
Selepas berganti pakaian dengan yang lebih bersih, Alceena segera kembali lagi untuk menemani suami tercintanya. Seharian ini sampai lupa makan karena terlalu mengkhawatirkan kondisi Dariush, dan perutnya juga tidak terasa lapar. Mungkin efek terlalu banyak menangis.
“Kau mau makan apa? Aku belikan.” Madhiaz memberikan penawaran pada kembarannya seraya mengusap puncak kepala Alceena yang sudah duduk di kursi samping ranjang pasien.
Alceena menggelengkan kepala. “Aku tidak lapar, Dariush juga belum makan apa pun.”
Madhiaz sampai bergeleng kepala. Tapi dia mencoba untuk memahami posisi Alceena yang dihadapkan oleh musibah tepat di hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen bahagia, justru kini penuh lelehan air mata.
“Di dalam tas itu ada roti, makanlah,” beri tahu Madhiaz.
Namun, Alceena hanya melirik. Belum berniat untuk makan. Ia berdiam terus dengan menatap lekat wajah tampan suaminya, tangan dengan jemari lentik itu mengusap bulu-bulu halus yang tumbuh tipis di rahang.
Melihat kembarannya yang kacau seperti itu, Madhiaz tentu saja tidak bisa berdiam diri. Ia membungkukkan tubuh hingga bibir sengaja didekatkan pada telinga iparnya yang sedang sakit. “Dariush, istrimu nakal dan bandel. Dia tidak mau makan dengan alasan tak lapar, padahal di dalam perutnya ada anak-anakmu. Jika kau bangun nanti, tolong kau beri dia hukuman supaya tidak egois karena tak memikirkan bagaimana nutrisi janin di dalam kandungannya.”
Kalimat itu sengaja dibisikkan pada Dariush. Tapi tetap Alceena masih bisa mendengar karena suara Madhiaz tidak terlalu kecil. “Jangan mengganggunya, biarkan suamiku istirahat.”
Sembari menegakkan tubuh, Madhiaz berbicara. “Agar suamimu tahu kalau kau tidak memperhatikan anak-anaknya saat khawatir berlebihan.”
“Oke, oke. Aku makan.” Alceena kalah jika sudah membawa nama suaminya. Dia pun akhirnya mengambil roti yang dibawakan oleh Madhiaz.
“Good. Aku keluar dulu, kalau ada apa-apa, kau bisa panggil aku di luar.” Setelah berpamitan, Madhiaz benar-benar meninggalkan Alceena seorang diri.
“Tapi, demi anak-anak kita, aku rela memakan ini. Asalkan kau berjanji akan bangun ketika aku selesai menghabiskan satu bungkus roti.” Alceena masih melanjutkan berbicara seorang diri.
Dariush tetap tak menunjukkan respon sedikit pun. Membuat Alceena semakin sedih.
“Ternyata rasanya diabaikan itu tak enak, ya?” tutur Alceena seraya mengusap buliran bening yang melewati pipi.
Mendadak Alceena teringat sikapnya dahulu saat didekati oleh Dariush. “Aku baru tahu apa yang kau rasakan ketika aku mendiamkanmu saat kau mencoba mengambil hatiku. Sakit sekali.” Dia memukul dada yang terasa sesak.
Tubuh Alceena sengaja berdiri setengah, mendekatkan kepala di wajah suami tercintanya. Dia mencium bibir Dariush yang pucat, cukup lama. Wanita itu memberikan jarak tipis antara matanya yang terbuka dengan milik Dariush yang tertutup.
“Aku janji tak akan mengabaikanmu seperti dulu lagi. Mulai detik ini, aku pasti menghujanimu dengan jutaan cinta. Asalkan kau tetap menemaniku hidup di dunia,” tutur Alceena. Jemari lentik itu menyentuh kelopak mata Dariush. “Bukalah, ada istrimu di sini, jangan mengabaikanku.”
Mungkin terlalu sedih dan sangat terpukul, membuat Alceena menjadi seperti itu. Dia sampai sesegukan lagi karena Dariush tak kunjung sadar. Bahkan dua tetes air mata pun terjatuh di pipi suaminya.
...*****...
...Ini bukan Beauty and the Beast ya Ceen yang kejatuhan air mata terus mendadak bangkit lagi dan berubah jadi pangeran tampan wkwkwk...