
Dev menoleh, lalu meraih tangan Mama nya untuk duduk di sofa. Kini, Mama Lia berusaha menjadi penengah antara keduanya. Menatap kedua putranya secara bergantian.
"Apa yang terjadi?" tanya Mama Lia, berusaha tenang dan mengatur nafas nya.
"Ma, maafin Sam. Sam, telah melakukan kesalahan yang fatal."
"Sam, Stop!" tegur Dev, menghentikan ucapan Sam lebih lanjut. Hanya tak ingin jika, Mama Lia syok kembali mengulang kisah lama.
"Kenapa diam? Kenapa Mama ngga boleh tahu? Mama....." ucapan terhenti, karena nafas mulai tersengal. Dev yang cemas pun, kemudian membawa Mama Lia kembali ke kamarnya.
"Jangan terlalu banyak fikiran. Dev dan Sam, tak menyimpan banyak rahasia. Hanya sebuah kesalahfahaman. Tenang, dan tidurlah." usap Dev dengan begitu lembut. Apalagi, hari sudah larut malam dan memang waktunya semua orang beristirahat saat itu.
Dev pun berdiri dan kembali pada Sam, setelah yakin Mama Lia telah tidur dengan pulas.
" Bagaimana Mama?" tanya Sam, tampak cemas.
" Aku hanya tak ingin menambah beban Mama. Ini semua demi Mama, dan demi ketenangan Fany. Aku maafkan, kau."
Sam tersenyum dengan lebar. Terasa begitu lega, meski itu semua belum berakhir. Dev, seperti akan meminta sesuatu pada Sam. Dan Ia mulai lagi dengan semua rasa takut dalam hatinya.
"Aku minta Mei." ucap Dev, bagai sebuah petir yang menyambar tepat di jantung Sam.
"Maksudmu?"
"Ya, aku ingin Mei jadi adik ku. Apalagi? Bahkan, aku tak akan pernah bisa mendapatkan Aida."
"Sam, tapi.... Bagaimana aku? Aku sudah janji, akan menikahinya."
Sam hanya bisa menelan salivanya, lalu berdiri pergi meninggalkan Dev dengan segala emosinya. Ia pun sakit, padahal baru saja ingin bangkit berkat Mei. Andai bisa memberi yang lain, pasti Ia akan memberikan semua yang Dev minta, asal jangan Mei.
Bahkan, hingga sampai dirumahnya, Sam tak mampu memejamkan matanya. Sedangkan Ia masih butuh teman bicara dan tak ingin mengganggu Mei dengan istirahatnya yang damai.
*
"Sayang, kenapa?" Ray menghentikan cumbuuannya pada sang istri. Ketika mereka tengah duduk di sofa, dan saling memadu kasih disana. Aida pun melepas pelukannya pada sang suami.
"Serasa, kayak ada sesuatu. Tapi apa?" Aida mengusap dadanya yang berdebar dengan kuat.
"Ada yang sedang di fikirkan?" Ray membelai rambutnya dengan mesra.
"Ngga tahu, Mas. Seketika dan sekejap. Seperti terngiang akan sesuatu. Tapi, Aida ngga tahu itu apa. Serasa diujung ingatan," imbuhnya.
Keduanya duduk berdampingan, dan Aida tertunduk berusaha mengingat dan memikirkan apa yang baru saja lewat dalam fikirannya. Begitu menganggu, tapi begitu sulit di mengerti.
" Yaudah... Kalau begitu, Nur tidur aja dulu. Aku masih ingin melanjutkan pekerjaan." ucap Ray, tampak sedikit kecewa. Pasalnya, Aida lah yang memancingnya tadi. Ia berdiri, namun Aida kembali menarik lengannya hingga tubuhnya tepat di hadapan Aida saat ini.
" Katanya sedang tak enak hati?" tatap Ray.
" Tapi, bukan tak enak body." balas Aida, lalu merah tengkuk Ray dan mengikis jarak antara mereka. Begitu dekat tanpa jarak, saling bertukar saliva dengan nafas yang memburu dari keduanya. Bahkan, Ray seolah tak mampu lagi menahan yang sempat tertunda, dan seketika pakaian mereka telah bertebaran sembarang diatas lantai keramik putih itu.
Malam itu begitu panas. Membuat lupa semua beban yang ada dalam fikiran, meski hanya sementara. Ray pun tak hentinya menyesaap setiap jengkal tubuh indah itu, dengan segala bagian pavoritnya yang tak pernah lolos dari setiap serangan yang Ia berikan. Tak perduli, suara mereka akan menembus dinding sebelah atau kemanapun itu.
"Brengseeeek! Aaaarrrrg...!"