
Danesh dan Delavar yang berdiri di belakang Dariush dan Alceena pun mengulas senyum sembari bergeleng kepala melihat tingkah keduanya. Apa lagi Alceena yang terlihat menyukai tapi enggan mengungkapkan.
“Tentu saja kau tak fokus pada jalannya, karena matamu sedari tadi hanya menatap ke arah Dariush terus,” celetuk Delavar yang mulutnya sudah gatal untuk mengomentari kelakuan Alceena.
“Jika menyukai Dariush, lebih baik langsung katakan saja, sebelum kau menyesal saat kembaranku sudah dimiliki wanita lain.” Danesh dengan nada bicara datarnya ikut mengompori Alceena.
Namun, Alceena tidak menanggapi sedikit pun. Dia melirik Dariush yang berdiri tegak dengan wajah datar dan pandangan lurus ke depan. ‘Aku tak tahu perasaan apa yang saat ini ku rasakan. Tapi yang jelas, saat di dekatmu terasa nyaman.’ Alceena justru bergumam dalam hati.
Pintu lift pun terbuka. Berhenti di lantai tujuan Dariush. Dia menyempatkan untuk menengok ke belakang menatap kembarannya. “Aku keluar dulu,” pamitnya sebelum keluat dari lift.
Awalnya Dariush mendapatkan kamar yang berada di lantai sama dengan saudaranya. Tapi berhubung ada Alceena, dia memilih untuk merubah di dekat sang wanita.
Dariush mengayunkan kaki menuju kamarnya. Begitu pun Alceena yang juga berjalan di belakangnya. Mereka pun berhenti di depan pintu masing-masing.
Alceena menaikkan sebelah alis saat mendapati kamar bersebelahan dengan Dariush. “Kau tidur di situ?” tanyanya sebelum membuka kunci.
“Hm.” Dariush membenarkan dengan jawaban berupa gumaman.
Alceena mengulas senyum saat mengetahui jika kamarnya berdekatan dengan Dariush. Tak lupa mengelus perut setiap kali menatap wajah tampan yang masih nampak dingin.
“Aku di sini, kita bersebelahan,” celetuk Alceena memberi tahu.
Dariush membuka pintu kamarnya. Namun tak masuk ke dalam. Dia menatap Alceena dengan alis terangkat sebelah. “Memangnya kenapa jika kita bersebelahan?”
“Siapa tahu kau ingin mengobrol denganku, kita bisa bertemu di balkon,” jawab Alceena. Padahal itu adalah keinginannya, tapi tak mampu bibir itu untuk mengungkap.
“Tidak ada alasan lagi untuk aku mengobrol denganmu. Permisi.” Dariush menjawab sekaligus berpamitan untuk masuk ke dalam kamar.
Pria itu mengendurkan dasi menggunakan tangan kanan, sedangkan sebelah kiri berada di pinggang. “Apa dia lebih suka menyiksa diri dengan menatapku dari kejauhan daripada bersentuhan langsung?” Dia melempar asal kain yang baru saja dilepas.
Dariush sungguh tersiksa dengan sandiwara yang dia buat sendiri. Tapi jika tak seperti itu, belum tentu Alceena akan berinisiatif untuk melunakkan hati.
...........
Waktu pun menunjukkan malam. Agenda pembuka acara tahunan para pengusaha muda di Eropa itu akan segera di mulai. Banyak tamu undangan yang sudah hadir di ballroom.
Berita tentang kehamilan Alceena sudah menyebar luas karena dia sengaja mempublikasikan hal tersebut melalui berita internasional.
“Selamat atas kehamilanmu.” Salah satu pria yang dahulu pernah menghujat Alceena itu mengulurkan tangan dan kini mencoba berbaikan.
Namun, Alceena malas menanggapi. “Terima kasih.” Jawaban yang terlontar terdengar cukup sinis dari mulutnya.
“Pasti Brandon Brooks sangat menyesal sudah membatalkan pernikahan kalian,” celetuk pria lainnya.
Alceena hanya mengedikkan bahu sebagai balasan. Orang-orang yang kini sedang mengerumuninya itu sangat menjijikkan. Dahulu menghujat saat rumor tentangnya viral, sekarang berbondong-bondong menjilat.
...*****...
...Hei mbak e, kamu juga lagi menjilat janjimu sendiri loh wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...