
Dariush masih saja meneruskan memaju mundurkan pinggul. Membiarkan dirinya menjadi bahan tertawaan orang yang dia cintai. Asalkan Alceena tidak tersiksa oleh mual yang biasa dirasakan oleh wanita yang sedang hamil muda.
“Aw, cukup, Dariush. Perutku kram karena terlalu banyak tertawa.” Alceena merintih seraya memegang perutnya. Dia langsung meringkuk di ranjang dan mengeluarkan desisan.
Dariush segera menghentikan goyangannya, berjalan secepat mungkin untuk mendekati Alceena. “Sorry, aku terlalu senang melihat kau tertawa selepas tadi.” Dia jadi merasa bersalah karena membuat sang wanita kesakitan.
Anak Tuan Dominique yang kedua itu bingung sendiri harus melakukan apa. “Kita ke rumah sakit sekarang, oke?” ajaknya sudah bersiap hendak menggendong Alceena yang nampak tak berdaya.
Tangan Alceena mencegah pergelangan Dariush, memberikan isyarat gelengan kepala agar pria itu tak menggendongnya. “Tidak, jangan sekarang.”
“Why? Kau kesakitan, dan aku tak bisa diam saja seperti orang bodoh.” Dariush menyembunyikan rasa paniknya agar tetap bisa berpikir disaat seperti ini. Mencoba mengusap perut Alceena dengan harapan agar wanita itu merasa nyaman.
“Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian orang jika ketahuan dekat denganmu. Kau tahu sendiri jika keluargamu selalu menjadi bahan perbincangan oleh semuanya. Apa pun yang dilakukan oleh Dominique, pasti langsung menjadi buah bibir,” jelas Alceena sedetail mungkin agar Dariush tak mengajaknya keluar kamar.
“Oke, baiklah, memang susah sekali menjadi orang populer di seluruh Eropa,” balas Dariush dengan menyombongkan diri.
Karena bingung harus melakukan apa untuk meredakan kram Alceena, Dariush pun mengikuti instingnya saja. Dia naik ke atas ranjang, ikut tidur di belakang sang wanita.
“Mungkin kau akan sembuh jika ku peluk.” Dariush tidak perlu meminta persetujuan. Dia merengkuh Alceena dari balik punggung wanita yang terbalut baju tidur tipis dan seksi.
Dariush merapatkan tubuh dengan sang wanita. Meskipun tak ada sekat diantara mereka, kecuali kain tipis yang membalut seonggok daging tersebut, Dariush tidak menginginkan bercinta dengan Alceena. Sebab, yang dia pikirkan bukan hanya birahi atau kepuasan hasratnya saja. Pria itu lebih memprioritaskan kesehatan anaknya serta Alceena.
Tangan kekar Dariush mengusap perut Alceena dengan lembut. “Nyaman jika seperti ini?” Suara itu mengalun lirih di telinga sang wanita.
Alceena mengangguk pelan. “Enak, anakku suka, kram perutnya sedikit reda.”
“Bukan aku yang menginginkannya, tapi anakku. Tolong garis bawahi itu,” protes Alceena seraya mencubit kecil lengan Dariush.
“Jual mahal lagi ... untuk apa kau itu menjunjung tinggi gengsi? Sudah jelas nyaman berada di dekatku, tapi tak mau mengakui jika memiliki rasa denganku,” goda Dariush. Tangannya menyibakkan dress tidur yang tipis untuk menyusup masuk ke balik kain tersebut, agar bisa mengelus langsung di permukaan kulit sang wanita.
“Sshh ... diamlah, aku pusing mendengar ocehanmu,” pinta Alceena dengan mencoba menutup mulut Dariush. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari anak Tuan Dominique itu.
“Mulai galak lagi ya sekarang.” Dariush menggigit gemas lengan Alceena.
Plak!
Tangan wanita itu reflek memukul kepala Dariush karena terkejut. “Sakit, nanti kau dibalas anakku kalau menyakiti Mommynya.”
“Tak masalah, balas saja sampai kau puas, Nak.” Dariush berucap seolah memberikan persetujuan pada anak di dalam kandungan Alceena. Dia sedari tadi berbicara tanpa menghentikan usapan di perut.
“Oke.” Alceena menarik tangan Dariush, mengeluarkan dari balik pakaiannya. Menggigit lengan kekar itu dengan penuh penekanan gigi.
...*****...
...Badainya minder, udah diatasin sama Mbak NuKha si pawang cinta wkwkwk kalah tuh Mbak Rara...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...