
Sebelum meninggalkan mansion keluarga Dominique, Alceena berpamitan terlebih dahulu dengan pemilik hunian megah tersebut. Dia datang dengan baik-baik, pulang pun harus dengan cara yang sama.
“Aunty, aku pulang dulu,” pamit Alceena seraya memeluk tubuh Mommy Diora.
“Jangan panggil aku Aunty, Mommy, sama seperti yang lain.” Istri Tuan Dominique itu meluruskan agar Alceena mulai terbiasa dengan sebutan itu.
Alceena tersenyum kaku. “Aku lebih senang memanggil Aunty,” jelasnya seraya menyudahi pelukan.
“Ya, ya. Terserah dan senyamanmu saja, yang penting jangan permainkan perasaan kembaranku.” Tiba-tiba suara Deavenny ikut menyahut. Dia juga merengkuh tubuh Alceena setelah memberikan peringatan. “Seringlah main ke sini jika kau memang nyaman dan sudah menyadari perasaanmu,” bisiknya dengan tangan yang mengelus punggung pujaan hati Dariush.
“Pasti,” balas Alceena. Dia mengulas senyum kepada semua orang yang masih berkumpul di mansion keluarga Dominique.
“Aku antar Alceena dulu.” Tangan Dariush menarik koper milik wanitanya, sedangkan yang satu untuk menggandeng sang pujaan hati.
“Hati-hati, titip salam untuk orang tuamu, aku tunggu pertemuan antar dua keluarga besar.” Sebelum Alceena benar-benar pergi dari sana, Mommy Diora menitipkan pesan itu terlebih dahulu.
Alceena hanya menjawab dengan ulasan senyum dan lambaian tangan sebagai salam perpisahan. Dia paham kemana maksud ucapan orang tua Dariush, tapi memutuskan untuk menikah adalah sesuatu yang perlu dipikirkan secara matang setelah satu kali mengalami kegagalan.
Alceena kini sudah duduk di dalam mobil Dariush yang memiliki kaca gelap dan tak terlihat jika dari luar. Pria itu sungguh memenuhi seluruh persyaratan yang diminta olehnya.
Di sepanjang perjalanan, Alceena ingin memastikan semua berkas yang dia perlukan telah siap. “Apa kau sudah mendapatkan bukti berita pencemaran nama baikku yang dilakukan oleh Brandon?”
Tentu saja kali ini Alceena harus meminta bantuan Dariush untuk memberikan hukuman yang setimpal pada mantan calon suaminya. Mana bisa dia puas hanya dengan membuat babak belur Brandon Brooks yang egois, pecundang, dan berani-beraninya mengorbankan orang lain demi kepentingan pribadi.
“Sudah, aku berikan pada pengacaraku agar dia yang membereskan semua,” jelas Dariush seraya mengusap puncak kepala Alceena.
Alceena meraih tangan Dariush yang ada di puncak kepalanya untuk digenggam. Menatap sosok pria gagah di sampingnya dengan hati yang mulai berdebar saat dibalas dengan senyuman dan sorot mata teduh dari anak kedua Tuan Dominique itu.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Dariush seraya mengaktifkan mode autopilot agar kendaraan roda empat itu berjalan sendiri.
Alceena bergeleng pelan. “Hanya ingin memastikan sesuatu.”
Alis Dariush terangkat sebelah, masih tak bisa memindahkan pandangan dari sosok cantik tersebut. “Apa? Jawaban pertanyaanku semalam?”
“Bisa jadi.” Jawaban singkat dari Alceena itu diakhiri dengan melayangkan sebuah kecupan sekilas di punggung tangan Dariush.
Dan mampu membuat Dariush tersenyum karena Alceena mulai bisa bersikap manis padanya. “Masih ada waktu sampai nanti malam, tak perlu buru-buru memutuskan jika belum yakin.” Dia balas mencium tangan sang wanita juga.
Jangan ditanya lagi bagaimana ekspresi dua orang yang berada di dalam mobil itu. Sudah pasti bahagia dan dihiasi senyuman.
“Tak perlu khawatir dengan kasus Brandon, kau pasti akan menang di pengadilan karena bukti sudah sangat kuat. Gugatanmu pasti akan menang saat dipersidangan,” beri tahu Dariush. Dia kembali membawa mobil dengan cara biasa.
...*****...
...Bisa ga mereka musuhan lagi gitu? Terlalu sweet dan bucin kalo ga berantem. Meresahkan...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...