
"Ai, makan yuk. Udah siap nih," panggil Mei pada sahabatnya itu.
"Iya, bentar." Aida masih duduk di tempat tidurnya. Mei pun akhirnya menghampiri, dan ikut duduk di depannya.
"Nunggu apa?"
"Mas Tono, belum nelpon."
"Sabar, Ai. Mas Tono mungkin lagi sibuk. Tahu sendiri, asalnya bagaimana. Pekerjaan, keluarga, dan semua yang menyangkut dirinya. Pasti Dia sedang sibuk untuk berusaha mengembalikan ingatannya sekarang."
"Tahu, Mei. Tapi... Sekali aja, biar aku tenang." balas Aida, galau.
"Yuk, makan dulu. Jadi nanti, kalau ada panggilan, kamu seger dan bersemangat. Masa iya, kelihatan lesu. Langsung cemas Mas Tono mu."
Aida pun mengangguk. Ia menuruti Mei untuk keluar kamar dan menuju meja makan. Tapi, Hp nya tak juga Ia lepas dari genggaman. Ya, Mei faham dan tak menegurnya dengan itu.
Usai makan, Mei membereskan semuanya. Sebuah panggilan pun datang dari nomor asing. Ragu, tapi dorongan begitu tinggi untuk menjawabnya.
"Wah, Video call." gumamnya. Ia langsung menggeser layar, dan tampak wajah sang suami tepat di layar Hp nya.
"Mas Tono," panggil nya lembut, dengan perasaan yang begitu bahagia.
"Hey, Nur. Sedang apa?"
"Abis makan, sama Mei. Mas lagi apa? Sibuk?"
"Ya, lumayan. Aku seperti sedang di cecar oleh semua masa lalu ku. Terkadang sampai sakit kepala, karena harus mengingat kembali semua memori yang hilang." balas Tono disana.
"Mas, sakit?" tanya Aida, sedikit cemas.
"Hanya sedikit. Seperti biasanya aku sakit kepala. Dan besok, aku akan ke dokter spesialis untuk memeriksakan semuanya."
"Iya, hati-hati. Lakukan semua yang terbaik. Aida mendoakan dari sini." angguk Aida.
" Lakukan aktifitas Nur seperti biasa. Bahagiakan hati, meski aku tak ada. Semua yang terbaik yang akan di lakukan."
Aida pun tak lupa, memberi beberapa saran untuk suaminya. Terutama, cara menenangkan ketika trauma atau rasa sakitnya mulai kambuh. Karena biasanya, Aida lah yang akan bisa menyembuhkan seketika. Entah dengan pelukan, atau kecup manjanya. Tono akan sering merindukannya setelah ini.
"Rayan, kamu telepon siapa?" Mami Bianca tiba-tiba masuk. Rayan pun langsung menutup Hp dan meletakkan nya diatas nakas.
"Yah, mati. Itu suara siapa?" gumam Aida, yang cemberut mendengar suara yang begitu lembut itu.
"Ya, Mam? Hanya menelpon teman. Kenapa?"
"Kamu sudah minum obat?"
"Ya, sudah. Hanya tinggal istirahat. Tapi, belum bisa." balasnya.
Mami Bian menghampiri, lalu duduk di sebelahnya. Bertanya kembali, tentang bagaimana kejadian kala itu. Tapi, Rayan benar-benar tak ingat semuanya. Tapi, Ia harus bohong mengenai Aida, dan hanya menceritakan bagian Nek Mis saja pada Maminya.
" Baguslah. Mami, hanya tak ingin bertemu dengan orang, yang nanti akan memanfaatkan kamu."
"Tidak, mereka baik. Semuanya baik di sana. Merawat Rayan dengan sepenuh hati, meski dengan segala keterbatasan yang ada."
"Baiklah. Tidurlah, Sayangnya Mami." usap Mami Bian di rambut Rayan.
"Ah, sepertinya kamu harus perawatan besok. Rambutmu, wajahmu, tanganmu. Astaga, semuanya kusam dan tak terawat." gerutunya, memperhatikan sang Putra yang memang tak seperti biasanya."
"Perawataan?"
"Ya, kamu harus sempurna seperti Rayan yang biasanya. Rayan yang tampan, tegas, dan berwibawa. Jika. Begini... Ini adalah penampilan kuli." cibir Mami Bian.
"Ya, aku memanh jadi kuli belakangan ini. Tapi, itu menyengkan." senyum Rayan.
"Apa? Kamu jadi kuli! Astaga, astaga sayang. Mami ngga percaya." Dada Mami Bian langsung sesak, dan serasa ingin pingsan