Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Hanya bisa bilang sabar


"Ai, kok lama?"


"Mas Tono, barusan nelvon. Video call, maksudnya. Repot kalau mau VC, harus dia dulu. Kalau Maminya datang, harus cepet di matiin. Ngga enak, Mei." keluhnya, mengusap wajahnya dengan kasar.


"Mei belum pernah ngalamin. Tapi Mei hanya bisa bilang, kalau Ai harus sabar. Itu aja."


"Andai Nenek masih ada." sesalnya.


Gelisah menggigiti kuku yang ada di jarinya.


Ya, Mei tak mampu berkata apapun. Hanya sabar dan ikhlas sesuai apa yang Tono minta padanya. Apalagi, semua orang mulai bergunjing tentang dirinya yang ditinggal begitu saja oleh suaminya. Belum lagi menghadapi Amrul, yang semakin gila setelah tahu jika Tono pergi.


*


"Jangan kamu ganggu Aida lagi, Rum. Hentikan." ucap Om Edo pada istrinya itu.


"Kenapa? Kan aku cuma bilang kenyataan. Dia itu ditelantarkan suaminya. Nyatanya, sudah Satu minggu tak pulang. Katanya kaya, masa bolak balik seminggu sekali aja ngga bisa."


"Kamu hanya tak tahu, apa kesibukan Dia selama jauh. Mereka orang penting, apalagi Tono harus menjalani masa pengobatan."


"Sepenting apa, Dia? Palingan, dia sedang diberi wejangan, atau bahkan di jodohkan dengan wanita yang kaya disana. Yang satu level. Tak seperti keponakanmu itu."


"Teruslah mencibir, Rum. Hingga kamu lelah sendiri." tukas Om Edo, yang masih sibuk dengan gambarnya.


Tante Rum hanya menatap bengis. Lanjut dengan setoples cemilan dan acara di tv besarnya. Ia selalu mengalihkan pembicaraan, jika itu mengenai Tiara. Anaknya.


**


" Hari ini jadwal pembacaan hasil MRI. Apapun, harus kita terima. Bahkan, jika cara penyembuhan harus dengan operasi."


"Amnesia, harus operasi?" tanya Rayan pada Sam.


"Ya, salah satu alternatif. Jika ternyata ada penggumpalan di bagian otak. Apalagi, kau sering mendadak sakit kepala."


"Ya, semoga saja tidak. Dan jika iya, aku ingin Nur mendampingiku."


"Hey, ayolah. Jangan libatkan dia dulu."


"Baiklah. Aku tak bisa berkutik dalam hal ini." balas Sam. Ia pun merasa Rayan mulai kembali berubah seperti biasa. Karena Ia tahu, terapi terbaik untuk Amnesia adalah keluarganya sendiri.


"Memorimu berangsur kembali, sesuai bagaiamana jati dirimu." fikir Sam yang senang melihat perubahan itu.


Keduanya turun, menghampiri Mami Bianca yang menunggu mereka dibawah.


"Kenapa lama? Apa yang kalian bicarakan?"


"Perlukah Tante tahu? Ini pembicaraan antar pria dewasa. Apalagi, pria dewasa dan mapan seperti kami." balas Sam, dengan tatapan tenangnya.


"What? Kamu jangan ajarin Ray macem-macem, Sam. Dia masih sakit."


"Ah... Dia hanya kehilangan memorinya. Bukan hasratnya. Jiwa lelakinya normal."


"Sam!" pekik Mami Bian, dengan wajah yang tampak cemas.


"Hey, Mam. Sudahlah. Kenapa harus ribut di meja makan?" tegur Rayan..


Mami Bianca hanya mendelik kesal pada Sam. Dibalasnya dengan mengedikkan bahu penuh rasa puas, karena telah berhasil memancing emosi Tante nya itu.


Sarapan selesai. Sam dan Rayan pergi berdua, seperti yang telah di rencanakan. Mengunjungi Dokter, dan mencari tahu lebih dalam pengobatan yang harus di lakukan.


"Bagaimana, Dok?" tanya Rayan, tampak tegang.


"Tak ada yang terlalu parah. Amnesia terjadi karena semua trauma yang di alami. Benturan, tampak hanya sedikit dan tak begitu signifikan menjadi penyebab amnesia." jelas sang Dokter.


"Lalu, bagaimana jalan agar segera sembuh?"


"Konsumsi makanan yang baik, vitamin. Dan selalu asah ingatan. Hanya itu, yang harus di lakukan. Ia akan berangsur kembali."


Penjelasan dan cara yang kurang memuaskan bagi Rayan. Ia ingin segera, agar hidupnya bisa kembali normal. Ia tak sanggup, jika harus lebih lama lagi berpisah dengan istrinya sekarang.


" Saya fikir, ada cara yang lebih cepat.  Operasi, misal." tanya Sam.