
"Nur, aku tak akan pernah meninggalkanmu. Meskipun iya, itu hanya sementara."
"Tetap saja, Mas akan ninggalin Aida. Itu kenyataannya. Semuanya pergi. Nenek, Ayah, dan sekarang Mas Tono. Siapa yang akan nemenin Aida sekarang?" tukasnya. Ia melepas pelukan Tono, dan berjalan tanpa arah meninggalkannya.
"Hey, tenang dulu," tariknya pada lengan Aida.
"Tenang, okey. Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Itu janjiku. Aku hanya pergi sebentar. Aku akan menjalani pengobatan di Rumah sakit yang lebih lengkap alatnya. Semua terapy, akan aku jalani dengan baik, agar aku segera sembuh." bujuknya.
Tangan Tono mengusap air mata Aida dengan begitu lembut. Dengan tatapan yang penuh dengan rasa cinta pada istrinya itu.
" Aku ingin membawamu. Tapi, Sam bilang suasana belum kondusif. Disana masih begitu banyak urusan yang harus aku selesaikan. Setelah itu, aku akan menjemputmu untuk tinggal bersama. Membawamu, menuruti semua yang kamu mau."
"Aida ngga percaya. Dulu ayah juga bilang gitu, sebelum pergi." sergah Aida.
"Aku Tono, aku suamimu. Masih tak percaya padaku?" tatapnya tajam. "Sebutkan apa yang Nur mau, aku akan memenuhinya sekarang."
"Ngga mau apa-apa, cuma pengen Mas cepet balik. Aida udah terlanjur ngga bisa ditinggal lama-lama." rengek Aida dalam tatapan sendunya.
Berat, dan memang Tono akui sangat berat. Mereka sudah mulai menumbuhkan rasa, tapi harus berpisah untuk sementara. Tapi kembali lagi, Sam benar. Jika suasana masih begitu menegangkan di perusahaan, maka Ia masih harus melindungi Aida. Dan caranya, adalah meninggalkannya sementara disini.
"Aku hanya sebentar, aku janji." ucap Tono, mendekatkan dahi mereka dengan menekan tengkuk Aida. Belum pergi satu langkah pun, tapi seolah mereka telah di hantui rasa rindu yang menggebu.
"Mereka menungguku. Mereka mencariku selama ini. Aku memiliki tanggung jawab yang begitu besar disana, Nur. Semua memerlukan ku."
"Aida juga, Mas. Sakit hati Aida begini."
"Maaf, seribu maaf untukmu. Aku akan kembali, membawamu. Sesuai janjiku."
"Pergilah. Bukankah, semua orang menunggumu?" ucapnya, melepas tangan Tono dari rahangnya.
"Nur, jangan begini. Kau menyiksaku." mohon Tono.
"Jika di tahan, Aida akan semakin berat untuk melepaskan. Pergilah," ucap Aida, tanpa mau lagi menatap wajah suaminya. Tentu saja, terlalu berat untuk saat ini.
Tono berdiri. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, dan Aida duduk diam di kursinya. Tono menghela nafas dengan begitu panjang, lalu perlahan melangkah pergi meninggalkan Aida.
"Aku pergi," pamit Tono lagi, ketika telah sampai di depan pintu dan memegang handle untuk membukanya.
"Iya," jawab Aida tanpa menoleh.
Tono menghela nafas sekali lagi. Ia memutar tubuhnya lalu kembali menghampiri Aida di tempatnya. Ia datang lalu membungkuk, meraih dagu Aida dan menyergap bibirnya dengan brutal. Aida hanya menghela nafas terkejut, memcengkram bahu kursi dan menerima semua yang Tono berikan padanya.
"Kenapa tak mencegahku?" tanya Tono, menghentikan sejenak aksinya.
"Mencintai bukan berarti menahanmu. Tapi, harus bisa memutuskan apa yang terbaik buat kamu, Mas." jawab Aida.
Tono begitu gemas. Ia meraih tubuh Aida dan mengangkatnya sedikit, membawanya duduk di meja agar sejajar. Aida tak diam saja. Ia menyesuaikan, dengan mengalungkan lengan di leher suaminya. Melentik kan sedikit tubunya kebelakang, dan membawa aktifitas mereka semakin dalam.
Kreeek! Mei membuka pintu.
"Ooppps! Sory," lirihnya. Menutup pintunya kembali, dan menguncinya dari luar.