Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Gaun jadul dari Mami


"Selamat pagi, Pak." sapa Mona dengan ramah. Di belakangnya menyusul Dev, yang juga menyambut kedatangan Rayan. Wajahnya tampak kusut, seperti ingin menghindar namun tak bisa.


"Pagi, Dev." sapa Ray terlebih dulu.


"Ya, pagi. Ada beberapa laporan yang harus Anda cek hari ini. Mona akan membawakan nya." jawab dev, sedikit berat.


Rayan hanya tersenyum, menepuk bahu Dev dan meninggalkan nya. Sementara Sam, menatap mereka dengan penuh tanda tanya. Tapi bingung, akan bertanya pada siapa.


"Beginilah, berada di tengah-tengah." keluhnya.


Rayan masuk keruangan, dan segera duduk rapi menghadap semua file nya. Tidak semua, karena Sam membagi dua pekerjaan itu. Dev ingin membantu, tapi keuangan perusahaan harus Ia cek dengan sangat rapi. Apalagi, untuk Rumah sakit yang baru mereka garap.


"Ceritakan bagaimana aku dan Dev," mendadak Rayan berbicara meski tatapan nya fokus pada file.


"Hah, bagaimana?" Sam terperanjat.


"Masa laluku dengan Dev. Aku yakin dia orang baik, aku yakin dia itu tulus. Aku hanya ingin tahu, karena kau lah yang pasti faham." balas Ray.


Sam meragu, tapi mengangguk. Ia pun mulai nenceritakan semua pada Ray. Dari masa kecil mereka yang selalu bersama, nyaris tak pernah terpisah.


"Kau, pernah menyukai Adik Dev. Tyfani." ucap Sam.


"Aku, jatuh cinta? Tapi, aku merasa seperti tak pernah punya kekasih." Ray memicingkan matanya.


"Kalian saling suka. Terutama Fany, yang begitu sayang denganmu. Tapi, status kalian tak mengizinkan itu. Kalian sepupu, satu keturunan dari Kakek kita."


"Lalu, apa yang terjadi. Mana Fany sekarang?" tanya Ray.


"Meninggal."


"Hah, meninggal?"


"Ya, Fany meninggal. Jiwa nya masih rapuh, hanya gara-gara hubungan kalian. Ia pun terlalu membawanya ke dalam batin, membuatnya sakits-sakitan dan akhirnya meninggal."


" Astaga, Rumit," sesal Dev dengan masa lalu peliknya.


"Oh, ya. Aku mengerti sekarang." jawab Ray.


"Katanya, Dev sedang jatuh cinta. Ia bilang begitu setelah pulang dari kampung itu. Tapi, Dia begitu tertutup masalah hati." imbuh Sam.


Ray hanya tersenyum, karena Ia tahu siapa yang Sam maksud. Tapi, Ia memilih diam untuk tak menambah panas keadaan.


"Setidaknya, dia masih orang kepercayaanmu. Jangan pernah kau ragukan." ucap Sam lagi.


Rayan hanya mengangguk-angguk kan kepalanya. Memang setia selama ini, tapi kali ini adalah masalah hati. Dan tampaknya, Dev adalah orang yang tak gampang menyerah dengan mau nya.


" Kalian sama-sama di besarkan oleh Mama tiri. Mama Aulia pun, begitu baik pada Dev. Tak seperti Mami mu. Aneh," lirih Sam. 


Rayan tertawa. Karena bukan hanya Ia yang merasakna itu. Jalan terbaik mengetahui bagaimana Ia, adalah dengan cara mengingat semuanya.


**


"Aida!" panggil Mami Bianca.


"Iya?" Aida segera menghampirinya dari lantai atas. "Kenapa?"


"Nih, gaun buat sahabatmu itu." Mami Bianca memberikan sebuah gaun berwarna putih, tapi begitu jadul. Entah, dari tahun berapa gaun itu ada.


"Ngga ada yang baru sedikit, Mam?"


"Yang kayak mana? Mending juga dikasih. Untung aja dia diajak, bersyukur." ledek Mami Bian.


"Baiklah. Makasih, Mam." jawab Aida. Ia pun membawa gaun itu ke kamar Mei.


"Gini amat?" tatap Mei. Bukan tak bersyukur, tapi memang tampak sangat jadul. "Mei ngga usah ikut deh, kalau gitu. Nanti, malah malu-maluin kalian."


Mei tampak begitu sedih. Karena memang, Ia tak enak hati jika datang dengan gaun itu.