My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 143


Alceena memang sengaja tak langsung menjenguk Selena karena membiarkan kakaknya istirahat terlebih dahulu dan akan menanyakan kabar saat makan siang. Tapi, saat terik matahari semakin menyengat, anak tertua di mansion itu tak ikut bergabung di meja makan.


Padahal, Alceena sudah menunggu sejak tadi. Ingin memberikan semangat agar Selena bisa menjalani kehidupan tanpa seorang pria.


“Sejak Selena sakit, apa dia tak tak pernah makan bersama?” tanya Alceena kepada anggota keluarganya.


Semuanya menggelengkan kepala, menjawab hal yang sama.


Perasaan Alceena jadi semakin tak enak pada Selena. Tentu saja ada rasa bersalah juga. “Memangnya dia sakit apa, parah sekali?”


“Terlalu banyak pikiran, stres, membuat kandungannya sangat lemah, hampir keguguran kalau saat dia mengeluarkan darah tak langsung dibawa ke rumah sakit, dan disarankan agar banyak istirahat,” jawab Mama Gwen.


“Penyakit juga dia sendiri yang buat, aku tak suka dengannya. Pernah suatu malam, saat tidak ada orang di kamar Selena, aku tak sengaja mendengar kalau dia menyalahkan Alceena karena tak memiliki belas kasian.” Cathleen langsung menimpali dengan wajah yang sangat asam. “Padahal maksud kembaranku baik, tapi dia tak bisa menerima itu. Bukankah itu sangat menyebalkan?”


Mendengar Cathleen yang menggerutu, semua mata langsung tertuju pada wanita yang berumur seperempat abad.


“Cath ... tidak boleh berlebihan kalau membenci saudara sendiri,” tegur Papa Danzel, Mama Gwen, dan Madhiaz secara bersamaan.


Sedangkan Aldrich tetap diam saja karena dia sadar diri, bukan anak yang memiliki ikatan darah di sana.


Lain hal dengan Alceena. Dia justru menyodorkan makanan ke hadapan kembarannya sembari berkelakar. “Tambah makanmu, mengomel juga butuh tenaga agar mulutmu yang emosi itu tak lelah saat berucap.”


Cathleen hanya berdecak dan memanyunkan bibir. Memang seperti itu kenyataan di dalam hatinya yang tak bisa ditutupi. “Sekarang Selena sudah berubah, tak seperti dulu lagi,” gerutunya sangat menyayangkan perbedaan sikap dan perilaku sang kakak.


Keluarga Pattinson itu melanjutkan makan siang tanpa suara. Dan Alceena selesai terlebih dahulu. Biasa makan banyak setiap hari, membuatnya bisa melahap hidangan secara cepat.


“Itu untuk siapa?” Saat melihat ada seorang pelayan tengah melewati ruang makan dengan membawa nampan berisi makanan, dia langsung mengajukan pertanyaan.


“Nona Selena,” jawab pelayan itu.


“Jangan, Nona. Ini pekerjaan saya,” tolak pelayan.


Tapi, Alceena tetap memaksa. Dia langsung mengambil alih secara paksa. “Sudah, berikan saja, kau bisa mengerjakan yang lain.”


Setelah nampan berada di tangan, Alceena naik ke lantai dua menggunakan lift. Menaiki anak tangga lebih berat dibandingkan saat turun.


Alceena mengetuk pintu kamar kakaknya. Walaupun tak mendengar suara orang menyahut dari dalam, dia tetap masuk.


“Selena?” Panggilan yang keluar dari bibir Alceena itu terdengar sangat halus dan pelan. “Aku masuk, ya?” Dia membuka pintu, dan saat kaki sudah melangkah ke dalam, wanita itu berhenti sejenak karena melihat Selena di atas ranjang dan terlihat jelas jika tak berdaya.


Berkali-kali Alceena menghembuskan napas. Meyakinkan diri sendiri agar berhenti merasa bersalah. Kakinya semakin terayun mendekati ranjang. Dia duduk di tepi samping Selena.


Selena yang dipanggil hanya menatap dengan sorot mata kosong. Seolah tak memiliki semangat hidup.


Alceena merasa iba pada kondisi Selena yang seperti itu. Tapi juga karena dirinya yang membuat sang kakak sakit. “Makan dulu, ya? Anakmu butuh nutrisi yang banyak untuk tumbuh di dalam kandunganmu.” Dia membujuk seraya mengelus perut anak tertua Mama Gwen.


Selena menggelengkan kepala. “Aku tak lapar, Ceena.” Setelah menolak, dia memalingkan wajah agar tak menatap Alceena. Mata sembab itu mengeluarkan cairan bening yang menunjukkan kesedihannya saat ini. “Bagaimana kondisi Brandon di dalam tahanan? Apakah di sana dia makan enak?”


“Pasti makan, jangan khawatir,” balas Alceena agar kakaknya tidak berpikiran buruk.


Tapi, Selena terus mengucurkan air mata hingga keluar suara isakan, memalingkan wajah untuk menunjukkan kesedihannya pada sang adik. “Apa kau tak bisa membatalkan gugatanmu sampai anakku lahir? Pikiranku tak pernah tenang memikirkan nasib Brandon di dalam tahanan,” pintanya dengan suara sangat lirih.


...*****...


...Nanti kalo dikasih yang manis-manis terus tuh takutnya diabetes. Biar seimbang, kasih yang bikin darah tinggi juga. Supaya kalian gak terus menerus ngomelin author karena mau jadi pelakor Dariush dan Ceena. Sekali-kali ganti kasih sumpah serapah ke Selena wkwkwkwk kaborrrrr...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...