Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Jangan suka meremehkan orang,


"Ngapa ngatain Aida mesum?"


"Lah kamu kenapa, punya fikiran aneh-aneh?"


"Ya... Ngga aneh, ih. Aneh apanya, coba?"


"Bentang-bentangin punyaku buat apa? Senyam senyum sendiri. Apalagi kalau ngga kebayang aneh-aneh?" tanya Tono, yang tengah asyik dengan kunyahan di mulutnya.


Aida mencebik kesal. Tatapannya tampak fokus pada Sang suami yang bicara tanpa menatapnya. Ia memang meminta Tono untuk menjadi diri nya sendiri, dan tak boleh terlalu sungkan. Tapi, perubahannya begitu mencolok. Apalagi dengan sikapnya. Yang kemarin manis dan penurut, sekarang terasa menyebalkan bagi Aida.


"Ngeselin!" ucap Aida, kembali meninggalkannya disana.


"Mau kemana?"


"Mandi!"


"Mandi sendiri?"


"Au ah! Jangan nanya-nanya lagi."


***


"Mas, kamu sembunyiin sesuatu dari aku?" tanya Tante Rum, pada suaminya yang tengah fokus bekerja.


"Engga... Kenapa?"


"Darimana Aida dapat uang? Pake segala ambil ke ATM, Pula. Kamu kasih jatah ke dia, gitu? "


"Gaji ku aja, kamu yang pegang Rum. Bahkan aku ngga bisa kasih sedikitpun buat Ibu. Bagaimana aku kasih buat Aida. Dia juga kerja, wajarlah, punya uang."


"Seberapa, gaji relawan, Mas? Dapet tunjangan aja syukur, kok ngarep gaji."cibirnya, yang selalu mendapat bahan ketika membicarakan Aida.


" Jangan suka meremehkan orang, Rum. Kita ngga tahu, ke depannya bagaimana. "balas Om Edo, dengan nada datar. Ia memilih banyak diam, agar tetap dapat fokus pada gambarnya. Daripada, harus meladeni sang istri yang selalu tak bisa diam.


Akhirnya, Tante Rum pun meninggalkan Ia dengan hentakan kaki kesal nya. Dengan bibir manyunya yang bergerak ke setiap sudut wajah berkerutnya.


"Ngga usah ambekan, makin cepet tua nanti." ledek Om Edo dengan tatapan fokus ke depan kanvasnya.


***


Tono duduk di teras rumah, menemani Nek Mis yang tengah memotong sayuran untuk esok hari. Sang Nenek bercerita dengan begitu seru, mengenai zaman ketika Ia muda dulu. Ketika Nek Mis sempat menjadi primadona di kampungnya. Tono kagum, dan sesekali tertawa mendengarnya.


"Kamu ngga percaya?" tanya Nek Mis.


"Percaya, Nek. Masih kelihatan, kalau Nenek itu cantik. Awet muda, rupanya." puji Tono, membuat Nek Mis tersipu malau. Bahakan, tak segan melempar tubuh Tono dengan seikat bayam yang Ia genggam.


Entah, hari ini udara begitu dingin rasanya, hinga tubuh Tono terasa menggigil. Padahal, biasanya selalu berkeringat hingga ke pelipisnya.


"Kamu kenapa, Tono?"


"Hmm? Ngga papa, Nek. Hanya, serasa sangat dingin hari ini.".


"Ya, air sedang pasang."


"Oh, begitu. Jadi, air kalau pasang itu, malam hari?"


"Iya, begitu lah. Kenapa?"


"Nek, apa mungkin aku terombang ambing di lautan ketika pasang. Hingga aku, dibawa kemari oleh lautan?"


"Ya, secara logika, memang begitu." Nek Mis membereskan bahan-bahannya, dan membawa kedalam.


"Masuklah, nanti kamu masuk angin."


"Iya, Nek." jawab Tono. Di dalam, Ia mencari-cari Aida yang biasanya duduk menonton tv. Tapi, kali ini tak Ia temukan. Ia lalu masuk ke kamar, untuk menemuinya yang hanya diam daritadi.


"Nur, kamu belum tidur? Kenapa main Hp terus?"


"Belum bisa tidur. Lagi ada kerjaan." jawabnya yang fokus ke layar Hp.


Aida telah dengan piyamanya. Rambutnya pun telah di gulung, seperti biasa ketika akan tidur. Tampak asal sebenarnya, tapi justru menunjukkan kesan seksi. Apalagi, ketika lehernya yang jenjang itu tampak jelas di mata Tono.


"Aku tidur dimana?"


"Lah, disini aja, ngga papa. Aida udah bentangin selimut, sama buat pembatas kita." jawab  Aida dengan santai.


Tono berbaring, tapi Ia belum dapat terlelap juga. Rasanya begitu gelisah, meski harusnya dingin membuatnya nyaman dengan selimut tebalnya. Aida hanya memperhatikan, enggan bertanya jika bukan Tono sendiri yang bercerita kali ini.


"Lampunya matiin aja, Aida ngga papa kok."


"Engga, ehmmm... Nur?"


"Ya, Mas Tono?"


"Dada ku, belakangan sering sesak. Kadang mengik hanya karena sedikit debu. Apalagi, debu proyek." curhatnya.


"Mas kemarin itu hipotermia. Mungkin itu yang membuat sering sesak. Rajin-rajin pakai masker aja dulu. Besok, Nur ajak periksa ke Rumah sakit, ya."


"Iya, Nur. Terimakasih." jawab Tono, yang kemudian berbaring memejamkan matanya.