
Alceena turun dari mobil Dariush, dia hanya membawa tas berisi barang-barang berharga. Tak ada pakaian ganti di dalam tas berukuran kecil yang ditenteng oleh wanita itu. Sebab, anak kedua Tuan Pattinson tak membawa keluar seluruh bajunya dari mansion.
Tepat sekali saat Alceena menutup pintu, Cathleen keluar dari arah dalam mansion. Kedua wanita itu saling beradu pandang dengan jarak lima meter. Alceena sebisa mungkin tetap tenang.
Sedangkan Cathleen terlihat senang ketika melihat sang kembaran datang. Dia segera berlari ingin memeluk Alceena. Wanita itu langsung merengkuh kakaknya dengan perasaan rindu. “Akhirnya kau pulang juga.”
Alceena mengusap punggung Cathleen. “Setiap akhir pekan aku selalu pulang, kau seperti tak pernah ketemu aku saja.”
“Terbiasa tinggal setiap hari di mansion yang sama, jadi masih membiasakan diri kalau tak ada kau,” balas Cathleen. Matanya sejak tadi menelisik mobil yang mengantarkan Alceena. Dia baru melihat kendaraan tersebut. “Mobilmu baru?”
Mendengar pertanyaan dari kembarannya, membuat Alceena segera melepaskan pelukan tersebut. Membalik tubuh untuk melihat Dariush. Ternyata pria itu sejak tadi masih di sana, belum pergi.
“Iya.” Alceena menjawab seraya mengibaskan tangan agar Dariush segera melajukan kendaraan.
Dari dalam mobil, Dariush tertawa karena berhasil membuat Alceena panik. Dia sengaja tetap di sana karena melihat Cathleen keluar. “Pasti dia sangat menyayangi kembarannya, sampai memikirkan bagaimana perasaan Cathleen jika patah hati karena hubunganku dan Alceena,” gumamnya setelah menilai sang kekasih yang sering terlihat tak enak hati kalau sudah menyangkut anak terakhir Tuan Pattinson.
Dariush baru melajukan kendaraan roda empat tersebut. Dia tak ingin merusak hubungan persaudaraan kekasihnya. Toh sudah menyiapkan rencana agar Cathleen bisa mengenal banyak pria juga.
Alceena melingkarkan tangan di lengan Cathleen. “Ayo masuk,” ajaknya agar sang adik tak memandang mobil Dariush terus.
“Hm.” Cathleen mengayunkan kaki bersamaan dengan Alceena. “Tumben kau membuat plat nomor kendaraan custom, bukankah kau tak suka karena pajaknya sangat besar?” Tiba-tiba mulutnya penasaran tentang hal tersebut. Sejak tadi, dia mengamati kendaraan yang nampak asing baginya. Apa lagi mobil yang diakui milik Alceena itu tak diparkir, justru keluar lagi.
“Sekali-sekali tak masalah,” kilah Alceena sangat meyakinkan.
Nyonya Pattinson yang baru saja keluar dari kamar dan melihat anaknya datang pun segera menghampiri Alceena. “Mama rindu padamu, Ceena.” Dia berbicara seraya memeluk.
Kehadiran Alceena membuat kedua orang tuanya gembira. Dan itulah sebabnya dia selalu menyempatkan pulang walaupun hanya seminggu satu kali.
“Kenapa sepi sekali? Papa dan Madhiaz ke mana? Aldrich tak pulang?” tanya Alceena setelah pelukan diakhiri.
“Mereka bertiga di kamar Selena,” jawab Mama Gwen seraya menunjuk lantai dua.
Alceena menaikkan sebelah alis. “Memangnya Selena kenapa?”
Mama Gwen menggandeng kedua anaknya, dia berjalan diapit oleh Alceena dan Cathleen. “Sejak gugatanmu menang di pengadilan minggu lalu, dan Brandon masuk penjara, dia tiba-tiba jatuh sakit.”
Alceena jadi tak enak hati karena mengakibatkan sang kakak tidak berdaya. Tapi mau bagaimana lagi? Memang harus seperti itu agar Brandon putus dari ekstasi yang bisa merugikan Selena dikemudian hari.
Dan Alceena menggelengkan kepala. “Nanti saja, biar dia istirahat dulu.”
“Oke.” Mama Gwen mengajak kedua putrinya untuk duduk di meja makan. “Pasti kau belum sarapan, ‘kan?”
“Belum.” Alceena memposisikan pantat senyaman mungkin. Dia memang belum makan, tapi pagi ini sudah dimakan oleh kekasihnya.
“Masih ada sisa sarapan, kau makan saja dulu,” titah Mama Gwen dari belakang sang anak. Dia mengusap kedua lengan Alceena dengan penuh kasih sayang. “Aku mau ke kamar Selena,” imbuhnya berpamitan.
Alceena hanya menjawab dengan anggukan. Dia mengambil makanan ke atas piring untuk dilahap.
“Cath, kau mau ikut ke atas atau di sini?” Sebelum meninggalkan kedua putrinya, Mama Gwen bertanya pada anak terakhir.
“Di sini saja, aku masih rindu dengan Alceena,” jawab Cathleen.
Mama Gwen mengayunkan kaki menuju lantai dua. Dia tahu kalau anak terakhirnya sedikit kesal dengan Selena. Cathleen masih menganggap kepergian Alceena adalah ulah Selena yang egois.
“Kau tak makan juga?” tanya Alceena pada Cathleen yang sedari tadi menatapnya terus menerus.
Cathleen bergeleng kepala. “Sudah kenyang.”
“Oh.” Alceena membalas dengan singkat. Namun, tangannya menyusup masuk ke dalam tas saat mengingat titipan dari Dariush belum diberikan pada kembarannya.
“Cath, kau dapat undangan.” Alceena memberikan titipan Dariush ke hadapan Cathleen.
Cathleen langsung meraih dan membaca undangan tersebut. “Pesta lajang? Siapa yang menyelenggarakan ini?”
Alceena mengedikkan bahu seolah tak tahu apa pun dengan acara tersebut. “Aku hanya dititipi.” Dia berkilah agar tak ketahuan dekat dengan keluarga Dominique. “Datang saja, Cath, siapa tahu kau bisa menemukan pria yang tulus dan tak memanfaatkanmu lagi.”
...*****...
...Jangan mau Cath, mending jadi pelakornya Dariush sama Alceena aja....
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...