
Kini usia kandungan Alceena sudah menginjak delapan bulan. Semakin besar saja perut berisi dua bayi itu. Saatnya ia harus cek rutin ke dokter sekaligus konsultasi supaya persalinan bisa dilakukan secara normal.
“Sayang, hari ini kita lepas gips, baru ke dokter kandungan, oke?” ucap Dariush seraya merangkul sang istri menggunakan tangan yang tak sakit.
“Iya, semoga tanganmu bisa segera kembali pulih,” tutur Alceena. Ia mengelus bagian putih yang menempel di tangan sang suami dan sebentar lagi akan dilepaskan.
Sepasang suami istri yang selalu terlihat romantis itu berjalan bersamaan menuju basement penthouse tempat mereka tinggal saat ini. Keduanya sering berpindah menginap, terkadang ke mansion Dominique, tapi juga sering di rumah mereka sendiri kalau ingin berduaan saja.
Dariush dan Alceena tidak diantarkan oleh supir, namun si ibu hamil yang mengendarai mobil. Perut buncit bukan halangan untuk memanjakan sang suami.
“Lihatlah perutmu, hampir menempel ke setir kemudi, tapi masih saja tak mau memakai supir,” ucap Dariush seraya mengusap perut Alceena penuh kelembutan.
“Bukan tidak mau, tapi aku ingin membuatmu menjadi raja setelah kau memperlakukanku layaknya ratu,” kilah Alceena diiringi cengiran.
“Bisa saja kau memberikan alasan.” Dariush mengacak-acak rambut sang istri hingga tak beraturan.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Dariush dan Alceena saling bercengkrama. Terlihat sekali kedekatan dan chemistry mereka yang sudah terbangun. Sampai tak terasa kalau sudah sampai di depan sebuah bangunan tinggi.
“Jangan turun dulu, biarkan aku yang membukakan untukmu.” Alceena mencegah Dariush dan segera keluar. Dia membukakan pintu sang suami, mengulurkan tangan pada pria yang kini sangat dicintai. “Genggam tanganku, Sayang, mari kita berjalan bersama.”
Dariush terkekeh dengan istrinya yang mendadak menjadi manis. “Kenapa semakin lama kau justru menggemaskan? Rasanya tak sabar ingin segera sembuh untuk membuatmu keenakan di atas ranjang,” bisiknya seraya mengayunkan kaki memasuki area rumah sakit.
“Aku juga sudah rindu sentuhanmu, tapi ku tahan karena kondisi kesehatanmu yang keterbatasan,” balas Alceena seraya mengusap perut Dariush yang sudah tak memar lagi.
Tidak perlu menunggu lama untuk kontrol rutin kesehatan Dariush, sebab mereka sudah reservasi terlebih dahulu. Sehingga baru saja sampai rumah sakit, mereka langsung masuk ke ruang dokter.
“Sudah, Tuan. Mari saya bantu lepas.” Dokter pun mengajak Dariush ke sebuah ruangan.
Tentu saja Alceena tetap mengekor suami tercinta. Sepasang suami istri itu sudah seperti permen karet yang menempel di rambut dan sulit sekali dipisahkan.
Mata Alceena terus melihat bagaimana proses pelepasan gips. Dia mengulas senyum dan bernapas lega saat tangan Dariush sudah terbebas.
“Coba digerakkan tangannya, Tuan,” pinta Dokter yang membantu Dariush.
Dariush melakukan sesuai perintah dokter. Pelan-pelan ia menggerakkan tangan kiri, begitu juga dengan jari. Meskipun masih sedikit terasa nyeri, tapi jauh lebih baik dari sebelumnya.
“Terima kasih atas bantuannya, Dok,” tutur Dariush dengan penuh rasa syukur karena masih diberikan kesembuhan oleh Tuhan setelah musibah besar yang dialami.
Selesai melepas gips dan kontrol kesehatan Dariush, pasangan suami istri itu berpindah ke dokter kandungan yang ada di rumah sakit sama. Mereka sengaja mengambil tempat yang tak berbeda agar memudahkan berpindah lokasi dalam satu gedung.
Perut Alceena sudah dicek menggunakan USG. Kondisi anak kembarnya sehat dan berat badan juga normal tak terlalu berlebihan.
“Sering-sering melakukan hubungan badan dengan suami, Nona. Supaya membantu jalan lahirnya terbuka.” Dokter itu memberikan saran setelah mendengar kalau pasiennya sangat ingin melahirkan secara normal meskipun anak kembar.
...*****...
...Viuit ... asekkk disuruh skidipapap nih yeee. Janji gak bunyi cepek cepek ya wkwkwkwk...
...Sorry guys baru lanjutin. Kalian yang ngikutin semua novelku pasti tau kenapa aku sedang tak bergairah crazy up di NT. Sedang menyesakkan hati pokoknya platform kita tercinta ini...