My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 73


Dariush dan Alceena sudah sampai di rumah sakit. Mereka mengantri seperti pasien pada umumnya. Dan setelah menunggu selama satu jam, keduanya kini berada di dalam ruangan dokter obgyn.


Alceena berbaring di brankar, ditemani Dariush yang terus berada di samping wanita itu. Calon orang tua tersebut sedang melihat ke arah monitor yang menunjukkan janin lebih dari satu.


Ini adalah kali pertama Darisuh menyaksikan anaknya yang berada di dalam kandungan Alceena. Wajahnya berbinar karena memiliki kesempatan untuk mendampingi wanita yang dia cintai.


“Bagaimana kondisi anakku, Dok?” tanya Alceena.


“Perkembangannya bagus, Nona. Ukurannya juga sesuai dengan seumuran janin dua bulan,” jelas Dokter berjenis kelamin perempuan itu.


“Kemarin dan hari ini dia merasakan kram, apakah itu mempengaruhi kesehatan janinnya?” Dariush pun ikut bertanya, ingin memastikan pasukannya baik-baik saja.


Dokter membersihkan gel di perut pasiennya. “Apakah Anda akhir-akhir ini sedang banyak pikiran, emosi, atau kelelahan?”


“Sempat banyak pikiran, tapi sekarang sudah tidak,” jelas Alceena.


Dokter mengulas senyum, tangan menurunkan kaos pasiennya lagi. “Tolong dikurangi, jangan terlalu stres, ekspresikan saja apa yang ingin Anda lakukan, asalkan tidak beraktivitas berat yang bisa membuat kelelahan. Kalau menginginkan sesuatu, turuti saja, jangan dilawan.”


“Pagi tadi dia kram sebentar, tapi reda setelah ku peluk dan usap perutnya. Itu kenapa, Dok?” Dariush mengajukan pertanyaan lagi.


“Mungkin anak Anda sedang mencari perhatian Mommy dan Daddynya, sehingga mencari perhatian.”


“Tapi dia bukan Daddy dari anakku, Dok,” sanggah Alceena sembari berpindah posisi menjadi duduk.


‘Sembarangan, aku ini Daddynya.’ Dariush hanya mampu bergumam dalam hati saja. Tapi sebisa mungkin wajah tak menunjukkan mimik apa pun agar tidak mencurigakan.


Sedangkan Dokter mengulas senyum. “Maaf, saya tidak tahu. Mungkin janin Anda sedang ingin diperhatikan saja,” ralatnya kemudian. “Wajar saja, memang wanita hamil ada yang biasanya ingin dimanja. Sepertinya Anda adalah tipikal itu.”


Alceena mengangguk paham, tidak mencurigai apa pun setelah mendapatkan penjelasan kedua.


Setelah selesai memeriksakan kandungan dan menebus vitamin, Alceena dan Dariush kembali ke dalam mobil.


“Kau ingin jalan-jalan?” tawar Dariush yang saat ini sedang menggenggam tangan Alceena seolah tak ingin berjauhan dari wanita yang dia cintai.


“Kau yakin? Tak ingin jalan-jalan terlebih dahulu? Selagi kita sedang berada di luar,” tawar Dariush. Padahal dia yang lebih menginginkan berlama-lama dengan Alceena.


Alceena mengangguk yakin. “Aku datang ke sini untuk menghadiri pertemuan dengan pebisnis muda di Eropa, bukan untuk jalan-jalan. Dan sekarang sudah mulai agenda pemaparan projek tiap perusahaan, kebetulan aku sangat membutuhkan kegiatan itu,” jelasnya sangat detail.


Dariush mau tak mau akhirnya menuruti. “Baiklah.”


Kendaraan roda empat milik keluarga Dominique melaju dengan kecepatan sedang, kembali ke hotel.


Sebelum turun dari mobil, Alceena harus meminta sesuatu dengan Dariush terlebih dahulu. Dia menggenggam tangan sang pria dan menatap dengan sorot sangat memohon. “Tolong jika saat acara, kita berpura-pura masih musuhan, oke?”


“Kenapa?”


“Aku tidak ingin dinilai tak konsisten dengan omonganku, semua orang tahu jika aku tak menyukaimu, lalu mendadak kita dekat seperti sekarang. Dan hal itu pasti menjadi pusat perhatian semuanya. Aku tak mau hal itu terjadi.” Alceena mencoba berkilah, walaupun memang ada benarnya juga jika hubungan di masa lalu mereka sudah bukan rahasia lagi.


Dariush menaikkan sebelah alis seperti berpikir. Dia belum menjawab.


“Please.” Alceena sampai memohon sekali lagi.


“Ada syaratnya.”


“Apa?”


“Nanti malam kau harus tidur bersamaku, bagaimana?” Dariush mengulurkan tangan untuk meminta kesepakatan.


...*****...


...Pepet teros tiap ada kesempatan, jangan kasih kendor, biar kolormu aja yang dikendorin Bang Dar wkwkwk...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan kirim hadiahnya bestie...