
Dariush menutup kotak perhiasan lagi dan memasukkan ke dalam saku jas. Wajah tampannya berubah dingin pada detik itu juga. Tak ada kehangatan seperti yang selama ini dia tunjukkan pada Alceena. “Baiklah jika memang kau lebih memilih menepati janjimu pada Cathleen dan Papamu. Kita akhiri saja hubungan ini.” Setelah mengucapkan kalimat perpisahan, dia memilih untuk mengayunkan kaki keluar dari ruangan Alceena.
Jika usahanya selama ini sudah tak dihargai lagi, maka lebih baik menyerah dan berhenti mencintai. “Tak apa Dariush, patah hati itu wajar. Setidaknya kau sudah berjuang, walaupun hasilnya tidak seperti yang diharapkan.” Pria itu mencoba menyemangati diri sendiri.
Dariush tak berniat berbalik atau menunggu Alceena mengejar. Hatinya seperti baru saja dicabik-cabik. Sakit sampai tak bisa dideskripsikan lagi. Tapi, dia menganggap itu adalah konsekuensi dari mencintai seorang wanita keras kepala dan seenaknya. Memilih Alceena adalah keputusannya, jadi dia tak akan menyalahkan siapapun atas penolakan ini.
Sedangkan Alceena, wanita itu meneteskan air mata. Ada rasa bersalah saat melihat wajah kecewa Dariush. Tapi, dia tak mengejar pria yang baru saja memutuskan hubungan dengannya. Justru Alceena keluar dari perusahaan dan masuk ke dalam taksi untuk menyusul Cathleen.
“Maafkan aku Dariush. Bukannya aku tak ingin menikah denganmu, tapi aku akan menjelaskan hubungan kita kepada Cathleen dan Papaku terlebih dahulu. Semoga kau paham,” gumam Alceena yang saat ini sedang menatap ke arah luar jendela mobil dengan mata berkaca-kaca.
Alceena merasa perlu mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari keluarganya. Meskipun dia sangat ingin menikah dengan Dariush, tapi jika belum mendapatkan restu, pasti hidupnya akan tak tenang. Sebab, menikah jauh lebih terikat dibandingkan hubungan kekasih.
Sampai di mansion Pattinson, Alceena segera turun dari taksi setelah membayar jasa transportasi umum tersebut. Dia yakin kalau Cathleen pasti pulang, karena mobil kembarannya terparkir di dekat bangunan utama.
Saat hendak naik ke lantai dua, Alceena berpapasan dengan Papa Danzel.
“Kenapa kau buru-buru?” tanya Papa Danzel yang melihat jelas mimik wajah anaknya yang seperti ada sesuatu tak beres.
“Lebih baik Papa ikut aku jika ingin tahu.” Alceena menarik tangan orang tuanya agar tak perlu menjelaskan dua kali, dan lebih menghemat waktu.
Dua orang berbeda umur yang sangat jauh itu pun bersamaan naik ke lantai dua menggunakan lift. Alceena segera mengetuk pintu kamar Cathleen dengan memanggil nama kembarannya.
“Masuk saja, aku tak mengunci pintu,” sahut Cathleen dari dalam.
Alceena yang sudah resah jika Cathleen marah lagi pun langsung mendorong kayu berwarna putih di hadapannya. Mengajak Papa Danzel masuk ke dalam.
Mata Alceena menangkap Cathleen yang sedang duduk di atas ranjang seraya bermain ponsel. Berkali-kali dia menghela napas karena takut suadaranya marah.
Alceena menuntun Papa Danzel untuk duduk di samping Cathleen. Sedangkan dia di hadapan kedua anggota keluarganya itu. “Cath? Aku ingin menjelaskan sesuatu denganmu. Tolong jangan marah,” ucapnya dengan sangat halus dan berhati-hati.
Papa Danzel yang masih belum paham dengan situasi yang dihadapi oleh anak-anaknya pun menaikkan sebalah alis. “Memangnya apa yang terjadi? Kalian bertengkar lagi?”
“Alceena baru saja dilamar oleh Dariush, Pa.” Cathleen yang menjawab.
“Benar seperti itu?” tanya Papa Danzel pada Alceena.
...*****...
...Cathleen, Papa Danzel. Siap-siap kalian mendapatkan hujatan dari netijen kalo menghalangi Alceena nikah sama Dariush wkwkwk tapi tenang, aku tak akan menghujat kalian, justru mendukung seratus persen *tersenyum dengan maksud terselubung*...
...Jangan lupa liat post video terbaru aku di instagram @heynukha biar makin menghalu shay...