dariush memilih mengalah juga, tak mengeyel lagi. “Minum dulu.” Dia menyodorkan botol air mineral yang sudah dibukakan tutupnya.
“Kau tak ada niatan untuk membalas memberikan aku makan dalam jumlah banyak, ‘kan?” tebak Dariush seraya mengunyah.
“Memangnya aku ada tampang jahil sepertimu?” balas Alceena dengan menunjuk wajahnya sendiri.
“Tidak.” Dariush menggelengkan kepala setelah meneliti setiap jengkal pahatan cantik kekasihnya.
“Yasudah, mana mungkin aku membalas keisenganmu,” balas Alceena seraya tangan terus menyuapi Dariush.
‘Memang kau tak ada wajah jahil, tapi anak di dalam kandunganmu pasti memiliki gen usilku,’ gumam Dariush dalam hati.
Benar saja, baru juga dibatin, Alceena sudah membalas keisengan Dariush yang memberi makan tujuh hidangan berbeda. Wanita itu terus menyuapi, padahal yang di dalam mulut saja belum tertelan.
“Wait.” Dariush sampai memberikan isyarat menggunakan tangan agar berhenti. Karena dia sulit berbicara secara jelas ketika mulut penuh makanan.
“Nah, rasakan, tak enak ‘kan disodorkan makan terus menerus.” Alceena menjulurkan lidah seraya memberikan botol air mineral pada kekasihnya.
Namun, Dariush tak marah sedikit pun. Dia sadar diri kalau sifat itu pasti dari dorongan anak-anak di dalam perut Alceena. Pria itu justru menciumi bagian tubuh sang kekasih yang buncit. “Kalian puas mengerjai Daddy?” bisiknya seperti mengajak bicara anak-anaknya. Dan langsung mendapatkan jawaban berupa tendangan dari dalam.
...*****...
...Untung kamu makannya di kereta Ceen. Porsinya pasti ga jumbo-jumbo amat. Kalo porsi jumbo, jangan-jangan tar pas lahiran, anakmu langsung jadi sumo kali ya wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadihanya bestie...