Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Aarrrkh, menyebalkan!


"Sayang, bangun. Hari sudah pagi," bujuk Ray pada istrinya yang masih begitu nyaman terlelap.


Aida menggeliat, mengangkat tubuhnya dan duduk dengan mata yang masih terpejam. Begitu sulit rasanya, hanya untuk membuka mata


"Hey, ayolah. Ini sudah nyaris siang. Biasanya, Nur yang selalu mengomel ketika Tono kesiangan."


"Tapi masih ngantuk banget," keluh Aida, yang kembali ambruk di ranjangnya.


"Nur Aida...."


"Iyaaaaa! Aida bangun. Mulai galak deh." Aida mulai menggerutu. Ia pun berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


"Udah, mau apa?"


"Ganti," Ray memilihkan pakaian olahraga untuk sang istri.


"Hah? Olahraga? Mas, Aida males. Nanti abis olahraga, badan Aida sakit semua." tukasnya, mendekati Ray dan mulai mengeluarkan jurus penuh rayuan dan tatapan genitnya. "Kalau badan Aida sakit-sakit, nanti ngga bisa...."


"Dan kalau badanmu tak sehat, aku akan lebih sulit mengontrol permainanku." balas Ray, dengan tajam membalas tatapan mata Aida padanya.


Aida pun menghela nafas kasar. Menghentak kan kakinya kesal dan meraih pakaian itu. Ray duduk di depannya, menyaksikan sang istri mengganti pakaian itu dengan tersenyum gemas.


" Udah," jawab Aida, yang telah memakai leging dan pakaian khusus olahraganya. Cukup minim, tapi mereka melakukan itu di rumah.


"Kau tak akan boleh keluar, jika pakai baju begini." colek Ray, genit. Ia pun tak segan mengikatkan rambut Aida, agar tak mengganggu olahraga nya nanti.


Aida hanya mencebik kesal, mengikuti Ray yang berjalan dengan menggandeng tangannya. Ia membawa sang istri ke ruang belakang. Banyak peralatan olahraga disana. Bahkan nyaris lengkap..


"Kenapa ngga ke Gym?" tanya Aida.


"Kenapa? Sama saja."


"Disana, banyak instruktur. Pasti keren. Tubuhnya kekar, ganteng, dan...." Ray pun membuka kaosnya dan memperlihatkan segala otot itu pada Aida.


"Belum cukup? Atau, kamu mau melihat otot yang lain? Kamu akan kewalahan nanti.."


Aida hanya menelan salivanya dengan kasar."Otot yang dimaa?" fikirnya, kacau.


Aida tampak tak semangat. Mengikuti semua gerakan Ray alakadarnya. Sesekali, mencuri waktu untuk duduk di lantai dan menghela nafas lelahnya.


"Hey, siapa yang menyuruhmu istirahat?" tegur Dev.


"Tapi capek, laper, serasa lemah tak bertenaga." lebay Aida.


"Haish, wanita ini. Sini," tarik Ray, lalu membawanya bergeser ke tempat yang di gelari karpet di bawahnya. Ia pun berbaring, dan kedua lengan nya di jadikan penahan kepala.


"Duduk, disana." tunjuk Ray dengan bibirnya. Ia meminta Aida duduk di betis dan menahan kakinya, agar Ia dapat **** up dengan mudah.


"Begini?" tanya Aida, yang sudah dalam posisinya.


"Membungkuk sedikit,"


"Iya, sabar," Aida cemberut, tapi tetap menurutinya.


Ray memulai **** upnya. Menaik turunkan tubuhnya tepat berhadapan dengan Aida. Bahkan, begitu dekat. Aida sempat takut. Takut jika wajahnya terbentur wajah Ray.


"Hati-hati. Nanti kejedot, ngga lucu." tegur Aida.


"Terus, maunya gimana?" tanya Ray dengan nafas sedikit berat. Ia mengangkat tubuhnya lagi. Tepat di depan Aida, Ia mendaratkan kecupann di bibirnya. "Begitu?"


Aida bengong, dan membalas tatapan Ray dengan tajam.


"Kenapa, Suka?" tanya Ray.


"Iya, suka. Mau lagi, boleh?" pinta Aida dengan manja. Ray makin semangat, melakukan **** up berkali-kali dan mendarat dengan manis di bibir istrinya yang ranum itu. Aida bahkan mencondongkan tubuh dan memanyunkan bibirnya, agar semakin dalam kecupan itu untuknya.


*


Mami Bianca naik keatas. Ia memang sering olahraga ketika hari libur. Langkah kakinya dengan semangat memasuki ruangan itu dengan bersenandung ria.. Tapi, pemandangan menyebalkan pun Ia lihat dengan begitu kesal..


"Aaaaarrrrghhh! Menyebalkan! Haruskan melihat itu pagi-pagi?"