
...Bertemu lagi dengan Dariush dan Alceena di season 2. Patah hatiku belum terobati sih btw. Tolong ya penganten baru, jangan ada adegan mesra yang membuat para jomblo ngiri, soalnya nganan jalan buntu....
...*****...
Dariush langsung dilarikan ke rumah sakit saat tak sadarkan diri. Bahkan sepasang pengantin baru itu belum menandatangani dokumen sebagai bukti sudah menikah. Untung saja ambulan yang mengantarkan Dariush tidak pergi, sengaja menunggu di sana untuk berjaga-jaga kalau ada hal darurat yang menimpa salah satu korban kecelakaan beruntun tersebut. Tepatnya korban yang nekat melanjutkan rencana pernikahan disaat kondisi berdarah.
Alceena terus menangis di depan ruang Instalasi Gawat Darurat. Bahkan pakaian kerja yang digunakan untuk menikah pun ikut terkena darah.
Papa Danzel yang melihat putrinya sangat terpukul pun merasa bersalah. Dia terlalu kejam saat memberikan persyaratan. Tapi, semua hanya bisa disesali. Pria paruh baya itu mencoba mendekati Alceena yang sejak tadi tidak mau diajak duduk, padahal perut sudah buncit.
Tangan Tuan Pattinson melingkar di pundak salah satu putri tercintanya. Memberikan usapan semangat sekaligus bentuk penyesalan. “Duduk, ya? Kau sudah berdiri di sini sejak tadi, apa kakimu tidak lelah?” ajaknya dengan suara penuh perhatian.
Alceena menggoyangkan bahu seolah meminta Papanya menyingkirkan tangan. Kalau boleh jujur, dia marah, bahkan sangat marah hingga ingin sekali membenci orang tuanya yang memberikan persyaratan tak masuk akal pada Dariush—Daddy dari anak-anaknya sekaligus pria yang kini sangat dia cintai. Tapi, ia tak mampu melakukan itu, mengingat sejak kecil hingga besar, orang tuanya yang sudah merawat. Sehingga Alceena hanya bisa menunjukkan rasa kecewa yang teramat dalam.
“Tolong tinggalkan aku sendiri,” ucap Alceena dengan suara lirih dan tercekat.
Papa Danzel menghela napas pelan. Perasaannya tak enak jika belum mendapatkan maaf dari anaknya dan juga keluarga Dominique. Dengan berat hati, ia melepaskan rangkulan tangan yang sejak tadi berusaha disingkirkan oleh Alceena.
Papa Danzel beralih mendekati Tuan Dominique yang berdiri gagah menatap ke arah pintu IGD. “Ma—” Belum sempat ia menyelesaikan ucapan dan uluran tangannya juga tidak dibalas oleh pria penguasa bisnis di Eropa, orang yang diajak bicara sudah mengeluarkan suara terlebih dahulu.
Nyonya Dominique yang sejak awal terus menggandeng sang suami pun menggerakkan kepala, memberikan isyarat pada mantan kekasihnya itu supaya jangan mengajak suaminya bicara saat kondisi seperti ini. Dia sangat tahu bagaimana suasana Daddy Davis kalau sudah menyangkut anak.
Papa Danzel semakin tak enak saja pada keluarga Dominique. Dia pun berdiri, bersandar di samping istrinya yang sedang duduk.
Alceena sampai sekarang masih saja keras kepala, susah sekali diajak untuk istirahat. Tapi, saat Madhiaz yang sempat pulang untuk mengambilkan baju ganti kembarannya sudah menginjakkan kaki di sana, ia langsung melihat ke arah wanita berperut buncit di depan pintu IGD.
“Kenapa kalian membiarkan Alceena terus berdiri?” tanya Madhiaz pada semua orang yang sedang menunggu di sana.
“Dia yang tidak mau, bukan kami yang membiarkan saudara kembarmu seperti itu,” jelas Danesh yang berada paling dekat dengan Madhiaz.
Madhiaz menghela napas. Dia meletakkan tas tenteng berisi pakaian ganti Alceena yang diambil di mansion. Pria itu mendekati kembarannya.
Madhiaz tidak merangkul, cukup berdiri di samping Alceena dan sama-sama menatap ke arah pintu. “Ku dengar kau ingin berdiri di sini terus? Bagaimana kalau saat suamimu terbangun dan mendengar kau tidak mau duduk selama berjam-jam karena menunggu dia? Apakah suamimu akan senang?”
...*****...
...Sukurin lu Danzel, dimusuhi sama banyak orang HAHAHA salah sendiri kasih persyaratan yang ga dipikir panjang, sampe bikin ayang Dariushku berdarah-darah *emot marah*...