Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Perkara rendang sapi


"Assalamualaikum... Assalamualaikum!" Mei mengetuk pintu dengan membabi buta. Bahkan, suaranya begitu nyaring memekakkan telinga.


"Waalaikumsalam," Tono membuka pintu rumah itu.


"Kok, baru pulang, Mei?" tanya Tono.


"Baru pulang. Ya iyalah, disana Mei ngga ada yang bantuin kerja. Aida mana?"


"Lagi masak, kenapa?"


"Ngeselin." omel Mei. Ia pun masuk dan langsung menghampiri sahabatnya itu.


Aida tengah berdiri, dengan segala masakannya. Tampak Ia memakai hot pants dengan dengan kaos oblong kebesaran yang sering Ia pakai. Tapi bukan itu fokusnya. Melainkan, rambut Aida yang terurai panjang dan masih sangat basah. Baunya puu wangi, semerbak mengisi seluruh ruangan.


Syuutz! Mei menyisir rambut Aida dengan jarinya. Membuat Aida spontan memekik kesakitan.


"Apaan sih, Mei?" gertaknya keras.


"Kok basah? Abis mandi?"


"Ya, kenapa?"


"Ini masih siang. Kok mandi?"


"Ih, kepo. Tadi yang ngerjain Mas Tono, siapa? Segala bilang aku cemburu dan langsung mau nyemplung ke laut?" Aida membalik badan dan menatap sinis sahabatnya itu.


"Kan, Mei hanya ingin memper erat hubungan kalian. Membuat benih-benih di hati kalian tumbuh seperti seharusnya."


"Terus? Yaudah, kenapa nanya." timpal Aida.


Mei mengerucutkan bibirnya. Menatap sinis pada Aida. Kepo nya hilang, tatkala Aida tak sengaja mengibaskan rambut basah itu dan memperlihatkan lehernya yang bertanda.


"O EM JI." tatap Mei dengan tajam. Fikirannya menerawang kemana-mana. Pantas saja, keduanya betah dirumah sampai tak kembali lagi ke pesta Amrul.


"Hey! Kamu kenapa?" tepuk Aida di bahu Mei.


Mei menutup pintu kamarnya perlahan. Ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur, dan menjerit bahagia di tutupi oleh bantalnya..


"Aaaaaaarrrgggg! Nenek. Mereka akhirnya menjadi suami istri seutuhnya. Mei berhasil, Nek. Mei berhasil!" pekiknya dalam hati.


Nek Mis sebenarnya tahu, bagaimana hubungna kedua pasangan cucunya itu. Ia meminta Mei agar terus mendampingi mereka, dan agar Mei bisa menumbuhkan getaran cinta antara keduanya. Nek Mis, berharap masih ada ketika cucu buyutnya lahir. Tapi apalah daya, semua tak kesampaian.


Mei bahkan menumpahkan air matanya, apalagi ketika melihat wajah Aida semakin berbinar. Tampak, jika Ia pun begitu bahagia setelah membuka hatinya.


"Ngga perduli apa-apa. Yang penting, Ai sama Mas Tono bahagia. Setelah itu, seret aku juga agar bahagia." harapnya. "Tinggal nuggu keponakan launching."


Mei tertidur sejenak mengobati lelahnya. Wajar saja, sebagai anak juaragan ternama di daerah itu, tamu di pesta Amrul begitu membludak. Makin sore, maka akan semakin ramai. Membuat semua orang yang membantunya kelelahan.


" Nur, Mei ngga dibangunin? Waktunya makan." tanya Tono, yang membantunya mempersiapkan meja makan.


"Eh, iya. Lupa kalau dia udah pulang. Bentar ya, Mas." Aida melangkahkan kakinya, mengetuk pintu kamar Mei dan membangunkan nya.


"Makan dulu," bujuk Aida, pada gadis yang telah dianggap sebagai adiknya sendiri itu.


"Mandi dulu." jawab Mei.


Aida mengangguk, dan pergi untuk menunggunya di meja makan. Hingga beberapa lama, Mei pun keluar. Ia duduk berhadapan dengan Tono dan Aida. Wajah keduanya tampak berseri-seri, tampak begitu bahagia. Meski, masih saja sesekali Aida menampakkan kegalakannya seperti biasa.


"Nur, aku ngga suka ini." Tono menyingkirkan sebuah rendang dari piringnya.


"Kenapa? Ini enak, Mei yang bawain dari pesta."


"Ngga suka. Serasa, akan terjadi sesuatu jika aku makan itu. Rasanya, aku akan alergi. Mungkin."


"Apakah, Mas Tono mulai mengingat sesuatu, dengan perkara rendang sapi?" tanya Mei, yang tampak begitu semangat dengan makanannya.


"Ingat? Apakah perlahan akan ingat? Lalu bagaimana aku, jika Ia kembali pada keluarganya?" hati Aida gelisah.