Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Perginya Nek Mis


"Gimana, Ton. Lumayan gajimu?" tanya Pak Nasir, yang sama-sama berjalan membawa amplopnya keluar ruangan.


"Lumayan, Pak. Alhamdulillah. Cukup, buat beliin Nur cincin."


"Ya, cepatlah pulang. Besok libur, kamu bawa cahayamu itu ke toko Mas. Meski emas baru itu bukan buat dia, tapi mahar kalian lunas." ucap Pak Nasir.


Tono mengangguk, lalu merapikan barang-barangnya. Ia segera pulang. Tapi menuruti Aida dulu, jika Ia harus ke warung Nek Mis untuk membantunya berberes disana.


" Pak, duluan." pamit Tono. Ia tak bertemu dengan Om Edo kali ini. Dengar-dengar, Om Edo sedang ke kantor pusat untuk membahas mengenai proyeknya. Dan, sembari Ia memperkenalkan Tono dengan  bantuan yang telah menyelesaikan  karyanya.


Motor berhenti tepat di depan warung Nek Mis. Keadaan warung begitu lengang, dengan pintu yang terbuka. Tono masuk dan memanggilnya berkali-kali, tapi tak kunjung ada jawaban.


"Nek, Nenek dimana?" panggilnya lagi. Ia pun berjalan, mengitari warung hingga ke pantai untuk mencari sang Nenek.


"Neeek! Nenek! Tono pulang nek! Pulang yuk," panggil nya lagi berkali-kali. Tapi, tatapan Tono terganggu oleh sebuah pengelihatan.


Ada seperti tubuh seorang wanita terapung di pantai. Ia terus memperhatikan dan memberanikan diri untuk mendekat. Apalagi, ketika air asin itu sudah menyentuh kakinya. Rasanya, langsung lunglai dan lemas gemetar.


Tono memaksakan diri mendekat, dengan segenap keberanian yang ada. Dan semakin jelas, jika Nek Mis lah yang ada di sana. Dibalik bebatuan dan diam terapung.


"Nek! Astaghfirullah, Nenek!" panggil Tono dengan begitu kuat. Air matanya menganak sungai, Ia kebingungan harus berbuat apa pada Nek Mis disana. Yang entah dalam keadaan bagaimana.


"A-aku tak bisa masuk ke air. Jika aku nekat, aku justru tak akan bisa menolong Nek Mis. A-aku harus cari bantuan." ucap Tono, yang kemudian beralari sekuat tenaga mencari bala bantuan.


Tak perlu jauh, karena Ia segera menemukan pangkalan Pak Usman. Ia memanggil dan segera menariknya dengan segera menuju Nek Mis dan menolongnya.


" Kamu ngga bisa tolongin, apa? "


" Mang, maaf Mang. Saya takut kalau saya justru pingsan sendiri. Nenek tak jadi tertolong. Ayo, Mang." mohonnya..


Mang Usman pun meminta bala bantuan, hingga beberapa orang datang. Masuk ke dalam air, dan menolong Nek Mis mengangkatnya dari air.


"Kepalanya teebentur. Lihat itu," tunjuk salah seorang dari mereka.


"Bukan main lagi ini. Ayo, bawa ke Rumah sakit. Tono hubungi Aida, terus tutup warungnya." pinta Mang Usman.


Mereka pun pergi dengan menggendong Nek Mis, masuk ke dalam engkot itu. Sedangkan Tono, kembali ke dalam warung untuk mencari Hp Nek Mis.


**


"Mei, aku kok gelisah?"


"Iya, kamu kenapa sih? Ada sesuatu? Atau, kangen sama Tono?" Mei justru menggoda nya.


"Mei, serius aku tuh. Bener-bener, ada yang bikin cemas, kepikiran, tapi entah apa."


"Coba hubungi Nenek." ucap Mei.


Aida akhirnya mengangguk, lalu meraih Hp yang ada di tas kecilnya. Menekan nomor Nek Mis, lalu menunggu seseorang mengangkatnya. Kebetulan, waktu itu Tono pun tengah mencari Hp itu dimana-mana.


"Hallo, Nur."


"Eh, iya, mas. Kok Mas Tono yang angkat?"


"A-aku sudah pulang dan, aku sekarang di warung."


"Oh, iya. Nenek mana?" tanya Aida, masih sedikit santai.


"Nur, maaf. Aku telat, tapi.... Nenek ku temukan tergeletak di pantai, Nur."