
"Sudah ku bilang. Jangan pernah ganggu Aida lagi, Rum! Tak bisa kah, kau membuat hidupku tenang? Aku bosan, aku lelah denganmu." amuk Om Edo pada istrinya.
"Mas, aku ngga sengaja, Mas. Ibu yang jatuh sendiri. Dan Dia..." tunjuk Tante Rum pada Amrul. "Dia bantu bawa Ibu ke pantai. Agar tampak sebagai kecelakaan."
Amrul tak perduli. Ia sibuk memperbaiki nafas dan menyembuhkan sakitnya. Ia hanya bisa memegangi dada, dalam pelukan istrinya.
Aida datang, melangkahkan kaki dan berdiri tepat di hadapan Om dan Tantenya.
" Mau apa kamu? Mau lawan Tante? Durhaka kamu." sergahnya.
"Durhaka, di lawan durhaka. Impas kan?" tanya Aida. "Nenek salah apa sama Tante? Ada, Nenek menjelek kan Tante? Perkara Kiara, Tante anggap nyawa di balas nyawa?"
"Kamu diam!" bentaknya.
"Ya, Aida diam. Dari dulu kok, Aida diam. Bahkan Aida merasa bodoh. Yang meski Aida curiga, tapi Aida nahan semunya. Supaya apa? Aida fikir Tante akan berubah. Nyatanya engga."
Akhirnya Aida mencurahkan segala rasanya kali ini. Tapi, tangis pun tak dapat keluar lagi dari matanya. Ia sudah terlanjur kecewa.
Polisi datang. Telat, karena harus memproses semua laporan Mei yang mendadak. Dan untungnya, sekarang mereka hanya tinggal tangkap tanpa adanya perlawanan dari Tante Rum.
"Kamu diam saja, Mas?" tanya Tante Rum, pada suaminya.
"Keika hanya berdebat, aku akan akan diam agar tak menjadi lebih panjang. Tapi, ini kriminal, Rum. Ibu kandungku korbannya."
"Kamu tega, Mas. Tega! Aku akan balas semuanya sama kalian!"
"Sudah, Arum! Hentikan! Menurutlah. Aku akan memohon pada Aida, agar mengurangi hukuman mu." timpal Om Edo.
Tante Rum di bawa polisi. Semua hanya diam menatap nya dengan mengelus dada. Separuh tak percaya, separuh merasa legas karena akhirnya Ia mendapatkan ganjaran.
" Tinggal kau," tatap Rayan dengan senyum sadisnya.
"Mau kau apakan aku?" tanya Amrul.
"Kau mau apa?"
"Aku hanya mau Aida! Aida milik ku!"
"Beraninya...."
"Diem! Aida terus, Aida terus. Dia udah punya suami. Disini ada anak kamu yang mau lahir. Berhenti!" amuk Tasya yang pecah pada akhirnya.
Rayan hanya tertawa. Tertawa dengan hati yang sangat puas. Bahkan, bertepuk tangan dengan apa yang Ia lihat.
"Selesaikan urusan kalian. Aku, akan bawa Nur ku pergi. Pergi, ke istana yang jauh disana. Menjadikan nya ratu. Kau ingin datang? Datanglah, dan bandingkan. Se kaya apa Bapakmu itu dibanding aku." tantang Rayan.
Sam menatapnya takjub. Rayan seolah spontan kembali pada dirinya. Pada sifat aslinya yang selalu tenang menghadapi sesuatu, sesulit apapun. Ucapan nya yang selalu dapat membuat orang lain diam dan takut dengan ancaman nya.
" Ya, itu Rayan kami." ucapnya dalam hati.
"Ray, kita pulang?" tanya Sam.
"Aku dengan Nur. Kau naik pesawat."
Rayan berjalan, dengan tangan Aida yang tak lepas dari genggaman nya. Langkahnya yang lebar, membuat Aida sulit menyeimbangkan diri. Ia sadar, dan langsung membopong tubuh Istrinya untuk masuk ke dalam Helikopternya.
Ini pertama kalinya bagi Aida. Takut, tapi Rayan selalu ada di sampingnya.
"Aida lupa. Minta Mei bawain pakaian buat Aida."
"Lupakan. Aku pinta Mona membelikan nya. Mei, akan menyusul, besok. Bersama Sam."
Aida mengangguk senang, menyandarkan kepala di bahu suaminya.
*
"Yah, Ai pergi. Mei sendiri deh." ucap Mei, lesu.
"Kau bersiap. Ikut aku naik pesawat. Penerbangan malam ini."
"Hah, serius? Mei pergi, sama Mas Sam?"
"Ya, bersiaplah. Kau akan jadi pendamping Nyonya disana." jawab Sam, dengan wajah super dingin nya.