
Sudahlah, Dariush tak akan memperdebatkan hal kecil itu daripada membuat Alceena sakit perut. Dia fokus saja mengusap permukaan kulit di balik dress pendek. Tangannya menyusup ke dalam sana tanpa permisi.
Sebenarnya Alceena sudah tak sakit perut lagi, tapi enggan untuk mengatakan pada Dariush, karena saat ini sudah nyaman mendapatkan usapan dari telapak tangan yang kekar. Terlalu enak sampai membuatnya tak sadar sudah terlelap begitu saja. Padahal, biasanya dia sering kesulitan untuk tidur di masa kehamilan ini.
Kendaraan roda empat itu pun akhirnya sampai juga di rumah sakit. Dariush tidak membangunkan Alceena, langsung saja membopong tubuh wanita itu keluar dari mobil.
Langit sudah gelap di sana, tapi Dariush tetap memaksakan diri harus segera memeriksakan kondisi wanitanya pada dokter.
“Tuan, ada yang bisa dibantu?” tanya salah satu perawat yang sedang bertugas untuk jaga malam.
“Aku ingin memeriksakan wanitaku pada dokter obgyn, malam ini juga,” jawab Dariush.
“Maaf, Tuan, boleh dibawa ke UGD dulu? Saya akan meminta dokter umum yang sedang berjaga malam untuk memeriksa kondisinya, jika memang membutuhkan perawatan dari spesialis, nanti akan saya panggilkan. Sebab, sedang tak ada dokter obgyn yang berjaga malam ini.” Perawat itu meminta dengan sangat sopan seraya menunjuk sebuah ruangan yang ada di bagian depan bangunan tersebut.
Dariush pun mengikuti perintah perawat. Dia membaringkan Alceena ke atas brankar di ruang UGD.
“Engh ....” Alceena merasakan tubuhnya terlepas dari rengkuhan Dariush pun melenguh dan mengerjapkan mata. “Apakah sudah sampai rumah sakit?” Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan cahaya yang terang.
“Sudah.” Dariush yang memilih tetap berdiri di samping brankar itu mengelus puncak kepala Alceena. “Maaf jika aku terlalu kasar saat membaringkanmu, sampai mengganggu tidurmu.”
Kepala Alceena segera menggeleng. “Tidak, kau memperlakukan aku dengan hati-hati. Memang sudah saatnya bangun saja,” jelasnya. Dia pun memberikan usapan pada tangan Dariush untuk memberikan keyakinan atas ucapannya.
Perawat yang tadi memberikan perintah pada Dariush pun masuk ke dalam UGD bersama dengan seorang pria yang berprofesi sebagai dokter.
“Malam, Dok,” balas Alceena.
Dariush tidak risau atau mempermasalahkan jika yang menangani Alceena adalah seorang pria. Mau bagaimana lagi kalau dokter yang ada hanya itu. Daripada wanitanya kesakitan, lebih baik menurunkan sifat posesifnya.
Dariush tak ingin mengambil alih stetoskop yang saat ini sedang dipegang oleh dokter dan diarahkan pada dada dan beralih ke perut Alceena. Tak ingin sok tahu, bidang kesehatan bukanlah keahliannya. Dia cukup menggenggam tangan wanitanya saja.
“Apakah ada keluhan yang Anda rasakan, Nona?” tanya dokter sembari mengecek denyut jantung dan beberapa organ yang ada di dalam perut Alceena.
“Tadi aku sempat merasakan kram dan nyeri di bagian perutku, tapi sekarang sudah tidak lagi,” jelas Alceena seraya menyentuh bagian yang sempat terasa tak enak.
“Dia sedang hamil muda, Dok.” Dariush segera menambahkan informasi. “Maka dari itu aku ingin memeriksakan pada bagian obgyn agar lebih jelas kondisi beserta janin dalam kandungannya. Tapi sayangnya tak ada yang berjaga malam.”
Alceena dibuat tercengang dengan ucapan Dariush. “Dari mana kau tahu jika aku sedang hamil?”
Dariush mengedikkan bahu. “Dari mana? Apa kau lupa jika menyebarkan berita kehamilanmu itu melalui media?” Dia tidak mau gegabah untuk memberi tahu jika dirinya adalah pendonor saat inseminasi Alceena dilakukan. Perasaan wanita itu belum jelas, apakah mencintainya atau tidak. Ada perasaan takut juga jika Alceena tidak terima jika Dariush adalah Daddy dari bayi yang sedang dikandung. Maka, lebih baik dirahasiakan sampai waktunya tepat untuk mengungkap.
...*****...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan kirim hadiah ya bestie...