
"Heh! Ngaapain kamu otak atik kerjaan suami saya? Ngga sopan!" bentak Tante Rum yang mendadak datang. Ia pun segera menyambar pensil yang Tono pegang dan nyaris merobek kanvas yang barusan Tono garis.
"Ngga akan ngerti kamu tuh, kerjaan orang hebat begini. Kamu apa? Sekolah aja mungkin engga. Tampang aja tampang bloon gitu." ejeknya membabi buta.
"Tante! Apa-apaan sih? Hina orang ngga pake jeda, enteng banget mulutnya." lerai Aida yang buru-buru keluar dari kamar, setelah mendengar keribuatan.
Tante Rum hanya melirik sinis. Apalagi jika tidak sedang mempersiapkan hinaan yang lebih pedas pada Aida dan suaminya itu.
" Sama-sama jelata, sama-sama ngga guna. Kerjaan aja ngga jelas."
"Mama! Apa lagi sih?" tegur Om Edo yang datang belakangan. Biasa, kalau nongkrong ngga bisa di ganggu.
"Lihat, nih. Sama itu," tunjuk Tante Rum pada karya suaminya. Karya yang memang tengah Ia garap, tapi ada saja kesalahan yang Ia lakukan. Hingga proyek tak kunjung dilaksanakan hanya karena pola bangunan tak kunjung beres.
"Ini? Siapa yang melakukan ini?" tanya Om Agung, nemeperhatikan setiap garis di gambarnya.
"Maaf, Om. Tadi saya lihat, ada yang tidak simetris. Hanya Dua inci, tapi bisa membuat semua hancur." jawab Tono.
"Sok tahu," bibir Tante Rum kembali mencibir.
"Tono, kamu arsitek?" tanya Om Edo, yang sedikit takjub kali ini.
"Saya... Ngga tahu, Om. Saya ngga ingat. Itu hanya insting saya saja, dan hasrat memperbaiki yang salah. Sepertinya."
Om Edo merangkul Tono, lalu mengajaknya duduk sejenak. Ia justru membentang kanvas itu, dan meminta Tono memeriksanya sekali lagi. "Coba, mana saja yang menurutmu janggal?" tanya nya.
Karena di persilahkan, Tono pun mulai memeriksa. Jari jemari dan matanya begitu jeli. Bakan Satu Milimeter pun seolah tak lepas dari pengawasan nya. Ia pun tak segan menghapus, dan membuat garis baru yang lebih simetris.
"Mas, kamu bisa?"
"Ngga tahu, Nur. Spontan aja. Seperti, langsung bergerak begitu saja tanpa aba-aba." jawab Tono.
Om Edo meraih kembali gambarnya. Ia memeriksa dan tak henti nya berdecak kagum. "Hebat. Seminggu Om kerjain ngga selesai. Tapi di tangan kamu, semuanya langsung jadi." pujinya..
"Maaf, Om. Merusak karya yang sudah dibuat susah payah."
"Engga merusak, ini bener. Bagaimana, kalau kamu kerja sama Om?"
"Tapi.... Saya bahkan ngga tahu siapa saya. Identitas pun, saya ngga punya. Bagaimana bisa, orang yakin bekerja sama dengan saya?"
"Iya juga," om Edo mengusap dagunya.
"Kamu, ikuti Om saja dulu. Kemana aja, apa aja kerjain. Kalau ngga malu, nguli dulu juga ngga papa. Buat semua orang percaya kinerja kamu. Baru, kamu merangkak naik perlahan."
"Benarkah?" tatap ceria Tono, lalu beralih pada Aida. "Boleh, Nur?"
"Ehmm, yaudah. Kalau Mas mau, ya ngga papa. Tapi inget, belum boleh kerja terlalu berat." pinta sang Istri padanya. Karena memang kesehatannya perlu di jaga saat ini.
"Nah, boleh kan? Masalah kesehatan, nanti Om bantu awasi. Bagaimana?" Om Edo menjulurkan tangan, dan langsung di sambut oleh Tono dengan baik.
"Ciiih! Gaya nya, dari dulu males main orang dalem. Males, masuk pake bantuan sodara. Nyatanya! Menjilat ludah sendiri kamu, Da." cebik Tante Rum, masih dengan segala hinaan yang keluar dari mulut lemasnya.