Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Akulah, Dia.


"Selamat pagi, Mama..." sapa Aida dengan begitu ramah dan ceria, seolah tak ada beban dalam dirinya. Padahal, mereka melihat Aida sudah berpisah cukup lama dari Ray yang ada disana.


"Pagi, sayang...." balas Mama Lia, yang baru saja bangun dari tidurnya. "Kamu sudah mandi?"


"Belum. Mau bantu Mama mandi dulu," jawab Aida sembari mengikat rambutnya yang tergerai panjang. "Nanti kalau Mama udah beres, baru Aida mandi."


"Perhatian sekali kamu, Sayang. Terimakasih, ya. Ngga risih?"


"Aida Bidan, jadi udah terbiasa." jawabnya, sembari mengulur senyum indahnya yang menyejuk kan pagi.


Aida mulai menyiapkan air hangat, dan beberapa pakaian ganti untuk Mama Lia. Setelah itu, mulai membuka pakaian Mama Lia dan memandikannya dengan air hangat yang membuatnya nyaman. Menggosok bahunya, dan membersihkan kaki Mama Lia yang tampak keriput dan pucat itu. Ingin sekali rasanya, Aida mencium syurga nya yang ada di depan mata saat ini.


"Aku pernah membencimu. Tapi aku ingat, jika kau telah mempertaruhkan nyawa untuk membawaku lahir di dunia ini."


"Aida kenapa?" tanya Mama Lia, yang aneh melihat nya diam.


"Ngga papa, Ma. Cuma inget seseorang, kalau lihat Mama."


"Ya, kadang mama juga merasa inget seseorang ketika melihat Aida. Terasa familiar, tapi lupa."


"Kenapa lupa? Apa Mama pernah kecelakaan? Jadi Mama Amnesia, seperti Mas Rayan?"


"Engga... Mama ngga pernah kecelakaan, atau pun Amnesia seperti itu. Mungkin, faktor usia. Kalau pun iya, pasti dia sudah berubah. Sudah dewasa, dan cantik. Seperti kamu," cubit Mama Lia di pipi Aida yang cubby. Aida hanya membalasnya dengan senyum kecut. Karena yang di maksud Mama Lia memanglah dirinya.


" Sudah, nanti Mama kedinginan. Ngga bagus buat kesehatan. Abis ini, kita berjemur di depan. Aida, mandi sebentar...."


"Iya," angguk Mama Lia, yang memang sudah tampak segar dari biasanya. Tak lupa, Aida mengenakan nya pakaian yang bersih dan wangi. Merias wajahnya sedikit dengan bedak dan memakaikan nya lipstik merah merona.


"Nah, cantik deh." puji Aida.


"Ngga menor, cantik. Lebih seger, kelihatannya," puji Aida, dengan mengacungkan kedua jempolnya. Ia pun membawa Mama Lia ke teras depan, lalu meninggalkan nya sejenak.


"Hay, Ma..." Sapa Dev, yang sudah rapi dengan seragam kerjanya.


"Wow, Mama ku... Cantik sekali pagi ini. Tampak begitu segar, dan mempesona." puji Dev, lantas membuat Mama Lia tersipu malu.


"Kerjaan Aida, ini. Kamu, ngga sarapan dulu?"


"Engga, langsung mau ke kantor aja. Banyak urusan yang harus Dev kerjakan. Setelah itu, akan Dev alihkan pada Mona untuk membawa nya ke Rayan."


"Kamu, sudah kehilangan muka?"


"Hah... Karena apa? Karena membawa Aida?"


"Jelas. Istri orang kamu bawa kemari. Apa kata orang, nanti. Sepupu mu, itu."


"Yang perlu Mama tahu. Bahwa Aida lah yang menyerahkan diri pada Dev, ketika Dev meminta Mei."


Ucapan itu membuat Mama Lia mengerti dan sadar, apa maksud Aida datang kemari sekian lama.


"Memang cerdas, kamu." kagumnya dalam hati.


Dev pun pergi setelah mengecup kening sang Mama. Meski pergi, tanpa menatap Aida sebelumnya. Mama Lia kini hanya duduk dan diam, menyambut pagi dengan harumnya bunga yang Ia tanam sendiri di teras sana. Mereka mulai bermekaran, dengan warna yang begitu indah disana.


"Tak disangka, aku berhasil membesarkan sebuah bunga. Meski aku telah gagal menjadi seorang Ibu." sesalnya,