Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Pertanggung jawabkan kesalahanmu, Sam


"Mei, jalan yuk?" ajak Aida, yang tampak sangat lesu dirumah itu. Hanya berbaring dan menatap langit-langit kamarnya berdua dengan Mei.


"Kemana? Gabut kali Ai rupanya."


"Gabut dikamar terus. Mau keluar, adanya Mami. Lagi males debat, lagi males adu argumen. Semuanya males," keluh Aida.


"Iya, tapi mau kemana? Masa iya ke kantor Mamas. Ngapain?"


"Nah, itu dia. Ayo, kita ke kantor Mas Ray." Aida tampak semangat dengan pancingan Mei.


"Lah, kok malah di iyain?" tatap Mei padanya.


Aida lalu bangun dari kegabutan nya. Ia menuju lemari dan bergegas merapikan diri. Aida memang cuek dengan penampilan biasanya. Tapi untuk kali ini, Ia berusaha agar tampak sempurna dan mempermalukan suaminya disana.


"Tumben dandan?" tatap Mei, heran.


"Jangan banyak nanya, Mei. Ayo dong, cepetan. Disana ada Kak Dev loh."


Mei yang awalnya malas, tampak langsung sumringah dan bangun dari tidurnya. Tanpa aba-aba, Mei bergegas dan berlari keluar menuju kamarnya.


"Pujaan hati, rupanya." gumam Aida.


Tak lama, Mei masuk lagi dengan pakaian yang lebih rapi. Dengan tas selempang, berkemeja pendek dan celana jeans. Sederhana, tapi itu style Mei selama ini.


"Mei belum beli baju lagi. Kan tahu, Mei sekarang pengangguran." ucapnya, menghampiri Aida di meja riasnya.


"Kode apa itu?" tanya Aida.


"Kode umum. Yang penting Mei ngga menyesatkan macam labirin. Cukup hati Mei aja, yang terjebak labirin cinta dari Kak Dev yang sedingin salju." jawab Mei, panjang lebar.


Aida hanya menggelengkan kepalanya. Ia pun telah siap, dan mereka pergi bersama.


"Mana?" tanya Mei, menoleh kanan dan kiri rumah itu.


"Nyonya cari siapa?" tanya seorang pelayan, yang mengagetkan keduanya.


"Mami," jawab Aida.


"Beliau pergi, tapi saya pun tak bertanya kemana. Nyonya sendiri?"


"Boleh. Saya akan panggil Mang Amin untuk mengantar. Karna Mang Jono mengantar Nyonya Mami."


"Baik, terimakasih." angguk Aida.


"Ai, naik mobil lagi?" tanya Mei, agak ngeri.


"Ya iya, Mei. Naik apa? Aida ngga ngerti daerah sini, kalau harus naik motor."


Mei menghela nafas pasrah. Mau tak mau Ia ikut, meski tubuhnya sudah terasa panas dingin. Apalagi, ketika mobil mewah itu mulai dibuka pintunya. Bau parfum semerbak membuat perutnya mual dan sakit kepala.


Mei pun harus mengeluarkan jurus andalannya. Jurus diam dengan kepala menyender di jendela yang tertutup rapat itu.


"Udah mual?" tanya Aida, dan Mei tak menjawabnya sama sekali.


***


"Bangun lah, Sam. Aku tak suka melihatmu meratap seperti itu. Perbuatanmu, harus kau pertanggung jawabkan." ucap Rayan dingin.


"Kau, mau menjebloskan aku, ke...."


"Tidak... Aku tak akan melakukan itu. Kau yang harus pertanggung jawabkan kesalahanmu, padaku dan Dev."


Sam berdiri menuruti perintah Ray. Ia berjalan dengan begitu lemah, seolah tak ada semangat hidup baginya saat ini. Berjalan menyusuri setiap lorong di ruangan yang luas itu.


"Ai, Mei ke kamar kecil dulu. Ngga enak, pusing rasanya, "


"Iya, kamar kecil di ujung sana. Di ruangan Mas, ada sih."


"Engga, disana aja," tunjuk Mei, lalu memisah diri dari Aida.


*


"Ah, leganya." ucap Mei, yang keluar dan telah membasuh wajahnya. Tampak begitu segar. Ia melihat Sam berjalan dengan tatapan kosong, terus berjalan dan tanpa sadar menaiki beberapa anak tangga.


"Loh, itu orang mau kemana?" tanya Mei dalam hati.