
"Udah, ngga usah sedih. Kalau Dia serius, pasti akan perjuangkan kamu." tukas Aida, masih dengan segala rasa kesalnya.
"Ai kenapa sih? Kenapa judes gitu sama Kak Sam? Setiap orang punya salah, dan kita ngga berhak menghakimi dari sebelah pihak."
"Wah, luar biasa. Udah dewasa rupanya, adik kecilku ini?" puji Aida, dengan anggukan kepala kesekian kalinya. Tak terbayangkan, jika Mei sudah mulai bijak dalam bersikap.
"Iyalah, masa mau jadi anak kecil terus. Mei juga pengen dewasa, menikah dengan yang Mei sayang. Seperti Ai sama Mas Tono."
"Bisa ngga sih, berhenti panggil Tono? Jijik saya dengernya! Kampungan boleh kampungan. Ray memang pernah sama kalian. Tapi.... Aaasshh, kalian ini." Mami Bian mendadak muncul dibelakang mereka.
"Ada apa dengan orang kampung? Salah? Dosa? Atau haram?" tatap tajam Aida, melangkah mendekati Mami Bian.
"Kalau ngga karena Ray nyasar kesana, kalian ngga akan ketemu. Dan ngga mungkin terjebak pernikahan sama kamu!"
"Oh ya?" Mata Aida mendelik takjub, dengan tangan menutup mulutnya." Berarti, nyasar yang membawa berkah. Terus, apa kabar yang terus disini tanpa sadar diri?"
"Apa maksud kamu? Kamu nyindir saya? Saya ini Nyonya besar disni! Kamu ngga ada apa-apanya." tukas dan tunjuk Mami Bian, ditangkap oleh Aida dengan menggenggamnya erat.
"Satu istana, hanya memiliki satu Ratu. Dan Ratu, akan selalu ada didekat sang Raja. Siapa rajanya? Apakaah boleh, seorang Ibu suri bertindak ratu?" tatap Aida, dengan senyum genitnya.
Mami Bian mengerti maksudnya. Meski Ia taj faham, bagaimana Aida mendapat kata-kata itu. Kata-kata yang selalu Ia agung kan sebagai penguasa di istana itu, dan tak pernah ingin ada yang menggantikan. Ia menepis tangan Aida yang mencengkramnya, lalu pergi. Pergi naik ke kamarnya tanpa mau menoleh lagi ke belakang dan berlari seperti tengah di kejar para musuh nya.
"Ai, kenapa sih?" tanya Mei, terheran dengan perdebatan kolosal itu.
"Apa?" tanya Aida.
"Ai serem."
"Hah?" Mei mencondongkan wajahnya ke depan. Matanya di penuhi oleh tanda tanya besar akan kepolosannya. Lupa, jika Ia ingin menjadi dewasa.
***
Sam telah siap. Ia benar-benar siap untuk kembali memohon dan bersimpuh pada Dev. Ia tak perduli, jika Dev akan menghajarnya habis-habisan hari ini. Ia akan bersimpuh, bahkan mencium lututnya hari ini.
"Kenapa?" tanya Dev, datar. Pasalnya, Ia sudah akan lupa seiring berjalannya waktu. Namun, Sam justru datang lagi, seolah membuka luka yang bahkan belum kering.
Sam turun dari Sofa nya, lalu bertekuk lutut di hadapan Dev. "Dengan apa aku menebus dosaku?"
"Untuk apa? Menginginkanmu mati pun, tak akan bisa mengembalikan Fany untukku." ucap Dev.
"Ku dengar, kau ingin menikah dengan Mei?"
"Iya, Dev. Aku ingin meminta restu mu." balas Sam, masih berlutut di sana.
"Dengan mudahnya, semua mendapatkan ganti dari segala rasa kecewanya. Lalu, bagaimana dengan Aku? Aku yang lebih sakit, itu adik kandungku!" pekinya kuat.
"Dengan mudahnya kalian bisa bangkit. Bagaimana Mama ku, yang bahkan nyaris demensia dengan kepergian Fany, Sam?" Dev kembali terfikir oleh Mama nya, yang memang sempat depresi pasca kepergian sang putri.
"Kau, bukan kah sudah menganggap Mei sebagai adikmu? Aida juga. Dev, tak ada yang menginginkan kepergian Fany. Apalagi aku," tutur Sam, dengan segala sesal dalam hatinya.
"Dev, kenapa begini? Mama kecewa kalau sampai Dev menyiksa orang lain, hanya demi Fany." Mama Lia datang, dengan segala nasehat untuk sang putra.