
"Selamat pagi..." sapa Aida dengan begitu ceria, pada mereka yang ada dimeja makan. Dengan kemeja bigsize dan hotpantnya, dan rambutnya yang terurai panjang dan basah.
"Pagi Ai...." balas Mei tak kalah cerianya. Apalagi, Ia tengah menunggu kabar Sam yang memperjuangkannya disana.
"Kampungan... Itu rambut diiket dulu kalau mau makan. Air nya kemana-mana, belum lagi rontok nanti." tegur Mami Bian, begitu sewot menatap keduanya. Seperti singa yang ingin menerkam kapan saja dengan segala amarahnya.
"Kenapa? Ngga pernah keramas ya? Kasihan. Cari suami lagi, sana. Ngga ada yang larang kan? Bertahan disini, juga mau apa?" balas Aida, dengan begitu tenang sembari menyendokkan nasi ke piringnya. Tak lupa, mengambil beberapa lauk yang begitu nikmat terhidang disana.
" Makin lama, makin berani, ya? Udah mulai kuasa, sekarang? Berasa jadi nyonya besar, gitu?"
" Mami yang bilang, bukan Aida." tuturnya dengan menikmati sepotong paha ayam montokhnya.
Mami Bian mencebik kesal. Sudah ingin rasanya mengamuk, tapi untung datang Ray dari atas dengan tangan yang tengah merapikan dasinya.
" Memikirkan perut sendiri, suami ngga diurusin." Mami Bianca langsung berdiri, dan meraih Ray untuk membenarkan dasinya. Aida hanya diam, dengan makannya yang lahap.
"Terimakasih, Mam." ucap Ray, lalu datang menghampiri istrinya di sana. Aida menyambutnya dengan manis, dan langsung menyendok kan nasi ke piring yang tercinta.
"Ya, bagaimana pun... Suami akan tetap kembali pada istri." Aida seolah belum ingin berhenti melempar ledekannya. Membuat Mami Bianca makin gemas dan mengembangkan nafasnya beberapa kali.
"Sudah lah, ini sarapan. Harusnya tenang," tegur Ray.
"Aida tuh," tunjuk Mami dengan bibirnya. Ray hanya menggelengkan kepala dan lanjut makan dengan sesekali menatap Mei.
"Ada kabar, dari Sam?"
"Belum, Mas. Belum ada kabar apapun," balas Mei.
"Kami akan bertemu di kantor. Kau tenang saja dirumah, dan jangan kemanapun."
"Iya, Mas." angguk Mei.
Sarapan selesai, diringi dengan bersiap nya Ray pergi ke kantornya. Aida menggandeng tangannya dan mengantarkannya hingga ke mobil. Meninggalkan Mei dan Mami Bianca yang masih santai disana menurun kan sisa nasi mereka.
"Kenapa ketawa? Ngga ada yang lucu." tegur Mei.
"Ngetawain kamu. Iya, kamu. Bisa-bisanya, memberi harapan pada Sam begitu besar. Udah diapain?" tatapnya penuh hina.
"Stop, Mam. Ngga ada habisnya ngeledekin kami. Sangking sepinya hidup kah?"
"Ciiih! Ngapain mencari hiburan dari kalian. Mending pergi, shoping, ke mall. Ngabisin uang."
"Yaudah sana, pergi." usir Aida, yang membuatnya semakin kesal.
Kadang Aida menatap keanehan dari matanya. Meski huru hara, tapi Ia begitu tampak kosong, dari matanya. Semua keributan yang Ia buat, hanya untuk mengisi kekosongan itu meski sedikit.
*
"Sam, bagaimana?" tanyq Ray, yang memanggilnya masuk keruangan.
"Dev kenapa? Kenapa begitu keras hatinya saat ini?" ucap Sam dengan kegundahan dalam hatinya.
"Dia kenapa?"
"Dia.... Dia ingin aku menyerahkan Mei padanya. Dia ingin Mei menjadi ganti Fany untuknya. Aku... Aku harus bagaimana?"
Ray tersulut emosinya. Ia merasa Dev mulai egois saat ini, dan seolah tak ingin orang lain dengan bahagianya sendiri. Hingga mengingin kan apa yang mereka miliki.
" Apakah, Dev mencintai Aida?" tanya Sam.
" Ya, dengan jujur Dia mengatakan Iya."
"Dev membahas itu semalam. Seolah, kita sudah menghalangi semua bahagianya. Adik, hingga orang yang Ia sukai. Aku harus apa?" tanya Sam, yang mulai tampak frustasi.
*Gays, maaf ya. Otor lagi sibuk bgt persiapin buat lebaran haji. Insyaallah, nanti up 1 bab lagi, 🙏🙏 Happy Idul Adha. 😘😘