
...Ini cuma bonus aja karena enggak terlalu greget isinya wkwkwk...
...*****...
Alceena membalas uluran tangan Dariush. Keduanya saling bersalaman, menyepakati persyaratan yang diajukan oleh keturunan Dominique. Daripada kedekatan mereka diketahui oleh orang lain, lebih baik memilih tidur bersama saja. Toh nyaman juga saat terlelap dipeluk oleh Dariush.
Dariush tentu saja langsung tersenyum puas. Malam ini pasti akan sangat indah dia lewati bersama wanita pujaan hati.
“Sekarang kau turun dulu, kita jalan terpisah,” pinta Alceena seraya mendorong tubuh Dariush agar keluar dari mobil.
“Oke, kau tunggu di depan kamarmu, aku akan mintakan kuncimu.” Dariush tak akan membantah, toh sudah memiliki perjanjian juga untuk nanti malam.
“Iya.”
Sebelum keluar dari kendaraan milik keluarga Dominique, Dariush melabuhkan kecupan sekilas di puncak kepala Alceena. Barulah dia keluar dan langsung menuju resepsionis.
Sedangkan Alceena langsung menuju kamarnya, menunggu kedatangan Dariush seperti arahan pria itu.
Tak berselang lama, Dariush sudah berada di lantai kamar tempatnya menginap. Menyodorkan sebuah kartu kepada wanita tercinta. “Kunci kamarmu, Sayang. Lain kali jangan lupa dibawa lagi jika keluar.”
Alceena mengambil kunci berupa kartu itu. “Terima kasih.” Dia segera membuka pintu dan hendak masuk ke dalam sebelum ada orang yang melihat.
Namun, Dariush mencegah tangan sang wanita hingga menatapnya. “Kau tak mau memberiku ciuman perpisahan?”
“Ck! Kita itu tidak terpisah, kamar saja bersebelahan.” Alceena menyingkirkan tangan Dariush hingga terlepas dari pergelangannya. “Aku mau ganti baju dan langsung ke tempat acara.” Tubuhnya pun masuk ke dalam kamar, dan menutup pintu segera.
Alceena tidak menunggu Dariush, dia pergi ke ballroom seorang diri. Bahkan tak mengabari pria itu juga.
Penampilan Alceena jauh berbeda dari saat keluar ke rumah sakit. Sekarang dia sudah memakai dress mini yang tak terlalu ketat tapi tetap nampak seksi, dan sepatu heels setinggi tiga centimeter.
Setelah melihat kembarannya, Alceena segera mengayunkan kaki ke sana. Duduk di kursi kosong tepat samping Cathleen.
“Ceena?” panggil Cathleen. Dia langsung memegang kening kembarannya, memastikan jika Alceena tidak sakit. “Kau baik-baik saja, ‘kan? Tadi aku ke kamarmu tapi tak kau jawab lagi saat ku panggil.”
Alceena mengelus lengan Cathleen agar tak khawatir. “I’m okay, tadi aku tertidur pulas.” Senyum manis terbit di bibirnya untuk meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.
Cathleen bisa bernapas lega. Sedari tadi tak bisa fokus ke acara karena memikirkan kesehatan kembarannya. “Lebih baik kita tidur bersama saja, Ceen, aku takut terjadi sesuatu hal buruk denganmu.”
“Kau khawatir berlebihan, Cath. Aku ini bisa menjaga diri dengan baik. Jadi, jangan khawatir.” Alceena menepuk pundak Cathleen pelan. Lalu matanya fokus ke depan, menyimak pemaparan projek dari perusahaan lain yang sedang membutuhkan investor ataupun mencari vendor terbaik.
Tak ada yang ingin diobrolkan lagi oleh Alceena. Dia memilih fokus pada acara saja.
Namun, lain hal dengan Cathleen yang salah fokus pada Dariush. Keturunan kedua keluarga Dominique itu baru saja masuk dan menatap ke arah mejanya terlebih dahulu sebelum duduk dengan Danesh dan Delavar.
Cathleen menyenggol lengan Alceena untuk diajak berbicara lagi. “Ceen?”
“Hm?” Alceena tak ingin menatap ke arah Cathleen karena sedang fokus ke acara.
“Tadi aku melihat Dariush keluar bersama seorang wanita yang dia akui sebagai kekasih. Kenapa sekarang dia datang sendirian ke sini, ya?” tanya Cathleen penasaran.
...*****...
...Cathleen tuh baek dan perhatian banget sama Alceena. Tapi sayang sekali selalu dituduh yang enggak-enggak wkwkwk poor Cathleen....
...Sek sek, sedang mencari moment yg tepat buat mengungkap pelaku, masih tenang dulu aernya, ombak belom dateng...