
Terlalu enak memeluk dan nyaman dipeluk, Dariush serta Alceena sampai ketiduran. Mereka tidak mengikuti acara pagi yang sudah diagendakan oleh penyelenggara pertemuan pebisnis muda di Eropa itu.
Keduanya melewatkan sarapan karena terhanyut dengan suasana yang tengah berdekapan. Hingga akhirnya Alceena merasakan cacing perutnya memberontak, barulah wanita itu terbangun.
“Engh ....” Alceena melenguh sembari mengerjapkan mata. Melihat ke bawah badannya dan langsung menggeplak tangan Dariush saat merasakan ada yang bersarang di sana. “Nakal sekali kau itu, meraba-raba milikku.” Dia mengajukan protes dan segera menarik bagian tubuh sang pria agar keluar dari balik kain tipisnya.
Dariush otomatis terbangun saat mendapatkan serangan dari wanitanya. “Ya maaf, aku tak sadar kalau tanganku sudah turun sendiri dari perutmu menjadi ke bawah, dan bersembunyi di balik dalamanmu,” kilahnya seraya mengecup punggung Alceena yang tidak tertutup kain. “Alam bawah sadarku yang menuntunnya.”
Alceena berdecak, tapi tak bisa marah. Entah tak tahu juga kenapa bisa seperti itu. “Dasar pria, mesum saja pikirannya.” Namun bibir tetap saja menggerutu. Dia merubah posisi menjadi duduk.
“Wajar, kebutuhan biologis.” Dariush pun ikut berpindah posisi.
Alceena mencebikkan bibir. “Alasan klasik seorang pria.” Matanya menatap ke arah jam digital yang tersedia di kamar tersebut. “Sudah siang, pantas saja perutku sangat lapar.” Tangan pun mengelus perut yang terus berbunyi.
“Aku pesankan makanan melalui room services saja, kau bisa mandi dulu sebelum kita pergi ke rumah sakit.” Dariush memberikan penawaran seraya turun dari ranjang, kaki mengayun menuju sebuah layar yang tertempel di dinding. Benda canggih itu biasa untuk memesan makanan atau memanggil pelayan dan fasilitas lainnya yang disediakan oleh hotel tersebut.
“Masih ingat saja untuk ke rumah sakit,” celetuk Alceena. Bahkan dirinya tak ingat karena perut sudah sembuh dari kram.
“Tentu saja, demi kesehatan wanita yang aku cintai serta anaknya, aku akan mengingat setiap hal tentang mereka,” balas Dariush seraya membuka menu digital di layar berukuran sepuluh inch. Mata itu menatap ke arah Alceena sebelum memesan. “Kau mau makan apa? Atau aku pilihkan saja?”
“Apa saja asalkan enak.”
“Oke.”
Dariush memilihkan lima hidangan untuk dimakan mereka berdua. Dia kembali lagi duduk di ranjang setelah pesanannya dikonfirmasi oleh pihak hotel.
“Mandi di sini saja, nanti baru kau kembali ke kamar untuk ganti pakaian, bagaimana?” Dariush memberikan penawaran lagi dengan tangan mengusap lembut pipi Alceena.
“Em ... gimana, ya?” Alceena menaikkan kedua bola mata seolah sedang berpikir.
Alceena menarik hidung mancung Dariush. “Dasar anak Tuan Dominique tak sabaran.”
Dariush menurunkan Alceena setelah sampai di kamar mandi. Dia memegang boxer dan siap untuk menanggalkan satu-satunya kain yang membalut tubuh kekar itu.
Namun, Tangan Alceena segera menahan. “Kau mau apa?” tanyanya menyelidik dan menatap curiga ke arah Dariush.
“Mandi bersamamu, memangnya mau apa lagi?” Dengan santai Dariush menjawab seperti orang tak berdosa.
Alceena menyentuh kedua lengan Dariush. Memutar tubuh pria itu dan mendorong ke luar. “Tidak mau, aku bisa mandi sendiri.”
“Agar waktunya lebih efektif kalau mandi berdua sekaligus, Ceena,” jelas Dariush mencoba beralasan.
“No, thanks, anakku tidak mau mandi bersama orang lain.” Alceena pun menutup pintunya, tak lupa mengunci dari dalam agar Dariush tidak bisa menerobos masuk.
...*****...
...Mase nakal juga tangannya dah kemana-mana ya...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...
...*****...
...Hayuk baca karya temen aku bestie. Romantis komedi juga, judulnya Hot Daddy (Bukan Duda, Bukan Perjaka), karya author mommy_ar...