Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Apalagi ulahmu, Rum?


"Aku lelaki lemah, Nur. Aku bahkan tak dapat berkorban sedikitpun untukmu. Aku hanya beban untukmu."


"Kata siapa? Jangan dengerin kata orang. Mereka ngga pernah tahu, apa yang telah Mas hadapi agar bisa membahagiakan Aida. Mereka hanya bisa menilai, tanpa pernah mau mengerti."


"Maaf, Nur." akhirnya kata itu keluar lagi dari bibir manis Tono.


Aida mengusap rambutnya, terus membelainya hingga terasa tenang. Lalu Ia pun meminumkan obat untuk Tono.


Segelas air putih membawa obat itu masuk ke dalam kerongkongan. Tono menelannya dengan baik. Mungkin, Ia pun juga lelah dan ingin istirahat dengan tenang malam ini.


"Mau Aida peluk?" tawar sang istri.


"Boleh? Aku, sangat menginginkannya. Tak perlu erat, hanya ingin kau dekap saja." tanya Tono.


Aida hanya mengangguk dengan senyumnya. Ia membersihkan tempat tidur dan merapikan bantal, meminta Tono segera tidur dan Ia memeluknya dari belakang. Sulit, karena memang tubuh pria itu lebih besar dari tubuhnya yang mungil. Ia meninggikan bantalnya, agar dapat mendekap tubuh Tono dengan sempurna.


"Apa aku, harus sedih dulu. Sedih, agar kamu mau memelukku setelahnya?" batin Tono, menikmati semua sentuhan lembut Aida di tubuhnya. Mengelus lengan hingga rambutnya, meski belum berani mengecup hingga saat ini.


"Nuuur,"


"Iya?"


"Kenapa, aku justru ngga bisa tidur."


"Kan, kaan! Ah, males. Udah di rayu-rayu, malah ngga bisa tidur."


"Maaf," jawab Tono.


Aida beringsut, mengurangi bantal tingginya dan kembali berbaring membelakangi Tono.


"Hmmm." jawab Aida. Tono hanya tersenyum, lalu perlahan mengarahkan tangannya memeluk Aida. Pelukan, tepat dipinggang rampignya itu. Bahagia, dan semua yang Ia rasa menjadi satu saat ini.


*


Pintu rumah terbuka. Tampak Om Edo tengah fokus dengan gambar-gambar yang berusaha Ia selesaikan. Tante Rum masuk dengan perlahan, tapi Om Edo masih saja faham dengannya.


"Apa lagi ulahmu kali ini, Rum?" tanya Sang suami padanya.


"Engga, ngga ada. Emang kenapa?"


"Aku tahu, Rum. Kamu buat ulah lagi dengan Aida. Apa, putusnya hubungan kami, belum membuatmu puas?"


"Belum, dan ngga akan pernah puas. Aida harus menderita, baru aku bahagia."


"Kenapa obsesimu begitu gila? Kematian anak kita, bukanlah salah Aida atau pun Ibu. Itu memang sudah jalannya."


"Ya, memang jalannya. Dan apakah karma, ketika ibu juga mati tenggelam dipantai yang sama dengan Kiara?"


Pertanyaan, yang membuat Om Edo spontan diam dan menghentikan pekerjaannya. Ia bahkan nyaris mematahkan pensilnya hanya dengan genggamannya yang begitu kuat.


"Kenapa, mau marahin aku lagi? Kamu masih ngga inget, mas. Gara-gara Ibu yang selalu memberi perhatian ke Aida, anak kita meninggal! Dan kini, suami cucu kesayangannya itu, bahkan ngga bisa menolongnya yang tenggelam dipantai. Ngga guna!"


"Yang kamu katakan tak berguna itu, sekarang naik jabatan, Rum. Setara denganku." jawab Om Edo, dengan santai. Ia tengah menghindari sebuah ingatan pahit, mengenai meninggalnya sang anak Tujuh tahun lalu. Kejadian yang membuat trauma begitu dalam, bahkan memecah keluarga itu sejak dulu.


Tante Rum melangkah dengan sombongnya, masuk ke dalam kamar mereka yang besar. Om Edo, lagi dan lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Kenapa masih saja begini, Rum. Aku sudah menuruti mu, untuk jauh dari Ibu agar kau tenang. Tapi, justru malah Aida yang sekarang kau jadikan sasaran?"