My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 71


Alceena sudah menutup tubuh polosnya menggunakan kaos hitam milik Dariush. Bahkan dia juga memakai dalaman pria itu. Namun tak ada bra yang membungkus dada. Alceena tak masalah juga, toh sudah biasa jika memakai kaos memang selalu seperti itu. Untung saja warnanya gelap dan oversize, sehingga dua tonjolan miliknya tak terlalu terlihat jelas.


Alceena keluar dari kamar mandi, langsung ditatap oleh Dariush yang menelisik seluruh bagian tubuhnya. “Apa semua yang aku pakai adalah bekasmu?” Dia langsung mengajukan pertanyaan.


“Tidak, kaos saja yang sering ku pakai, kalau dalaman masih baru,” jawab Dariush.


“Oh, pantas saja kolornya masih kencang,” sahut Alceena seraya mengayunkan kaki menuju tengah ruangan.


Dariush yang sudah siap dengan pakaian casual itu pun berdiri dan menghampiri Alceena. Menatap penampilan sang wanita dari jarak dekat.


“Kenapa?” tanya Alceena dengan menaikkan sebelah alis. “Penampilanku aneh, ya?”


Kepala Dariush menggeleng. “Tidak, mau pakai apa pun tetap cantik.” Kedipan mata sebelah dia berikan sebagai godaan. “Kaosku dipakai kau jadi seperti dress mini.” Anak Tuan Dominique itu berbicara seraya menyisir rambut Alceena yang masih berantakan menggunakan tangan.


Alceena melihat dirinya sendiri dari atas sampai bawah. “Tapi aku merasa style ini kurang seksi.”


Tangan Dariush mendarat di pantat Alceena setelah merapikan rambut wanita itu. Berdiri di samping anak kedua Tuan Pattinson dan membisikkan sesuatu di telinga. “Kau tetap seksi, Sayang.” Walaupun bibir berucap, tapi tangan kekarnya tetap nakal, meremas pantat Alceena yang kencang.


Alceena mencubit lengan Dariush. “Nakal lagi tanganmu, seharuskan kau letakkan di sini, bukan pantatku!” omelnya seraya memindahkan tangan sang pria untuk merengkuh bagian pinggul.


“Pantatmu ada magnetnya, jadi tanganku selalu salah tempat,” kilah Dariush. Dia menuntun sang wanita untuk mulai berjalan menuju pintu.


“Kenapa?” tanya Dariush.


“Kita keluar sendiri-sendiri. Aku tak ingin menjadi pusat perhatian jika ketahuan jalan dengan anak Tuan Dominique,” pinta Alceena.


“Ribet sekali hidupmu, lagi pula siapa yang berani dengan keluarga Dominique? Jika ada yang menggunjingmu di belakang, langsung ku beri dia pelajaran.” Namun, Dariush tak menyanggupi permintaan sang wanita.


“Kalau begitu, beri aku topi dan masker, baru mau keluar. Jika tidak, lebih baik di hotel saja tak perlu ke rumah sakit.” Alceena melipat kedua tangan di dada dan menekuk wajah seperti wanita yang sedang merajuk. “Ini anakku yang ingin, bukan aku,” imbuhnya agar segera dituruti.


“Oke, untung aku membawa topi dan masker, jadi tak perlu keluar untuk membeli.” Dariush tak bisa menolak jika sudah menyangkut permintaan anaknya. Dia segera mendekati koper untuk mengambil dua barang yang diminta Alceena.


“Ini.” Dariush langsung memberikan kepada Alceena.


Wanita itu nampak menyengir gembira saat menerima barang yang diminta. Menutup setengah wajah dari bagian hidung hingga dagu menggunakan masker, tak lupa juga Alceena menggelung rambut dan ditutupi dengan topi agar tak terlihat. “Nah, seperti ini pasti tak akan ada yang mengenaliku.”


Dariush bergeleng kepala melihat kelakuan ibu hamil satu itu. “Kau seperti sedang bersembunyi dari seseorang saja.” Sembari berucap, dia merengkuh pinggul Alceena lagi dan membuka pintu.


Keduanya keluar bersamaan dan berjalan beriringan menyusuri lorong. Namun, mendadak kaki mereka terhenti saat ada suara seseorang memanggil.


“Dariush?” panggil Cathleen. Matanya bisa melihat jelas pria yang ditaksir sedang berjalan dengan seseorang yang tak dia kenal.