
Dariush tak langsung keluar dari kamar Alceena. Dia masih berdiam diri, duduk di tepi ranjang seraya mengelus puncak kepala sang wanita. “Mau aku ambilkan baju ganti? Atau kau ingin mandi?” tawarnya.
“Tidak, aku hanya ingin istirahat saja,” balas Alceena dengan seutas senyum yang sekarang mudah terbit saat berada di dekat Dariush.
“Mau aku temani?” Lagi-lagi Dariush memberikan penawaran yang menguntungkan untuknya.
“Tidak, terima kasih. Aku sudah cukup merepotkanmu hari ini. Kita tidur terpisah saja.” Namun sayang, Alceena menolak penawaran tersebut. “Aku tak ingin ada orang lain yang melihat dan membuat rumor tak enak lagi tentangku,” imbuhnya kemudian. Dia mengusap lengan Dariush saat melontarkan penjelasannya.
Alceena tidak ingin ketahuan oleh kembarannya jika dekat dengan Dariush. Sewaktu-waktu, Cathleen atau Madhiaz pasti bisa datang ke kamarnya.
Dariush menghela napas kecewa. “Kau yakin bisa tidur sendiri?” tanyanya seraya mengelus pipi mulus Alceena.
Anggukan kepala pun Alceena tunjukkan agar meyakinkan. “Setiap hari aku juga tidur sendiri. Kembalilah, besok masih ada agenda lagi.”
Rasanya berat meninggalkan Alceena sendiri. Tapi, yasudahlah, hari ini sudah cukup banyak dia memaksa sang wanita. “Oke, aku akan kembali ke kamar. Jika ada apa-apa, langsung teriak atau ketuk pintuku, atau buka blokir nomor whatsappku agar kau bisa mudah menghubungiku.”
Alceena menarik dua sudut bibirnya yang nampak canggung karena ketahuan memblokir nomor Dariush. “Iya, nanti aku hubungi lewat whatsapp.”
Dariush masih belum beranjak juga dari kamar Alceena. Justru saat ini sedang menatap lekat wajah cantik yang selalu mencuri perhatiannya sejak dahulu.
“Selamat malam, semoga tidurmu nyenyak,” ucap Dariush. Sedetik kemudian, bibirnya sudah bersemayam di kening Alceena, memberikan kecupan penuh kasih sayang.
Setelah beberapa saat, Dariush sedikit menarik kepalanya agar memberikan jarak walaupun tidak terlalu banyak. Dia tak mengucapkan apa pun, hanya saling bertemu pandang dengan Alceena saja.
“Kenapa menatapku sampai tak berkedip?” Alceena mengajukan pertanyaan dengan tangan mengusap lembut rahang tegas Dariush.
“Karena kau cantik dan aku ingin menciummu.” Tidak perlu meminta persetujuan. Memang Dariush selalu seperti itu, melakukan yang dia inginkan seenaknya. Anak kedua keluarga Dominique pun menyatukan bibir dengan milik Alceena. Bukan sekedar kecupan, namun sampai berperang lidah saat merasakan sang wanita membalas dan mengimbanginya.
“Mimpi indah, Sayang,” ucap Dariush sembari tangannya mengelus perut.
Sebelum benar-benar meninggalkan Alceena sendirian, Dariush mencium perut wanitanya. Barulah dia berdiri. “Aku pergi dulu,” pamitnya. Dijawab anggukan kepala oleh Alceena.
Dariush memutar tubuh, hendak mengayun menuju pintu. Namun, tangannya merasakan ada seseorang yang mecekal yang tak lain adalah Alceena.
Tentu saja Dariush menengok ke wanita pujaan hatinya. “Ada apa?”
Ulasan senyum tercetak di wajah cantik Alceena. Bukannya menjawab, dia justru menuntun tangan Dariush untuk dikecup. “Thank you.” Wanita itu berterima kasih atas waktu yang sudah diluangkan untuk hari ini.
“I love you.” Dariush justru membalas dengan ungkapan cinta.
Dan kali ini Dariush sungguh berjalan keluar kamar, meninggalkan Alceena seorang diri karena tak ingin ditemani.
Sampai di kamarnya, Dariush segera menanggalkan jas dan kemeja. Membiarkan tubuh berotot itu terpampang nyata. “Lumayan, setidaknya hubunganku dengan Alceena ada kemajuan.”
Sedangkan Alceena, dia berganti pakaian santai untuk tidur setelah sendirian. Mencuci wajah sebelum istirahat. “Kau senang, Nak? Mommy sudah berbaikan dengan musuhku.” Dia mengelus permukaan kulit perut, seperti mengajak komunikasi janin di dalam kandungannya.
...*****...
...Namanya juga pasukannya Dariush, pro sama bapaknya terus wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...