
"Ada apa, Tante memanggil kami?" tanya Dev, yang datang bersama Mona.
Mereka langsung duduk berdua, menghadap Mami Bianca yang tengah merenung dan menggigiti jarinya. Entah apa yang difikirnya, hingga tampak begitu kacau saat ini.
"Kau tahu, Rayan sudah menikah?" tanya nya datar, tanpa menengok Dev mau pun Mona.
"Ehmm, tahu sih." jawab Dev, dengan menggaruk kepalanya.
Buggh! Mami Bianca secara spontan melempar bantal sofa yang Ia peluk pada Dev.
"Kenapa ngga ada yang bilang? Kenapa ngga ada ngomong ke Tante? Secara mendadak, Rayan bawa wanita itu kemari. Sengaja, hah? Sengaja!" amuknya.
"Memang kenapa? Apa salah, kalau Rayan menikah dan membawa istrinya kerumah ini? Mereka sudah sah. Apa salahnya?"
"Salah!" sergah Mami Bian pada Dev. "Rayan itu sempurna. Dia ngga boleh asal memilih istri. Apalagi wanita kampung seperti itu. Ngga tahu, bagaimana asal usul keluarganya."
"Nyonya Nur adalah yang merawat Tuan Ray selama Ia sakit. Ayahnya sudah meninggal, dan Ibunya pergi ketika Ia masih kecil. Sedangkan Neneknya, baru saja meninggal Satu bulan yang lalu." jelas Mona dengan cepat..
"Nur? Namanya saja kampungan. Astaga! Ibunya? Ibunya pergi. Kabur dari Ayahnya?"
"Ya, menurut yang saya tahu." timpalnya lagi.
"Ngga jelas. Bener-bener ngga jelas. Ngga bisa begini,"
"Apanya yang ngga bisa, Mam?" tanya Rayan, yang turun menggandeng Aida di sampingnya.
Langkah kaki mereka beriringan, menuruni anak tangga satu persatu menghampiri ketiga nya di sofa. Mona langsung berdiri, dan memberi hormat pada keduanya. Dev pun mengikutinya, tapi terhenti ketika menatap siapa yang Dev bawa.
"Aida?" lirihnya begitu kaget.
Dev masih disana. Dikursinya dan menatap Aida dengan sejuta tanya dihatinya.
"Apa yang ngga bisa? Rayan dengan Nur Aida?" tanya Rayan lagi.
"Kalian tak sepadan. Tidak bisa di satukan." jawab Mami Bianca.
"Dari sisi mana? Karena Rayan adalah orang berada?" tanya Rayan lagi. "Bagaimana, jika Nur hanya tahu Tono? Pria miskin Amnesia yang Ia tolong dan Ia rawat selama ini?"
"Balas budi? Membalas budi seseorang, tak harus dengan menikahinya. Itu tandanya kamu terpaksa."
Mereka berdebat. Aida hanya bisa diam dengan segala rasa takutnya, sedang Dev masih setia menatapnya tanpa mengedipkan mata. Masih terpesona, akan Aida yang memang selalu dapat menggetarkan hatinya.
" Kenapa harus kau, Aida? "fikirnya berat. Baru saja menambatkan hati dan memulai dengan harapan baru. Tapi, sudah harus hancur tanpa pernah bisa Ia miliki meski sebentar.
"Mau Mami setuju, ataupun tidak. Nur Aida itu Istri Rayan. Istri sah, meski masih siri. Kami akan meresmi kan nya, nanti." ucap Rayan dengan tegas.
Mami Bianca tak berkata apapun lagi ia berdiri dengan wajah sengitnya. Menatap Aida semakin tajam bagai sebuah senapan mengintai dengan satu titik sasaran. Aida yang awalnya takut, kali ini mencoba tegak menatapnya. Tak kalah tajam, membuat Mami Bianca langsung membuang muka dan berjalan cepat meninggalkan mereka.
"Aida?" panggil Dev, lembut.
"Mas, Dev? Kenapa disini?"
"Tuan Dev adalah sepupu Tuan Rayan. Sama seperti Tuan Sam. Beliau di kantor, sebagai Manager keuangan kami."
"Kita bahkan bertemu beberapa kali. Tapi... Kenapa masih juga tak bertemu, jika Ray adalah suamimu?" sesaknya.