
"Ai, ngga nyangaka aku, kalau rumah Mas Tono segede ini. Ini bukan rumah, Ai. Tapi istana." Mei tak hentinya mengagumi tempat barunya itu. Bahkan, satu kamar yang Ia tempati, sebesar rumah Ibu nya di kampung.
"Aku juga ngga nyangka, Mei. Tapi, pasti selalu ada yang membuat tak nyaman, dimanapun lingkungan nya."
"Maksudnya, Tante yang tadi? Yang menor itu?" tanya Mei, dan Mami Bianca yang Ia maksud. Aida pun mengangguk, lalu memeluk kedua lututnya bersandar ranjang Mei. Memang tak seluas ranjang kamarnya dan Rayan, tapi begitu nyaman.
"Ai... Ngga usah takut. Ada Mei disini. Dan yang penting Mas Tono, eh Mas Rayan maksudnya. Dia akan bela Ai sekuat tenaga. Ngga usah di raguin lagi," usap Mei, di rambut lembut Aida yang juga begitu wangi.
Curahan hati terhenti sejenak. Aida menceritakan tentang Dev padanya. Ia yang baru mengetahi, jika Dev juga sepupu Rayan. Tapi, kenapa mereka tak pernah bertemu selama ini.
" Mereka tuh deket, deket banget malahan." gemas Aida.
"Ya, gimana? Nyatanya takdir belum mempertemukan mereka. Mau Lima centi lagi, juga ngga akan ketemu." balas Mei. "Yaudah, Ai balik kamar aja. Nanti Mas nunggu. Mei mau istirahat, capek banget."
"Iya, istirahat lah." balas Aida, lalu turun dan kembali ke kamarnya.
"Mas kemana? Kenapa belum masuk ke kamar? Katanya rindu." gumam Aida, lalu melangkah kan kaki menuju ranjang.
Ia telah mengganti pakaian nya dengan sebuah lingerie hitam. Dengan lengan tipis dan bahan yang begitu lembut dan nyaman di pakai. Entah siapa yang iseng, ataupun sengaja membelikan itu untuknya. Yang jelas, ada di dalam tas pakaian yang Mona belikan untuknya.
Pintu terbuka. Aida yang tadinya telah memejamkan mata, mendadak terbangun.
"Hey, kau bangun? Maaf, telah mengganggu istirahatmu." Ray menghampirinya.
"Maaf. Aku baru saja mengunjungi Perpustakaan. Aku, hanya ingin mendapat info mengenai semuanya. Aku tersiksa, Nur."
"Mas, masih suka mimpi buruk?" tanya Aida, dan Rayan hanya mengangguk menjawabnya.
"Sini, Aida peluk." tawarnya, dengan merentangkan tangan. Rayan merayap menghampiri sang istri. Jatuh ke dalam pelukan hangatnya, dengan usapan lembut di kepalanya.
Rayan menikmati semuanya. Ia memejamkan mata, sembari sesekali menyesap ceruk leher Aida. Tak terjadi apapun, Aida hanya menikmatinya dengan tertawa kecil ditengah manja nya sang suami. Mereka pun tidur. Bersama, di tengah malam yang gelap itu. Rayan menggenggam tangan Aida dengan erat. Menetralkan segala rasa takutnya akan mimpi yang mungkin kembali datang.
Menakutkan. Meski mimpi itu sendiri berfungsi mengasah kepala Rayan dengan segala ingatannya.
"Memang salah aku, Ray. Salahku, karena memisahkan yang harusnya bersatu. Aku... Hanya ingin melindungi kalian." gumam Sam di dalam kamarnya.
Untung saja, semua nya tak terlambat. Aida masih bisa selamat dari pernikahan jahat itu. Dan Sam tak perduli, apa yang trjadi disana. Yang jelas, beban itu terasa ringan setelah Rayan kembali.
*
Pagi hari tampak tegang. Semua yang tinggal di rumah itu, tengah duduk di kursi masing-masing diruang makan. Semua pelayan pun melayani dengan baik, apalagi dengan Aida, Nyonya baru mereka. Tak segan, Aida pun melayani Rayan seperti biasanya mereka.
"Disini sudah banyak pelayan. Kau tak perlu cari muka melayani Rayan. Tak pernah kurang, apa yang mereka berikan untuk Tuan nya." ucap Sinis Mami Bianca.
"Dan Aida, hanya memberi pelayanan untuk suami Aida. Sebagaimana mestinya, sesuai yang harus dilakukan dalam anjuran agama." jawab Aida dengan begitu tenang dan santai.