
Dalam kondisi tak berdaya seperti ini pun, alam bawah sadar Dariush tetap memikirkan Alceena. Dia teringat ada sosok wanita yang sangat dicintai sedang menunggu kedatangannya untuk dinikahi.
Dariush yang hilang kesadaraan sejak kecelakaan pun tiba-tiba mengerjapkan mata. Untuk sesaat dia tak berucap apa pun karena pikiran belum sepenuhnya berada di dalam dunia nyata.
Namun, petugas medis yang ada di dalam ambulan itu segera mengecek kondisi Dariush. “Tuan, apakah Anda bisa mendengar dan melihat saya?” tanya seorang wanita yang mendekatkan wajah hingga bisa dilihat oleh Dariush.
Dariush mengangguk, dia merasakan sakit di bagian leher saat menggerakkan bagian tubuhnya itu. Pria tersebut menaikkan tangan yang disuntik oleh infus dan juga darah. “Apa aku berada di ambulan?” tanyanya setelah menilai situasi di sekeliling.
“Ya, Tuan. Anda mengalami kecelakaan dan mengeluarkan banyak darah. Saat ini sedang menuju ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut,” jelas petugas medis tersebut.
Dariush langsung berpindah posisi menjadi duduk. Dia meringis kala merasakan sakit di bagian perut yang sempat terbentur oleh motor. Punggung juga rasanya seperti remuk.
“Tuan, tolong jangan duduk terlebih dahulu. Luka Anda masih terbuka dan darah juga belum berhenti keluar,” pinta petugas medis tersebut. Dia memegang bagian tubuh Dariush untuk dibantu kembali pada posisi semula.
Namun, Dariush menolak. “Aku baik-baik saja. Tolong antarkan ke Badan Kependudukan, karena ada wanita yang sangat ku cintai sedang menunggu. Aku tak ingin membuatnya lama menanti dengan rasa khawatir.” Dia meminta dengan menatap petugas medis. Matanya terlihat sayu, ditambah wajah pucat yang memperlihatkan secara jelas bahwa saat ini kondisinya tidak baik-baik saja.
“Maaf, Tuan. Biarkan kami mengobati Anda terlebih dahulu. Pasti orang yang menunggu Anda akan mengerti dengan kondisi yang sedang dialami.”
Dariush mengela napas, dia meraba pakaiannya, mencari ponsel untuk menghubungi Alceena atau keluarga Dominique. Tapi, tak ada di dalam saku. “Apa kau tahu di mana ponselku?”
“Tidak, Tuan. Saat kami sampai di TKP, tidak ada ponsel di dekat Anda.”
Petugas medis itu lagi-lagi menggeleng. “Maaf, saya tidak membawa.”
Jawaban itu membuat Dariush mengusap wajah secara kasar, hingga darah yang masih keluar dari lengan pun meninggalkan bekas di sana. “Kalau begitu, bawa aku ke Badan Kependudukan sekarang juga!” pintanya dengan suara penuh paksaan.
“Tuan, kondisi Anda lebih pen—”
Dariush melotot, mengintimidasi petugas medis itu. “Sudah ku katakan, aku baik-baik saja! Jika kau tak bersedia mengantarku ke sana, maka turunkan aku di sini!”
“Maaf, Tuan. Saya bisa menyalahi aturan jika mengikuti permintaan Anda.” Petugas medis itu masih saja menjunjung tinggi kewajibannya untuk menyelamatkan korban.
“Persetan dengan aturan! Jika kau tak mau menuruti perintahku, maka aku akan keluar sendiri dari sini, dengan cara melompat!” Dariush tidak main-main dengan ucapan. Dia menggeser posisi duduk hingga mendekati pintu.
“Oke, oke, saya akan antar Anda ke Badan Kependudukan.” Petugas medis itu lebih takut jika korban kecelakaan tersebut sungguh keluar dengan cara nekat, dan tentu saja sangat berbahaya.
...*****...
...Segitunya banget sih Dar kamu perjuangin Alceena. Aku jadi sedih karna kamu ga buka lowongan pelakor sama sekali....