
“Aku jalan dengannya bukan berarti membalas perasaan Dariush, Cath. Katamu jangan terlalu membencinya, maka aku berusaha untuk berteman dengan dia.” Alceena membalikkan kata-kata yang pernah diucapkan padanya. Anak kedua keturunan Pattinson itu berusaha untuk menjelaskan agar Cathleen tidak marah dan menganggapnya ingkar janji.
“Untuk terakhir kali aku bertanya hal ini padamu. Apa kau menyukainya?” Cathleen mendaratkan dagu di atas lutut, air matanya tak bisa berhenti keluar. Dia menunggu Alceena menjawab dengan menatap wajah kembarannya.
Alceena menggigit bagian dalam mulutnya. Dia tak bisa menjawab tidak maupun iya. Hatinya terasa sakit saat melihat kesedihan Cathleen yang sejak dalam kandungan hingga besar hidup bersama dengannya. Tapi bibir pun tak mampu membenarkan jika dirinya menyukai Dariush karena perasaannya belum nampak nyata menurut dia.
Cathleen yang tak kunjung mendapatkan jawaban pun kembali berbicara. “Boleh aku egois untuk kali ini saja? Aku ingin kau menepati janjimu, dan tolong bantu aku agar bisa dekat dengan Dariush,” pintanya seraya menyeka air mata yang membasahi pipi. “Sejak dahulu, aku sudah mengalah untukmu, izinkan untuk sekali saja merasakan bagaimana rasanya tak mengalah denganmu. Apa bisa?”
Alceena mengepalkan tangan di bawah sana. Menghela napas berat dan bibir pun terasa sulit menyanggupi permintaan Cathleen. “Cath, aku benar-benar minta maaf atas kejadian hari ini. Aku tidak bermaksud untuk melukai hatimu. Tapi, perasaan takut kehilangan ini tiba-tiba muncul begitu saja. Aku tak tahu apa alasannya.”
Cathleen mencoba memberikan senyum penuh kepiluan. Dan diakhiri dengan tawa kesedihan. Mendongakkan kepala ke atas agar air matanya tak jatuh lagi. “Lucu ya, baru dua minggu yang lalu kau mengatakan sangat membenci Dariush. Sekarang mendadak takut kehilangan dia.” Helaan napas kasar keluar dari bibir.
“Maaf.” Hanya satu kata itu yang bisa keluar dari bibir Alceena.
Papa Danzel yang diam-diam menyusul Alceena tapi dia sengaja bersembunyi untuk mendengar pembicaraan kedua putrinya pun akhirnya keluar juga. Dia berdiri di belakang anak kedua yang duduk di depan jendela.
“Cathleen, buka pintunya, Papa mau bicara!” tegas Danzel memberikan perintah. Dia harus segera mendamaikan anak-anaknya agar tak ada keributan antar saudara.
Cathleen tidak bisa membantah perintah orang tuanya. Menurunkan kaki ke lantai dan membuka pintu yang menghubungkan balkon. Dia berbalik badan lagi untuk duduk di tepi ranjang dengan kepala menunduk, siap mendengarkan omelan karena terpergok memiliki masalah dengan kembarannya.
Papa Danzel duduk di tengah-tengah Alceena dan Cathleen. Mengelus telapak tangan keduanya dengan penuh kasih sayang. “Aku sudah mendengar semuanya. Kalian menyukai pria yang sama lagi? Dariush namanya, anak mantan kekasih Papa. Benar?”
Cathleen mengangguk membenarkan. Sedangkan Alceena tidak memberikan isyarat apa pun karena yang dia rasakan saat ini hanya ingin berdekatan dengan Dariush, bukan menyukai pria itu.
Papa Danzel menghela napas. Bukan yang pertama kali dia menghadapi siatuasi ini. “Oke, pertanyaanku sama seperti biasanya. Siapa diantara kalian yang ingin mengalah?” tanyanya seraya melihat satu persatu wajah Alceena dan Cathleen.
“Pa, aku sudah sering mengalah dengan Alceena. Apakah salah jika kali ini saja sedikit egois?” jawab Cathleen. Setetes air mata terjatuh di atas tangan orang tuanya.
Papa Danzel berganti fokus ke Alceena yang tidak menundukkan wajah, justru sedang menatap keturunan terakhir keluarga Pattinson. “Ceena, kau mau mengalah untuk Cathleen?”
...*****...
...Dahlah, Dariush buat aku aja biar gausah pusing siapa yang mau ngalah wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan kirim hadiahnya bestie...