
Mei pulang terlebih dahulu setelah semua orang menjemput Amrul. Aida dan Tono masih menunggu mang Usman mengantarkan belanjaan Nek Mis ke warungnya. Mereka saling diam, dudu sembari menonton tv yang banyak semutnya itu.
"Nur?"
"Hmmm?"
"Amrul cinta mati sama kamu?"
"Ngapain bahas dia sih?"
"Nanya aja."
"Hmm, ngga usah bawa-bawa dia lagi. Dua orang yang selalu buat Mood Aida jelek."
"Salah satunya?" tanya Tono, entah sengaja atau memang tak faham.
"Masih nanya? Au ah, kesel." geram Aida, yang lalu beranjak dari tempat duduk nya.
"Nur, masih mau ngobrol." tarik Tono pada lengan Aida.
"Huufftzz!" Aida menghela nafas, "Apa lagi?"
Aida akhirnya kembali duduk di samping Tono, dan kembali menatap layar tv nya. Tono memainkan jari beberapa kali. Aida tahu jika ada yang memang tengah Ia tahan untuk ditanyakan.
"Apa?" tanya Aida dengan lembut kemudian.
Tono mengulurkan senyum. Terpaku dengan kelembutan yang Aida berikan. Apalagi, itu sangat jarang terjadi.
"Nur, bukannya pengen kalau orang lihat kita mesra? Seperti, suami istri pada umumnya?"
"Ya, terus?"
"Katanya, biar mesra itu, istri anterin makan siang ke suaminya. Ketempat kerja."
"Hah?. Mas pengennya, Aida anterin Mas makan siang ke Rumah sakit. Begitu?" tanya Aida di balas anggukan Tono yang tampak penuh harap.
"Iya, Nur." angguknya.
"Jangan ngadi-ngadi, ah. Aida sibuk, lagi banyak kerjaan. Lagian disana juga ada jatah makan. Siapa sih, ngajarin begitu?"
"Senior, Nur. Katanya dulu mereka juga gitu. Kan, katanya biar mesra."
"Engga!"
"Nur, sekali aja." rengek Tono dengan kedua telapak tangannya. Aida yang kembali kesal langsung berdiri. Sedikit ada perdebatan antar keduanya mengenai bekal makan siang. Tono masih merengek dan memohon perhatian pada istrinya.
"Tapi kan pengen, Nur. Ayolah, sekali aja." Tono ikut berdiri menghadap Aida.
"Jangan kayak anak kecil. Banyak bener mintanya."
"Cuma Satu!"
"Iya hari ini. Besok lain lagi... Ngga usah, Aida sibuk."
Aida memutar tubuhnya. Hendak pergi meninggalkan Tono yang bibirnya masih manyun Dua centi. Aida sudah ingin meninggalkan Tono, tapi suaminya itu justru meraih baju bagin belakangnya.
"Oppps!" kaget Tono, yang rupanya bukan hanya menarik kaos bagian luar. Tapi, juga tertarik hingga ke bagian underwearnya.
"Mas Tono!" panggil Aida, dengan helaan nafas yang dalam. Matanya terpejam, dan tampak sekali ketika Ia menahan emosi yang nyaris saja meledak bagai gunung berapi.
"Yang kamu tarik itu apa, Mas?" tanya Aida dengan nada datar.
"Nur, maaf. Ini, Behanya ikut ketarik." Tono melepaskan tali itu, hingga berbunyi mengenai kulit punggung Aida.
"Sakit!!" pekiknya sekuat tenaga.
"Maaf, Nur! Maaf ngga sengaja." ucap. Tono dengan wajah yang tampak takut.
Tatapan itu benar-benar tajam dan menakutkan. Tono spontan lari, dan Aida terus mengejarnya.
"Sini, rasain sakitnya. Jahat banget."
"Maaf, ngga sengaja, Nur." pekiknya yang terus berlarian menghindari sang istri.
Terdengar kegaduhan di dalam. Terdengar suara berisik antara keduanya yang tengah bertengkar. Mang Usman, rupanya di luar tengah menurunkan belanjaan itu sendirian.
"Ya, ku maklumi.. Namanya juga pengantin baru." gumamnya.
*
"Nur, maaf." ucap Tono, yang berbaring di ranjang beralaskan tikar itu. Nafasnya tersengal, akibat bermain kejar-kejaran barusan.
"Ya, Aida maafin. Besok siang, Aida anter makanan ke Mas Tono. Tapi, jangan terlali berharap. Soalnya, besok ada pertemuan." jawab Aida, yang duduk dengan sebotol air dingin dalam genggamannya..
Tono tersenyum puas. Rasanya tak dapat di bayangkan, antara bahagia, gemas, dan semua rasa yang ada di hatinya. Ia berguling meringkuk, sembari menggoyang-goyangkan kakinya.
" Aneh," ledek Aida padanya.