
"Maaf, Nur. A-aku...."
Cup! Sebuah kecupan mendarat di bibir Tono. Seketika matanya melotot, benar-benar tak menyangka jika ini akan terjadi padanya. Apalagi, Aida lah yang akan memberinya terlebih dulu.
"N-Nur, Kamu?" gugupnya, benar-benar teramat gugup kali ini. Untung saja Ia masih bisa menahan diri, hingga tak terlalu lunglai dengan keadaan yang Ia hadapi. Jantungnya pun berdegup dengan begitu kencang saat ini.
"Kenapa? Ngga suka?"
"Su-suka sekali. Boleh minta lagi?" tanya Tono, keterusan. Untungnya, Aida dengan tulus memberikan kecupan itu lagi pada suaminya. Tak hanya sekali, tapi berkali kali.
"Aaah, rasanya aku seperti terbang. Terbang melayang begitu tinggi diudara, ditemani awan yang indah."
Untungnya, tak ada ombak besar yang menerpa. Atau, alam memang tengah memberi waktu untuk kedua nya memadu kasih.
Aida mengeratkan pelukannya. Bahkan lengannya naik ke bahu Tono saat ini. Mereka saling bertatap pandang dengan mesra, dan masih berada di dalam air yang dingin itu. Tak terasa mungkin, karena tertutup oleh kehangatan keduanya.
"Terimakasih," ucap Aida.
"Untuk?"
"Segala pengorbanan dan ketulusan hati Mas Tono untuk Aida."
"Sudah ku bilang, jika aku bahkan berhutang nyawa padamu." timpalnya.
Aida lalu meraih tangan Tono, dan melingkarkannya dipinggang Aida yang kecil itu.
"Astaga. Ini benar-benar Nur ku, kan? Kenapa justru aku takut, ketika Ia bersikap seperti ini?" toleh Tono ke kanan dan ke kiri.
"Hey!" Aida meraih kedua pipi Tono.
"Hah?"
"Lalu, Aida berhutang apa sama Mas?"
"Ja-jangan menggodaku." gugupnya.
"Mas mau Aida, sekarang?" Aida mendorong tengkuk leher Tono, dan menempelkan kedua dahi mereka. Terdengar olehnya, ketika Tono menelan salivanya dengan kuat.
"Pulang, yuk?" ajak Tono, dan Aida hanya memberinya anggukan lembut.
Mereka naik dari air pantai. Tono membawa sendal mereka berdua di tangan kanan dan kirinya. Spontan, Aida loncat naik ke pundak Tono. Untung Tono dapat menjaga keseimbangan mereka dengan baik.
Tono sedikit berlari membawa Aida dalam gendongannya. Sembari sesekali berputar bermain dengan sang istri yang juga terpingkal dengan aksinya. Dan kini, mereka telah tiba dirumah.
"Untung kuncinya ngga jatuh dari kantong celana." ucap Aida, lalu membuka pintu rumahnya..
Krek! Aida menutupnya kembali. Ia membalik tubuh, dan rupanya Tono telah menghadangnya dengan tatapan yang teramat tajam.
"Eeehmm," Aida menggigit bibir bawahnya, dan itu begitu menggemaskan. Tono langsung menarik lengannya, dan menghempaskan nya ke dinding. Ibu jarinya mengusap bibir manis itu dengan lembut, dan Aida memejamkan matanya.
Tono memang masih ragu. Tapi, nalurinya muncul seketika dan mampu mengambil alih suasana. Ia pun mendekat pada bibir merah itu, dan mulai mengecupnya. Sekali, Dua kali. Dan lidaah Tono mulai menyelinap masuk ke dalam rongga muluut Aida. Gadis itu pun berusaha mengimbanginya dengan segala naluri yang ada.
Mereka berhenti sejenak, untuk sesekali mengatur nafas yang nyaris habis. Aida yang , mengusap rambut Tono dan beberapa kali mengacaknya dengan gemas. Tono, secepat kilat membuka kemejanya dan membuangnya sembarangan di lantai.
"Aku baru sadar, kalau tubuh Mas Tono sesempurna ini." kagum Aida, melihat roti sobek yang terpampang nyata di hadapannya.
Sedangkan Tono. Ia seolah tengah diburu oleh segala rasanya. Rasa yang benar-benar telah Ia tunggu demi waktu yang tepat. Ia mengangkat pinggul Aida, dan Aida pun spontan melingkarkan kaki di pinggang Tono.
Tangan-tangan gemas itu pun mulai menghempaskan semua yang menghalangi setiap gerilyanya.
*Lanjut ngga? Lanjut ngga? Hayoooo🤣🤣🤣