My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 48


Papa Danzel tak kunjung mendapatkan jawaban dari Alceena. Anaknya itu justru tengah menatap ke arah Cathleen dengan sorot yang nampak melamum.


“Ehem!” Papa Danzel berdeham hingga membuat Alceena kembali fokus ke pembicaraan penting tersebut. “Jika diantara kalian tak ada yang mau mengalah, aku akan mencoret nama Dariush dari daftar calon menantu. Siapapun diantara kalian tak akan mendapatkan restuku. Papa tak mau melihat anak-anakku yang cantik ini saling iri, dan memiliki hubungan yang tak baik dengan saudara. Lebih baik kalian lupakan keturunan keluarga Dominique itu, dan carilah pria lain. Asal bukan orang yang sama lagi.”


“Tidak perlu dicoret dari daftar calon menantu. Aku memang sudah berjanji dengan Cathleen agar tak menyukai Dariush demi kebahagiaan saudari kembarku.” Alceena mengelus perutnya seraya menghela napas. “Toh aku sedang mengandung juga, mana mungkin Dariush mau dengan wanita yang sudah hamil anak orang lain. Jadi, tak perlu membesarkan masalah ini. Aku akan hidup bahagia bersama anakku,” jelasnya.


“Jadi, inseminasimu berhasil?” tanya Papa Danzel dan Cathleen bersamaan.


Alceena mengulas senyum bahagia seraya menganggukkan kepala. “Iya, sebentar lagi kalian akan mendapatkan anggota keluarga baru.”


“Syukurlah, jadi nama baikmu bisa kembali lagi setelah ini,” tutur Cathleen seraya mengelus perut kembarannya. Dia menarik kedua sudut bibir karena ikut bahagia mendengar berita kehamilan Alceena.


Papa Danzel kini bisa tersenyum melihat kedua putrinya sudah berbaikan lagi. “Tidak ada perang saudara lagi, ya? Kalian harus berjanji akan selalu menjaga satu sama lain,” pintanya seraya mengelus rambut Alceena dan Cathleen bersamaan.


“Aku berjanji.” Alceena dan Cathleen melontarkan hal yang sama.


Papa Danzel pun meminta kedua putri kembarnya untuk saling berpelukan. Berharap agar ikatan bathin mereka tak luntur, dan tetap rukun.


...........


Satu setengah bulan berlalu, usia kehamilan Alceena kini menginjak delapan minggu. Dia sudah mulai merasakan tersiksanya mual di pagi hingga siang hari sejak beberapa minggu yang lalu. Alceena juga sebisa mungkin menghilangkan keinginannya yang ingin bertemu dengan Dariush. Takut jika kejadian terakhir kali akan terulang lagi.


Hubungan Alceena dengan Cathleen dan juga Aldrich baik-baik saja selama itu. Semua berjalan seperti biasa. Kecuali perasaannya yang setiap hari mendadak merindukan Dariush.


Kini Alceena sedang duduk di meja makan bersama keluarganya untuk sarapan. Tangan tiba-tiba menutup mulut saat hidung menghirup aroma makanan di hadapannya, perut seketika merasakan gejolak yang membuatnya tersiksa.


Alceena segera meninggalkan kursi untuk menuju wastafel terdekat. Memuntahkan seluruh isi perut. “Ternyata hamil tak semudah yang aku pikirkan,” gumamnya yang saat ini merasa lemas.


Alceena kembali duduk di meja makan. Walaupun tak suka dengan bau hidangan pagi ini, tapi tetap saja perut harus terisi.


“Kau baik-baik saja, Ceena?” tanya Cathleen seraya memijat tengkuk kembarannya.


“Minum obat yang diberikan oleh dokter untuk meredakan mualmu. Istirahat saja jika kau masih tak enak badan, jangan dipaksa untuk bekerja.” Mama Gwen mencoba memberikan nasihat demi kebaikan putrinya.


“Di mansion terus justru membuatku semakin pusing kalau tak melakukan apa pun. Sudah terbiasa bekerja, jika banyak istirahat justru tak nyaman,” kilah Alceena seraya memaksakan diri untuk melahap hidangan pagi.


Seluruh anggota keluarga Pattinson pun sarapan dengan keheningan. Tidak ada yang memberikan arahan lagi pada Alceena.


“Aku berangkat dulu,” pamit Alceena setelah memakan setengah makanannya.


“Kau kuat bekerja, Ceena? Jika tidak, aku bisa menggantikanmu.” Madhiaz mengajukan pertanyaan seraya memberikan penawaran. Melihat adik kembarnya yang seperti tersiksa saat hamil muda, membuatnya kasian dan tak tega.


“Aku tak selemah itu, nanti jika sudah siang juga sembuh sendiri,” balas Alceena. Dia menggeser kursi ke belakang dan segera berdiri meninggalkan anggota keluarganya.


Jika biasanya Alceena senang mengendarai mobil sendiri. Kini dia selalu meminta bantuan supir karena gejolak perut yang masih tak menentu itu membuat dia kurang nyaman. Kendaraan roda empat tersebut sudah menyusuri jalan raya.


“Tolong lewat depan anak perusahaan Triple D Corp yang ada di daerah business corridor seperti biasanya!” titah Alceena pada supirnya. Itu adalah lokasi tempat bekerja Dariush.


...*****...


...Kencangkan sabuk pengannya bestie, biar ga jatoh. Roller coasternya mau jalan naik, nanti kalau tiba-tiba ku jatohin ke dasar biar tetap sehat jantungnya hehehe....


...Gimana clue penyebar rumornya? Memusingkan bukan? Wkwkwk. Udah ada yang jawab bener sih orangnya, cuma motifnya masih salah dan kaya belum yakin gitu, ayo coba lagi ditebak bestie. Jangan lupa motifnya juga, selagi belum keungkap pelakunya nih masih ada kesempatan buat nebak...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan kirim hadiah ya bestie...


...*****...


...Mampir ke karya temenku juga yuk, judulnya Cinta Tulus Sang CEO, karya author Erna Surliandari...