
“Maksudmu, Brandon Brooks? Mantan calon suamimu sendiri yang membuat rumor itu?” tanya Papa Danzel memastikan sekali lagi.
Alceena mengangguk. “Exactly.” Dia membenarkan pertanyaan orang tuanya.
Wajah Papa Danzel sampai tak bisa digambarkan lagi, ada perasaan marah, kesal, kecewa, semua bercampur menjadi satu. “Syukurlah kau tak jadi menikah dengan pria itu, tega sekali dengan calon istrinya sendiri sampai berani memfitnah,” ucapnya dengan dada yang terlihat naik turun. Andai Brandon ada di hadapannya, pasti sudah dia tampar karena menjatuhkan nama baik anaknya.
“Pa, jangan melihat seseorang dari sisi buruknya saja. Brandon melakukan itu karena ingin bertanggung jawab padaku.” Selena ikut menimpali. Dia membela ayah dari janin dalam kandungannya agar tak dibenci oleh orang tuanya.
Cathleen menaikkan sebelah alis. “Jadi, menurutmu, Brandon tak salah?” tanyanya dengan wajah yang tak bersahabat.
“Tujuannya baik, Cath. Kita tak bisa menilai dia salah seratus persen,” jawab Selena. Mati-matian dirinya membela Brandon agar bisa mendapatkan restu.
“Meskipun tujuannya baik, tapi jika dilakukan dengan cara yang salah pun jatuhnya tetap buruk, Selena.” Papa Danzel menimpali lagi. Dia tak bisa membenarkan apa yang sudah dilakukan oleh mantan kekasih Alceena.
Selena mengatupkan kedua telapak tangan ke arah Papa Danzel. “Pa, ku mohon jangan membenci Brandon. Aku mencintainya sebagai ayah dari janinku, dia orang yang bertanggung jawab. Sejak tahu jika aku hamil, dia tak pernah memintaku untuk menggugurkan janin ini, justru ingin menikahiku. Tolong, maafkan kesalahannya,” pintanya dengan sangat tulus. Dia sampai menangis di hadapan orang tuanya.
Papa Danzel menghela napas kasar. Seorang pria memang harus bertanggung jawab. Tapi dia masih belum bisa menerima fitnah yang diberikan pada putri keduanya. “Brandon tak salah padaku, kesalahannya pada Alceena. Jadi, kau salah sasaran jika memohon maaf padaku.”
Selena mengalihkan pandangan pada adiknya. Wajahnya nampak memohon. “Ceena, tolong maafkan kesalahan Brandon,” pintanya dengan suara dan mata sendu.
Alceena tak menunjukkan mimik belas kasian sedikit pun. Justru terlihat masih tegas. “Maaf, Selena, tidak semudah itu berurusan denganku.”
Hanya satu panggilan saja, Mama Gwen sudah paham maksud sang anak. Terlihat jelas dari sorot mata dan mimik wajah Selena. Dia pun berpindah duduk di samping Alceena.
Mama Gwen meraih tangan sang putri kedua. “Ceena, dengar Mama.” Dia mengusap kulit Alceena. “Ikhlaskan Brandon, berarti dia bukan jodohmu. Kita ambil sisi baiknya saja, mungkin Tuhan merencanakan semua ini agar kau mendapatkan pria yang lebih baik lagi dari mantan kekasihmu itu.” Dia mencoba untuk melunakkan hati Alceena yang sangat keras.
Alceena balik menumpukkan tangan dengan sang Mama. “Ma, seratus persen aku tak masalah jika Brandon memilih Selena. Silahkan jika mereka akan menikah. Tapi, aku tetap akan menggugat si Pecundang itu atas pencemaran nama baikku.”
“Apa kau tak bisa memaafkannya?” tanya Selena.
“Keputusanku sudah bulat, Selena. Gugatanku akan segera masuk ke pengadilan.” Alceena terlihat serius. Dia tak main-main dengan ucapannya.
Selena langsung berdiri dari sofa, dia berpindah ke hadapan Alceena dan bersimpuh di depan kaki adiknya. “Ku mohon, Ceena. Kasianilah calon keponakanmu, dia butuh ayahnya.” Air matanya terus menetes, tak bisa membayangkan bagaimana masa kehamilannya tanpa Brandon, dan anaknya yang akan memiliki orang tua seorang narapidana. Dia pernah merasakan bagaimana tak enaknya dibully saat masih kecil karena kesalahan Papanya.
...*****...
...Nasibmu jelek amat Selena. Salahin aja authornya yang kasih kamu nasib jelek wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...