My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 203


Tentu saja dengan senang hati sang pemilik motor itu turun. Kendaraan roda dua yang harganya satu perlima dari mobil sport milik Dariush. Tentu saja jauh sekali selisihnya, kalau dijual pun bisa untuk membeli lima motor yang sama persis.


“Hei! Helmnya!” seru Dariush saat pria pemilik motor itu berjalan begitu saja tanpa memberinya alat pelindung kepala.


“Oh, sorry, ku pikir kau tak butuh helm,” kelakar orang tersebut.


“Tak memakai helm tidak membuat jalanan menjadi empuk jika terjatuh,” balas Dariush seraya menerima benda yang bulat tak sempurna tapi berkaca.


“Tenang, bensin baru saja ku isi penuh. Jadi kau tak akan terlalu banyak rugi menukarkan kendaraanmu,” beri tahu pria pemilik motor itu.


“Hm.” Dariush hanya menjawab singkat. Dia pun melindungi kepala menggunakan helm, lalu mengibaskan tangan agar pria di hadapannya menyingkir.


Kendaraan roda dua itu langsung tancap gas sekencang mungkin agar cepat sampai ke Badan Kependudukan.


Kendaraan roda dua itu melaju dengan kecepatan dua ratus kilometer perjam. Sudah bisa dibayangkan betapa bahayanya kebut-kebutan di jalan.


Tapi, Dariush tak ada pilihan lain lagi. Waktu yang tersisa sungguh terbatas. Dan dia tak ingin gagal memenuhi persyaratan terakhir dari Tuan Pattinson. Baginya, kepercayaan calon mertuanya itu sungguh penting agar rumah tangga yang akan dia bina bisa tenteram.


“Sial! Tumben sekali macet,” gerutu Dariush saat di depannya banyak mobil yang berhenti. Dia menyempatkan untuk melihat jam. “Sisa tiga menit lagi.”


Anak kedua Tuan Dominique itu memilih untuk menyalip dari jalan yang berlawanan arah. Tentu dengan kecepatan yang tidak pelan karena jarak Badan Kependudukan masih kurang lebih tujuh ratus lima puluh meter lagi.


Namun ternyata, di jalan itu baru saja terjadi kecelakaan beruntun. Dariush yang terlanjur mengemudi dengan kecepatan tinggi pun mengerem secara dadakan untuk menghindari kendaraan yang terbalik saat ada mobil melintas dari arah depan. Tapi, naas, nasib baik belum berpihak padanya.


Motor yang dikendarai oleh Dariush terpeleset oli yang berceceran di atas aspal. Tubuh pria kekar yang tidak menggunakan pelindung kecuali untuk kepala pun terpelanting, tergores jalanan, dan punggungnya sampai terpentok pada badan mobil di lokasi kecelakaan itu.


Dan lebih parah lagi, motor yang dikendarai Dariush pun membentur perut berotot anak Tuan Dominique itu. Kecelakaan tak bisa dihindari, dia tak sadarkan diri saat itu juga. Darah segar mulai keluar dari tubuhnya yang terluka.


Banyak ambulan yang langsung berdatangan untuk menolong para korban kecelakaan. Walaupun sudah ada yang meninggal di tempat.


Sementara itu, di Badan Kependudukan, Alceena beserta keluarganya sudah menanti kedatangan Dariush di ruang tunggu. Wanita berperut buncit itu menggigiti bibir bawah kala perut tiba-tiba merasakan tendangan sangat kencang dari anak-anaknya.


“Sabar, Sayang. Daddy kalian pasti datang untuk menikah dengan Mommy. Dia tak pernah mengingkari ucapan,” tutur Alceena seraya mengusap perutnya.


Mata Alceena beralih menatap ke arah jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Dia mencoba menghela napas pelan karena waktu yang diberikan oleh Papa Danzel akan habis satu menit lagi.


...*****...


...Rest in love Dariush Doris Dominique. Mungkin memang takdirmu bukan untuk Alceena. Semoga tenang di alam sana. Aku mencintaimu, sangat. Memang sudah sepantasnya tak ada yang memilikimu daripada menjadi bahan rebutan....


...Aku ikut sedih ya Ceena, menanti orang yang dicintai untuk menikah, tapi takdir berkata lain....