
"Kau, mencari ini, Sam?" tanya Ray, ketika Sam datang ke ruangan Ray sesuai panggilannya.
Ray mengeluarkan sebuah album foto dari lacinya, beserta sebuah buku berisi catatan yang selama ini Ia simpan di perpustakaan rumahnya. Album itu, berisi semua foto Fany. Semua foto yang seharusnya bersama, Ia potong dan Ia kumpulkan menjadi satu koleksi.
"Ray, kau?" tatap Sam dengan mata nanar.
"Kau terkejut? Ya, sama. Aku juga terkejut ketika aku mulai mengingat semuanya. Rasanya, ingatan ini ingin kembali ku hapus, agar aku tak pernah tahu semua terjadi." ucap Ray, berdiri dan menghampiri Sam.
"Kau yang mencintai dia, bukan aku."bisiknya, ditelinga Sam yang wajahnya mulai tegang.
Tangan Sam gemetar, wajahnya pun seketika pucat pasih dengan buliran keringat menetes di dahinya. Sam bersimpuh, dengan membuka album foto itu satu persatu.
"Kenapa kau bohong? Apa karena aku lupa? Apa karena itu, kau bersikeras memintaku operasi? Kau ingin, agar aku lupa selamanya. Meninggalkan Nur, dan selalu turut semua mau mu. Itu, yang kau mau?"
"Ray... Hentikan, Ray." jawabnya lemah, dengan suara tertahan perih. "Sejak kapan, kau ingat semuanya?"
"Aku yang harus banyak bertanya, Sam. Kenapa kau lakukan itu? Ku fikir, Mami yang selalu terobsesi padaku. Memintaku, agar selalu menuruti apa maunya. Tapi kenapa kau?"
"Tyfany menyukaimu,"
"Ya, aku tahu. Dan kau, mencintainya. Benar?" Dev mengangkat bagian pinggang celananya. Lalu berjongkok untuk menatap wajah Sam yang sedari tadi tertunduk lemah, terus menatap foto gadis manis itu. Ia seusia Aida dan Mei, jika masih bertahan hidup di dunia ini.
Sam menangis sejadi-jadinya, bersimpuh menggenggam salah satu foto Fany dengan bergitu erat. Nyaris basah dengan air matanya yang begitu deras. Dev masuk, mendengar semua kegaduhan yang terjadi disana bersama Mona.
Tangan Ray menggenggam, pertanda agar Dev tetap diam ditempatnya.
"Sam, kau mencintainya. Kenapa tak memperjuangkan nya? Kenapa kau berikan dia padaku, hingga Ia sendiri putus asa dan pergi?"
"Dia tersenyum ketika menatapmu, Ray. Dia bahagia ketika sedang membicarakanmu, apapun tema nya. Dia selalu semangat, mencari semua mengenai dirimu."
"Lantas, kau rela diam diantara kami?"
"Aaaaaaarrrrggghhh!" pekiknya histeris, membuat Dev semakin cemas padanya.
"Apa alu harus memaksakan kehendak dan membuatnya kecewa, Ray! Kau tak tahu bagaimana di posisi ku. Tidak! Ketika bersamaku, tapi selalu kau yang Ia bahas." Sam tampak semakin frustasi, dengan semua keadaan dirinya.
"Kau ingat surat itu? Ia bahkan tak mampu berkata-kata hanya untuk merayu mu. Dia memintaku merangkainya. Lalu, ku rangkai kata itu dengan begitu indah. Itu dari hatiku untuknya, tapi Ia berikan padamu."
Dev menitikan air mata di belakang sana. Merasakan sakit yang Sam rasakan saat itu. Memang benar, Fany begitu menyukai Ray, hingga menyimpan semua foto Ray di kamarnya. Tapi, Dev pun kini merasakan, bagaimana ketika rasanya menjadi Sam. Mencintai, tanpa bisa memiliki sejak awal pertemuan.
"Kau memintaku menurutimu, agar aku tak pernah menerima hati yang lain? Agar aku, tak pernah mencintai yang lain?"
"Tidak. Kau milik Fany, kau tak boleh menyakiti hatinya, Ray. Aku yang tak rela. Aku tak rela!" frustasi Sam semakin menjadi-jadi. Kali ini, Dev datang dan langsung memeluknya dari belakang. Ia, bahkan tak segan mengecup Sam berusaha menenangkan hatinya.