Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Kamu siapa?


"Aaaaaakkk!" Aida kesakitan ketika tubuhnya terbentur ujung ranjang.


"Sayang, ngga papa?" tanya Ray, dengan perhatian penuh.


"Rayan! Apa-apaan ini? Siapa Dia?" Mami Bianca tampak begitu syok. Nafasnya terasa begitu sesak dan wajahnya pucat. Apalagi, teriakan itu mengundang semua asisten Rumah tangga datang padanya.


"Saya, Aida. Saya...."


"Saya siapa? Siapa!!" Mami bianca makin tersulut emosinya. Merah bantal kecil di sofa dan melemparnya pada Aida. Untungnya, tangan Rayan sigap menangkisnya.


"Nur Istri Rayan, Mam!" tegasnya


Mata Mami Bianca semakin melotot lebar. Bahkan mulutnya ternganga nyaris di masuki lalat. Rayan spontan menggenggam tangan Aida, menyeretnya kebelakang punggungnya. Aida tertunduk, antara kaget dan takur kali ini.


"I-istri? Istri kamu bilang? Istri darimana?"


"Istri Rayan, dari kampung pesisir. Kami, sudah menikah Tiga bulan, Mam. Baru tadi, Rayan jemput Nur disana."


"Nur? Aida? Mana yang benar?"


"Nur Aida Rindayani, Mami." jawab Aida.


"Haish, Astaga. Sam, mana Sam?" tanya Mami Bianca yang masih dalam kagetnya.


"Sam, masih dalam perjalanan kemari, menggunakan pesawatnya." timpal Rayan lagi."Mam, Ray sudah menikah. Dan Nur, Istri Ray. Dia akan tinggal disini bersama kita."


"Mami butuh banyak penjelasan. Bersihkan diri kamu, segera turun dan kiya bicara. Panggil Mona dan Dev." pinta Mami Bian. Ia pun melangkah kesal meninggalkan mereka berdua. Bahkan, pintu kamar Ia hempas dengan kuat.


"Mas, Mami mu muda banget? Kok gitu?" tanya Aida, bernada cemburu.


"Ya, seperti itulah nyatanya. Nanti, aku jelaskan. Segeralah mandi, dan kita turun ke bawah." kecup Ray, menenangkan.


"Ini nya, bukain." manja Aida, kesulitan dengan kemben yang Ia pakai.


Sebenarnya rindu. Sebenarnya rasa itu bergejolak begitu dalam. Apalagi, Ia menatap tubuh Aida saat ini.


"Mas ngga mau Aida, sekarang?" tawarnya lembut.


"Belum. Kita selesaikan urusan kita dulu. Baru, kita dapat tenang, nanti."


"Baiklah." jawab Aida. Ia meraih handuk, dan menutup tubuhnya sembari berjalan ke kamar mandi. Tak lupa, membawa semua yang Mona belikan untuknya.


"Sabun mandi, sabun muka, sabun.... Ah, Mba Mona begitu terampil. Bahkan, skincare pun ia belikan." puji Aida. Ia terkagum, karena semua yang dibeli adalah barang mahal.


"Wow. Kalau di kampungku, demi beli skincare ini, rela arisan mingguan." kagumnya.


Ia mulai mengguyur tubuhya. Mencuci rambutnya yang kaku akibat hairspray yang di pakai di sanggulnya. Begitu harum aroma tubuhnya saat ini, membuat Rayan tak henti memujinya.


Aida tengah menyisir rambut panjangnya di kaca. Wajahnya tampak berseri-seri. Apalagi, mengenakan dress abu-abu bermotif bunga yang indah. Rayan membungkuk, memeluknya dari belakang dengan begitu mesra. Aida pun mengusap wajah Rayan dengan begitu lembut.


"Nur, kamu ngga di jahatin kan, sama Amrul?"


"Engga, Mas." balas Aida. "Kejadian begitu cepat. Udah nyaris pasrah, tapi akhirnya Mas dateng.".


Rayan memutar kursi Aida, lalu bersimpuh di hadapannya. Mencium kedua tangan Aida dan lagi-lagi menatapnya dengan tajam.


"Maaf, jika kemarin, aku belum bisa membuat keputusan untuk diriku sendiri."


"Aida ngerti. Yuk kebawah. Mami, sudah menunggu. Nanti ngamuk lagi," Aida berdiri, dengan menggeggam tangan Rayan.


Rasanya begitu tegang. Seolah, Ia akan di sidang dengan banyak pertanyaan kali ini. Tapi kembali lagi, setidaknya Ia dan Mas Tono nya akan selalu bersama setelah ini.