
Tidak berselang lama dari kedatangan Tuan Giorgio, Daddy Davis pun masuk juga ke ruang rawat sang anak. Mereka berdua sudah seperti sandal yang selalu bersama. Awet sekali hubungan persahabatan dari muda sampai tua.
“Ck, ck, ck, katanya perut serta tangan terasa sakit dan bengkak, tapi masih bisa mesum juga kau,” ejek Daddy Davis diiringi gelengan kepala.
Dariush langsung melotot ke arah orang tuanya. Daddy Davis tidak bisa menjaga rahasia. “Dad!” tegurnya. Dia tak ingin Alceena sampai tahu ataupun terlalu banyak berpikir tentang kesehatannya pasca kecelakaan.
“Sayang, kenapa kau tak bilang padaku kalau sakit?” Alceena pelan-pelan merubah posisi menjadi duduk, sejak tadi perut muncitnya menyenggol tangan Dariush tapi pria itu tidak menunjukkan ekspresi yang begitu mencolok.
Benar seperti dugaan Dariush, pasti Alceena langsung khawatir kalau mendengar kabar tersebut. Itulah sebabnya dia ingin merahasiakan dari istri, tapi Daddynya justru membuka kartu.
“Aku baik-baik saja, Sayang. Daddyku itu suka jahil orangnya,” kilah Dariush. Tak sadar diri kalau dia pun memiliki kadar ketengilan yang diatas rata-rata.
“Jangan berbohong,” pinta Alceena. Wajahnya menatap sendu ke arah sang suami yang sudah satu minggu tidak mandi, tapi tetap saja dia tidak risi untuk dekat-dekat dengan Dariush.
“Sungguh, lihatlah.” Kedua tangan Dariush dinaikkan ke atas, dia menggerakkan jemari seolah munjukkan dirinya baik-baik saja. “Perutku juga oke.” Telapaknya memukul pelan agar Alceena berhenti menatapnya dengan sorot sedih.
Meskipun sudah diberi bukti, tapi perasaan Alceena tetap saja tak enak. “Jangan menutupi apa pun dariku. Kalau sakit katakan saja, jangan ditahan.” Dia mengusap rahang tegas suami dengan lembut.
“Tenang, suamimu ini kuat.” Dariush meraih tangan sang istri, dan ditarik ke depan bibir untuk dikecup. “I love you.”
“Love you more.” Ulasan senyum di wajah Alceena sangat menunjukkan kalau wanita itu bahagia memiliki suami seperti Dariush. Bagaimana tidak? Dia selalu dilimpahkan begitu banyak cinta dan perhatian.
“Kau pulang dulu, ya? Istirahat di mansion keluargamu atau keluargaku juga tak apa. Di sini tidurmu pasti tak leluasa karena sempit, apa lagi untuk berdua,” pinta Dariush diiringi usapan pada permukaan tangan Alceena.
Membuat Dariush menghela napas karena memiliki istri keras kepala. Tapi dia tetap saja cinta. Matanya pun melirik ke arah sang Daddy agar dibantu untuk membujuk. Memang keluarga itu sangat aneh, hanya berkomunikasi dengan sorot mata saja sudah paham.
“Madhiaz, tolong kau antarkan Alceena ke mansion Dominique, di sana ada istriku yang sudah rindu dengan menantu barunya.” Daddy Davis tidak membujuk Alceena, tapi langsung memberikan perintah.
Madhiaz tidak langsung menanggapi. Tapi dia sedang menilai situasi. ‘Sepertinya ada sesuatu yang tak beres,’ gumamnya dalam hati.
“Baiklah, Ceena, ayo keluar denganku.” Madhiaz menutup MacBook dan segera berdiri.
“Tidak mau, Madhiaz, aku ingin menemani suamiku sampai sembuh.” Tetap saja Alceena menolak. Dia ingin tahu perkembangan kondisi kesehatan Dariush.
Daddy Davis dan Daddy George pun menghela napas berat karena akhirnya memiliki anggota keluarga baru yang keras kepala.
“Pecat saja dia dari daftar menantumu kalau sulit diatur.” Daddy George mulai mencetuskan ide secara asal dengan wajah yang datar.
“Ide bagus, kalau satu menit lagi kau tak meninggalkan ruangan ini bersama Madhiaz, ku hilangkan kau dari daftar keluarga Do—” Belum sempat Daddy Davis menyelesaikan ucapan, Alceena sudah menyahut.
“Aku akan pulang.” Daripada sungguh dipecat dari daftar menantu, lebih baik menurut saja. Apa lagi wajah mertuanya terlihat sangat serius.
...*****...
...Aku akan menjadi orang yang paling bahagia kalo si rambut singa dipecat dari daftar menantu sama kalian wkwkwkwk bakalan pesta tujuh hari tujuh malem aku...